Pemkab Aceh Besar

Ketua Dekranasda Aceh Besar Paparkan Program Kerja Dekranasda dan Potensi Kerajinan Daerah

22
×

Ketua Dekranasda Aceh Besar Paparkan Program Kerja Dekranasda dan Potensi Kerajinan Daerah

Sebarkan artikel ini
Ketua Dekranasda Aceh Besar, Hj Rita Mayasari, memaparkan program kerja dan potensi kerajinan daerah dalam Rakerda Dekranasda Kabupaten/Kota se-Aceh di Galeri Dekranasda Aceh, Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (13/9/2026). FOTO/ ROJA

posaceh.com, Banda Aceh — Kerajinan daerah bukan sekadar produk yang lahir dari keterampilan tangan. Di dalamnya terdapat cerita, tradisi, identitas, sekaligus peluang ekonomi yang dapat dikembangkan untuk mengangkat nama daerah ke tingkat yang lebih luas.

Semangat itu menjadi bagian dari paparan Ketua Dekranasda Aceh Besar, Hj Rita Mayasari, dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dekranasda Kabupaten/Kota se-Aceh yang berlangsung di Galeri Dekranasda Aceh, Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (13/9/2026).

Mengusung semangat “Menggali Potensi Lokal Mewujudkan Perajin Mendunia”, Rita Mayasari memaparkan arah program kerja Dekranasda Aceh Besar sekaligus memperkenalkan beragam potensi kerajinan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Di hadapan para Ketua Dekranasda kabupaten/kota se-Aceh, ia menempatkan pengembangan perajin dan produk lokal sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budaya sekaligus memperluas peluang ekonomi kreatif.

Tiga pilar utama menjadi fondasi program kerja Dekranasda Aceh Besar, yakni peningkatan kapasitas perajin, perluasan akses pasar, serta pelestarian dan inovasi.

Ketiga pilar tersebut saling berkaitan. Peningkatan kemampuan perajin menjadi modal untuk menghasilkan karya yang semakin berkualitas, sementara akses pasar dibutuhkan agar produk tidak berhenti sebagai karya lokal.

Suasana acara Rakerda Dekranasda Kabupaten/Kota se-Aceh yang dihadiri para Ketua Dekranasda kabupaten/kota se-Aceh di Galeri Dekranasda Aceh, Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (13/9/2026).
FOTO/ ROJA

Pada saat yang sama, ia menjelaskan bahwa inovasi sangat diperlukan agar kerajinan tetap berkembang tanpa kehilangan akar budayanya di tengah kondisi perkembangan zaman saat ini.

Dalam paparannya, Rita juga mengangkat sejumlah potensi unggulan kerajinan Aceh Besar yang memiliki nilai budaya dan ekonomi. Di antaranya bordiran, songket, sulaman kasab, rencong, anyaman lontar, gerabah, serta batik.

Beragam kerajinan tersebut menunjukkan bahwa kekayaan budaya Aceh Besar tidak hanya tersimpan dalam tradisi dan sejarah, tetapi juga hidup melalui kreativitas para perajin.

Setiap produk memiliki karakter masing-masing. Bordiran dan songket merepresentasikan keterampilan kriya yang diwariskan, sulaman kasab memperlihatkan kekayaan seni tekstil, sementara rencong menjadi salah satu simbol budaya Aceh yang memiliki nilai sejarah kuat.

Di sisi lain, anyaman lontar dan gerabah memperlihatkan bagaimana bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat diolah menjadi produk bernilai. Batik pun memiliki ruang untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari identitas dan ekspresi kreatif daerah.

“Karena itu, pengembangan kerajinan tidak cukup hanya dengan menjaga produk yang sudah ada. Dekranasda Aceh Besar juga mendorong penggalian potensi baru, sehingga semakin banyak sumber daya lokal yang dapat diolah menjadi produk kreatif dan memiliki daya saing,” ujarnya.

Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan ekosistem yang mendukung perajin, mulai dari peningkatan keterampilan, pembinaan, legalitas dan standardisasi produk, hingga promosi dan pemasaran.

Dengan demikian, perajin tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga memiliki kesiapan untuk membawa produknya menembus pasar yang lebih luas.

Forum Rakerda Dekranasda Aceh menjadi momentum penting untuk mempertemukan berbagai gagasan dan potensi kerajinan dari seluruh kabupaten/kota.

Masing-masing daerah membawa kekhasan budaya yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu menjadikan kerajinan daerah sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.(Zal)