posacem.com, Jakarta – Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuduh Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertanggung jawab atas kematian warga yang terjadi selama gelombang protes di negara tersebut.
Kelompok hak asasi manusia (HAM) di Amerika Serikat, HRANA, menjadi salah satu lembaga paling aktif dalam melaporkan korban tewas di unjuk rasa Iran.
Sejak akhir Desember, Iran membara karena gelombang demonstrasi. Menurut pemberitaan media pemerintah, fasilitas sipil hingga pertokoan terbakar dalam demo itu.
Menurut laporan media dan lembaga pemantau HAM, korban tewas selama demonstrasi berlangsung telah mencapai lebih dari 3.000 orang.
Selain itu, intelijen Israel memperkirakan sekitar 5.000 orang tewas, sementara media Iran International yang berbasis di Inggris menyebut korban tembus lebih dari 12.000 jiwa.
Namun hingga kini, CNN Indonesia belum memperoleh data pembanding terkait jumlah korban tewas dari media resmi Iran seperti IRNA, Mehr News, dan Fars.
Hal itu disebabkan akses internet di Iran masih terputus total sehingga laman media-media tersebut tidak dapat diakses.
Para pedemo memprotes inflasi yang melangit hingga meminta pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mundur.
Namun, pemerintah dilaporkan menggunakan kekuatan berlebih dalam menangani demonstran hingga memutus internet skala nasional.
Khamenei juga menuding demo itu ada campur tangan Amerika Serikat. Di sisi yang lain, Presiden Donald Trump terus memprovokasi rakyat Iran untuk melakukan demo dan merebut kebebasan.(Mun/*)











