Banghas

Kota Salem dan Orang Kaya dari Aceh

1740
×

Kota Salem dan Orang Kaya dari Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Po Adam, Orang Kaya dari Aceh di Lambang Kota Salem, Amerika Serikat. (AI)

Sebuah surat bersampul resmi melintasi benua dan samudra, menuju negeri jauh di utara. Surat itu datang dari Banda Aceh—ditandatangani oleh Gubernur Muzakir Manaf alias Mualem—dan ditujukan kepada Gubernur Massachusetts, Maura Healey, serta Wali Kota Salem. Isinya bukan permintaan biasa. Ia memuat seruan lembut namun tegas: agar Kota Salem menjaga sebuah lambang tua, gambar seorang pria berjubah panjang dan bersorban merah, yang berdiri anggun di bawah payung kehormatan.

Bagi banyak orang, itu sekadar ornamen kuno. Namun bagi Aceh, itu adalah jejak sejarah. Sebuah potret diam dari zaman ketika Samudra menjadi jalan raya dunia, dan Salem—kota kecil di Amerika—pernah berlabuh hormat di pelabuhan-pelabuhan Kesultanan Aceh.

Ketika Salem Menyapa Dunia

Abad ke-18 dan ke-19 adalah masa di mana dunia dijahit oleh jalur laut dan benang-benang perdagangan. Salem bukanlah kota besar, tetapi ia adalah jantung dari kapal-kapal pemberani yang berlayar jauh ke negeri-negeri asing. Dari dermaganya yang bersalju, kapal-kapal seperti Friendship of Salem menembus samudra, mencari kekayaan dunia Timur: teh dari Tiongkok, sutra dari Bengal, kopi dari Mocha, dan tentu saja—rempah-rempah dari Kepulauan Nusantara.

Di antara pelabuhan-pelabuhan itu, ada satu yang disebut dengan penuh hormat dan rasa kagum: Aceh, negeri di ujung barat Sumatra.

Po Adam dalam Lambang Salem

Coba lihat lambang resmi Kota Salem. Di sana, berdiri seorang lelaki berjubah panjang ungu, sorban merah tersampir di kepala, berdiri di bawah payung kehormatan. Di belakangnya, kapal dagang berlayar tenang, pohon kelapa melambai, dan bunga-bunga tropis bermekaran. Di bawahnya, tertera frasa Latin:

> Divitis Indiae usque ad ultimum sinum
(“Kekayaan India hingga ke teluk yang paling jauh”)

Siapakah lelaki itu? Ia bukan penyihir, bukan pelaut, bukan warga Salem. Ia adalah citra dari Timur, mewakili bangsawan dagang dari dunia yang jauh. Beberapa sejarawan meyakini ia adalah penggambaran dari “The Prince of Sumatra”, atau lebih tepatnya, sosok pedagang kaya dari Kesultanan Aceh.

Namanya tak tertulis, tapi dalam bisik sejarah yang dikumpulkan dari jurnal pelaut, muncul satu nama: Po Adam—seorang saudagar agung dari Aceh. Ia tak hanya berdagang, tapi menjadi simbol peradaban, keanggunan, dan kekayaan Timur yang membuat Salem terpukau.

Dalam jurnal para kapten kapal, Aceh digambarkan sebagai negeri penuh kemegahan, dengan istana sultan yang menjulang dan adat yang kuat.

Sultan Aceh kala itu, dikenal tegas tapi terbuka: menyambut para pedagang asing dengan kehormatan, selama mereka tahu bagaimana bersikap. Upacara penyambutan yang penuh simbolisme, jamuan dengan aroma rempah, dan negosiasi yang menguji kesabaran, menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para pelaut Salem.

Tak heran jika Salem, dalam lambangnya, tidak melukis diri mereka sendiri. Mereka melukis yang mereka kagumi: sang pedagang dari Timur.

Ironisnya, banyak orang Aceh sendiri tak tahu—bahwa wajah mereka, gaya hidup mereka, bahkan simbol kehormatan seperti payung kebesaran, diabadikan ribuan kilometer jauhnya, di negeri yang bahkan belum merdeka ketika Kesultanan Aceh sudah berjaya.

Sebuah Cermin dari Seberang Laut

Kisah Salem dan orang kaya Aceh adalah sepotong mozaik dalam sejarah global yang sering terlupakan. Tapi ia penting—karena ia menunjukkan bahwa sebelum internet, sebelum pesawat, sebelum globalisasi modern, sudah ada globalisasi rempah. Dan di jantungnya, berdiri pelabuhan-pelabuhan Nusantara, dengan Aceh sebagai salah satu bintang terangnya.

Di sana, di Amerika yang jauh, berdiri sebuah kota kecil yang menyimpan kenangan besar tentang Timur. Dan di tengah lambangnya, berdiri Po Adam, saudagar Aceh, menyapa dunia dari balik sejarah yang nyaris dilupakan.

“Karena sejarah yang besar, seringkali tersembunyi dalam simbol-simbol kecil yang tak kita perhatikan.”
(Hasnanda Putra)