DaerahPemkab Aceh Besar

Ketua Dekranasda Aceh Besar Hadiri Penutupan ACF 2026

25
×

Ketua Dekranasda Aceh Besar Hadiri Penutupan ACF 2026

Sebarkan artikel ini
Ketua Dekranasda Aceh Besar Hj Rita Mayasari menghadiri penutupan Aceh Culinary Festival (ACF) 2026, di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (13/9/2026). FOTO/ ROJA

posaceh.com, Banda Aceh – Ketua Dekranasda Kabupaten Aceh Besar Hj Rita Mayasari menghadiri penutupan Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 yang digelar Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (13/9/2026).

Penutupan ACF 2026 dilakukan Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi pelaksanaan festival tersebut dan berharap ACF terus digelar sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya serta kuliner Aceh kepada wisatawan.
“Apresiasi dan harapan kami, kegiatan seperti ini terus digelar untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner Aceh,” kata Ni Luh Puspa.

Menurutnya, ACF memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pengembangan gastronomi Wonderful Indonesia. Ia menilai kuliner tidak cukup hanya memiliki cita rasa, tetapi juga harus mampu menghadirkan cerita mengenai sejarah dan latar belakang lahirnya sebuah makanan.

“ACF harus menjadi bagian dari Wonderful Indonesia gastronomi. Kuliner itu tidak boleh hanya sekadar memiliki rasa, namun juga memiliki cerita bagaimana makanan itu bisa ada,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Hj Rita Mayasari mengapresiasi pelaksanaan ACF 2026 yang dinilainya menjadi ruang penting untuk memperkenalkan keberagaman kuliner Aceh sekaligus mengangkat nilai budaya dan tradisi yang melekat di balik setiap sajian.

Menurutnya, kuliner Aceh tidak hanya berbicara tentang rasa, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan perjalanan kehidupan masyarakat di masing-masing daerah.

“ACF ini sangat baik karena tidak hanya memperkenalkan makanan dari berbagai daerah di Aceh, tetapi juga mengangkat cerita, tradisi dan budaya yang ada di balik makanan tersebut. Ini yang harus terus kita jaga dan perkenalkan kepada generasi penerus,” ujar Hj Rita Mayasari.

Ia mengatakan, keberagaman kuliner yang ditampilkan dalam ACF menunjukkan bahwa Aceh memiliki kekayaan pangan dan tradisi yang sangat besar. Setiap kabupaten/kota memiliki sajian khas dengan cerita dan nilai budaya yang berbeda.

“Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Ada makanan yang berkaitan dengan kenduri, adat, tradisi masyarakat maupun sejarah daerah. Ini merupakan kekayaan Aceh yang sangat berharga,” tuturnya.

Hj Rita berharap kegiatan seperti ACF dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan karena selain menjadi sarana promosi budaya dan kuliner, kegiatan tersebut juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan dan mengembangkan produknya.

“Kita berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan semakin berkembang. Karena di dalamnya ada pelaku UMKM, komunitas dan masyarakat yang ikut bergerak. Jadi dampaknya bukan hanya terhadap pariwisata, tetapi juga terhadap perekonomian masyarakat,” imbuhnya.(Why)