posaceh.com, Banda Aceh – Para dedengkot sepakbola Aceh Besar sempat berkumpul di Lapangan Meunasah Baet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar untuk melihat latihan tim PSAB pada Senin (3/11/2025) sore.
Satu persatu dari mereka hadir, mulai dari Sekretaris PSAB, Syarizal alias Yahpi yang dikenal luas di kalangan pemangku kepentingan di Asprov PSSI Aceh, kemudian Musliadi sebagai pengurus sepakbola dan Imam Munandar yang menjadi bagian dari PSAB serta Umaidin yang diketahui dekat dengan Plt Ketua Umum PSSI Aceh Besar, serta terakhir Manajer PSAB, Wahyu ‘Al-Yunirun’.
Dari mereka ini, Yahpi paling getol membahas berbagai fenomena atas sejumlah turnamen sepakbola di Aceh Besar, khususnya turnamen sepakbola yang harus ditunda karena berbagai hal.
Begitu juga dengan Musliadi yang juga menyoroti berbagai hal dalam turnamen sepakbola dengan berbagai permasalahannya. Kedua pria ini yang diketahui getol dalam memperjuangkan perkembangan sepakbola di Aceh Besar saling bersahaja, walau pro-kontra terhadap sebuah turnamen sepakbola.
Tidak ketinggalan, Imam Munandar yang dikenal tegas dalam menangani sejumlah persoalan yang muncul dari kalangan pengurus sepakbola, terutama wasit yang menjadi pemimpin di lapangan.
Imam mengaku tidak habis pikir dengan persoalan wasit di Aceh Besar, seperti menolak memimpin pertandingan setelah rekannya menjadi korban dalam sebuah turnamen sepakbola.

Dia menjelaskan jika terjadi sebuah insiden di lapangan, wasit lain seharusnya tetap bersedia memimpin pertandingan sepakbola, karena persoalan wasit sudah ada yang menanganinya, seusai aturan PSSI.
Dikatakan, jika hal itu terus terjadi, maka akan merusak citra sebuah turnamen, bahkan dapat mengganggu jadwal yang telah ditentukan pihak panitia turnamen, sekaligus merugikan tim yang sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk bertanding.
Sedangkan Musliadi menyoroti pentingnya pengelolaan turnamen sepakbola dengan baik, sehingga tidak akan ada pihak yang merasa dirugikan. Dia juga menyinggung berbagai turnamen yang sedang dilaksanakan, ada yang berjalan lancar dan juga tidak.
Berbagai hal lainnya juga terungkap dalam celutukan mereka, khususnya tentang sepakbola, seperti pemain yang mendapat hukuman sanksi, karena melakukan pelanggaran keras di lapangan, sehingga dilarang bermain.
Atau juga pendapatan dan pengeluaran sebuah turnamen sepakbola, mulai dari hasil penjualan tiket sampai sponsor yang memberi bantuan secara langsung, dan biaya operasional harian turnamen.
Pro dan kontra muncul dalam percakapan tersebut, tetapi berlangsung dengan canda tawa dan senda-gurau, apalagi, mereka sering duduk bersama membahas rencana sebuah turnamen atau juga evaluasi berbagai persoalan yang muncul di lapangan.
Walaupun demikian, keakraban dan rasa persaudaraan tetap memancar dari mereka yang mengharapkan persepakbolaan di Aceh Besar terus maju dan berkembang melalui berbagai turnamen yang digelar secara rutin.
PSAB yang merupakan bonden Aceh Besar diharapkan akan terus melaju melewati berbagai rintangan dari tim lawan, sehingga dapat melaju ke tingkat nasional melalui Liga 4 Zona Aceh 2025/2026 yang akan segera bergulir.
Harapan itu, bukan saja disampaikan oleh para dedengkot sepakbola Aceh Besar itu, tetapi juga oleh seluruh masyarakat Aceh Besar, termasuk para pemain yang bermain di berbagai klub Aceh Besar. Semoga saja! (Muh)











