Pemkab Aceh Besar

Ketua Dekranasda Aceh Besar Rita Mayasari Perkenalkan Budaya dan Identitas Daerah Lewat Batik Malaka

23
Ketua Dekranasda Aceh Besar, Hj Rita Mayasari memperlihatkan batik malaka di Galeri Dekranasda Aceh saat berlangsungnya Rakerda Dekranasda Aceh, di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (12/9/2026). FOTO/ M HERIZAL

posaceh.com, Banda Aceh — Sehelai batik dapat menjadi lebih dari sekadar busana. Di balik motif dan coraknya, tersimpan cerita tentang budaya, kreativitas, serta identitas sebuah daerah.

Pesan itulah yang diperlihatkan Ketua Dekranasda Aceh Besar, Hj Rita Mayasari, saat mengenakan Batik Malaka ketika tampil sebagai narasumber pada Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dekranasda Aceh, di Galeri Dekranasda Aceh, Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (12/9/2026).

Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kerajinan daerah sekaligus menunjukkan bahwa batik juga memiliki ruang strategis dalam mempromosikan kekayaan budaya Aceh Besar.

Dengan mengenakan Batik Malaka dalam forum yang mempertemukan para pelaku dan penggerak kerajinan daerah, Rita Mayasari membawa identitas Aceh Besar ke ruang yang lebih luas.

Batik tidak hanya dipandang sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai karya budaya yang dapat dikenalkan melalui berbagai kesempatan.

Rakerda Dekranasda Aceh itu dihadiri seluruh Ketua Dekranasda kabupaten/kota se-Aceh. Pertemuan tersebut menjadi ruang penting untuk mempererat sinergi dalam pengembangan kerajinan dan industri kreatif di masing-masing daerah.

Ketua Dekranasda Aceh Besar Rita Mayasari menilai pengembangan batik menjadi salah satu bagian dari upaya

Ketua Dekranasda Aceh Besar, Hj Rita Mayasari, mengenakan Batik Malaka foto bersama usa menjadi narasumber pada Rakerda Dekranasda Aceh di Galeri Dekranasda Aceh, Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (12/9/2026). FOTO/ M HERIZAL

produk kerajinan lokal agar semakin dikenal nasional bahkan global.

 

Kreativitas perajin dalam mengolah motif, corak, warna, dan desain menjadi modal penting untuk menjadikan batik sebagai produk yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi.

Rita Mayasari melalui kehadirannya dalam forum tersebut turut menunjukkan pentingnya memberikan ruang bagi karya perajin lokal untuk tampil dalam agenda resmi.

Semakin sering produk daerah digunakan dan diperkenalkan, semakin besar pula peluang masyarakat mengenal dan menghargai karya tersebut.

“Menyoe na ata droe kepeu ata gop,” kata Rita, yang artinya “Kalau ada milik sendiri untuk apa punya orang.”

Batik juga menjadi cara sederhana untuk membawa identitas daerah ke luar batas wilayah. Ketika dikenakan dalam sebuah forum resmi bersama para Ketua Dekranasda se-Aceh, kain bercorak tersebut tidak hanya menjadi bagian dari penampilan, tetapi turut menyampaikan pesan tentang keberadaan, karakter, dan kekayaan budaya Aceh Besar.

Di tengah perkembangan industri fesyen dan ekonomi kreatif, pelestarian budaya dituntut berjalan beriringan dengan inovasi. Produk tradisional perlu terus dikembangkan agar mampu mengikuti selera zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

Karena itu, batik daerah memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari promosi budaya sekaligus penguatan ekonomi kreatif.

“Di tangan para perajin, kekayaan budaya dapat diolah menjadi karya yang bernilai, sementara melalui promosi yang berkelanjutan, produk tersebut dapat menjangkau pasar yang lebih luas,” ungkappnya.

Kehadiran Rita Mayasari dalam Rakerda Dekranasda Aceh dengan mengenakan batik Aceh Besar itu menjadi gambaran bahwa kecintaan terhadap budaya dapat ditunjukkan melalui langkah sederhana, tetapi memiliki pesan penting.

Dari sehelai kain, Aceh Besar memperkenalkan identitasnya kepada khalayak tentang budaya yang terus dijaga, kreativitas yang terus tumbuh, dan karya masyarakat yang layak mendapat tempat di ruang yang lebih luas.(Zal)

Exit mobile version