Oleh Cut Izza Mulkia*
Ekonomi Indonesia kerap dipuji karena pertumbuhan stabil di kisaran 4,5–5,5% dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik angka tersebut, ada kelemahan struktural yang jarang dibahas secara lugas mengenai ketergantungan impor yang tinggi pada sektor-sektor strategis.
1. Ketergantungan pada Bahan Baku dan Barang Modal
Khususnya pada Industri manufaktur Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku dan barang modal. Dari data beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sekitar 70–75% bahan baku industri berasal dari impor. Sektor seperti elektronik, farmasi, dan kimia hampir sepenuhnya tergantung pada pasokan luar negeri.
Akibatnya:
● Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi langsung naik.
● Industri dalam negeri sulit membangun rantai pasok mandiri.
● Nilai tambah domestik menjadi rendah.
2. Defisit pada Sektor Energi dan Pangan Tertentu
Indonesia memang kaya sumber daya, tetapi tetap mengimpor komoditas strategis, seperti:
● Migas: Impor minyak mentah dan BBM masih signifikan karena kapasitas kilang terbatas.
● Pangan: Impor kedelai, gandum, gula, bahkan beras dalam kondisi tertentu.
Sebagai gambaran, impor gandum Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, sementara produksi domestik hampir tidak ada. Ini tentu menunjukkan kerentanan pada komoditas dasar konsumsi masyarakat.
3. Struktur Ekspor yang Lemah Nilai Tambah
Ekspor Indonesia masih didominasi komoditas mentah atau setengah jadi seperti batu bara, nikel, dan sawit. Bahkan ketika harga global turun, penerimaan negara langsung terpukul.
Masalahnya:
● Industri hilirisasi belum merata.
● Ketergantungan pada permintaan global tinggi.
● Fluktuasi harga komoditas membuat ekonomi tidak stabil.
Hal seperti inilah yang menyebabkan pemasokan barang juga berkurang.
4. Ilusi Surplus Neraca Perdagangan
Indonesia kadang mencatat surplus perdagangan, tetapi ini sering disebabkan oleh lonjakan harga komoditas, bukan kekuatan industri.
Ketika harga turun kita dapat melihat pengaruh berikut:
● Surplus bisa berubah menjadi defisit.
● Rupiah tertekan.
● Cadangan devisa ikut terdampak
Dalam artian, fondasi surplus belum kokoh.
5. Risiko Geopolitik dan Rantai Pasok Global
Ketergantungan impor inilah yang membuat Indonesia rentan terhadap beberapa hal, mencakup:
● Gangguan rantai pasok global (seperti saat pandemi)
● Konflik geopolitik
● Kebijakan proteksionisme negara lain
Bahkan saat ini pun krisis global dapat langsung memukul sektor industri domestik tanpa banyak ruang adaptasi.
6. Kelemahan Industri Teknologi dan Inovasi
Dilihat dari bebagai aspekpun Indonesia masih banyak tertinggal, seperti dalam:
● Produksi semikonduktor
● Teknologi mesin
● Riset dan pengembangan (R&D)
Belanja R&D Indonesia masih di bawah 1% dari PDB, jauh tertinggal dari negara maju di atas 2–3%. Yang mengakibatkan ketergantungan teknologi pada impor akan terus berlanjut.
Point yang harus diingat adalah ketergantungan impor bukan sekadar isu perdagangan, tetapi cerminan kelemahan struktural ekonomi Indonesia, mulai dari industri yang belum mandiri, nilai tambah rendah, hingga inovasi yang terbatas. Selama masalah ini tidak diselesaikan, maka pertumbuhan ekonomi akan tetap rapuh terlihat kuat di permukaan, tetapi rentan terhadap guncangan eksternal.
Dapat disimpulkan bahwa solusi bukan sekadar membatasi impor, melainkan juga guna:
● memperkuat industri hulu
● meningkatkan investasi teknologi
● mendorong hilirisasi yang konsisten
● dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia
Tanpa itu, Indonesia akan terus berada dalam posisi “pasar besar” bagi produk luar, bukan pemain utama dalam rantai nilai global.
* Cut Izza Mulkia, mahasiswi ekonomi (kelas internasional), Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
