Internasional

Kesaksian Pilu Korban Gempa Turki: Kami Pikir Kiamat

1701
×

Kesaksian Pilu Korban Gempa Turki: Kami Pikir Kiamat

Sebarkan artikel ini
Foto: Mehmet Emin Ataoglu diselamatkan di bawah puing-puing bangunan 6 lantai setelah gempa berkekuatan 7,7 melanda distrik Iskenderun di Hatay, Turkiye pada 06 Februari 2023. (Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency)

posaceh.com – Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,8 di Turki dan Suriah telah menewaskan lebih dari 3.800 orang di tengah cuaca beku yang menyulitkan proses evakuasi.

Lusinan negara pun menjanjikan bantuan seiring dengan jumlah korban yang diperkirakan terus meningkat secara signifikan dalam sepekan mendatang.

Bangunan apartemen bertingkat yang penuh dengan penghuni termasuk di antara 5.606 bangunan yang menjadi puing-puing di Turki, sementara Suriah mengumumkan puluhan runtuh, serta kerusakan situs arkeologi di Aleppo.

“Itu adalah pertama kalinya kami mengalami hal seperti itu,” kata Melisa Salman, seorang reporter berusia 23 tahun di kota Kahramanmaras, Turki tenggara.

“Kami pikir itu adalah kiamat,” katanya, dilansir AFP, Selasa (7/2/2023).

Kepala Pusat Gempa Nasional Suriah, Raed Ahmed, menyebutnya “gempa bumi terbesar yang tercatat dalam sejarah badan tersebut”.

Gempa awal diikuti puluhan gempa susulan, termasuk gempa berkekuatan M 7,5 yang mengguncang wilayah itu di tengah upaya pencarian dan penyelamatan pada Senin.

“Kami berhasil menyelamatkan tiga orang, tetapi dua tewas,” kata Halis Aktemur (35) di kota Diyarbakir, Turki tenggara, setelah gempa yang dirasakan hingga Greenland.

Di kota Sanliurfa, Turki tenggara, tim penyelamat bekerja hingga larut malam untuk mencoba dan menarik korban selamat dari reruntuhan gedung tujuh lantai yang telah runtuh.

“Ada keluarga yang saya kenal di bawah reruntuhan,” kata mahasiswa Suriah berusia 20 tahun, Omer El Cuneyd.

“Sampai pukul 11.00 atau siang, teman saya masih menjawab telepon. Tapi dia tidak menjawab lagi. Dia ada di bawah sana.”

Meskipun suhu turun di bawah nol, penduduk kota yang ketakutan bersiap untuk bermalam di jalanan, berkerumun di sekitar api unggun untuk mendapatkan kehangatan.

Di dekatnya, Mustafa Koyuncu sedang duduk berkerumun di dalam mobil stasionernya bersama istri dan kelima anaknya, takut bergerak.

“Kami menunggu di sini karena kami tidak bisa pulang,” kata pria berusia 55 tahun itu kepada AFP. “Semua orang takut.”(CNBC Indonesia)