Daerah

Kadis ESDM Aceh: Fenomena Kekeringan di Lhoknga Akibat Faktor Alam dan Perubahan Tutupan Lahan

1358
×

Kadis ESDM Aceh: Fenomena Kekeringan di Lhoknga Akibat Faktor Alam dan Perubahan Tutupan Lahan

Sebarkan artikel ini
Kepala DESDM Aceh, Ir. Mahdinur, MM

posaceh.com, Kota Jantho – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Ir. Mahdinur, MM, memberikan penjelasan mengenai penyebab utama kekeringan yang melanda di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar dalam beberapa minggu terakhir. Dalam keterangannya, Mahdinur menyatakan bahwa kekeringan yang melanda daerah karst ini disebabkan oleh kemarau berkepanjangan yang terus berulang dari tahun ke tahun.

“Curah hujan yang rendah menjadi faktor utama kekeringan ini. Data dari Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Indrapuri menunjukkan bahwa di awal tahun 2024, curah hujan rata-rata di Lhok Nga berada di bawah 100 mm, dengan angka 48 mm pada Februari dan 60 mm pada April. Kondisi ini jauh di bawah normal dan menyebabkan sumber air di daerah karst Kecamatan Lhoknga mengering,” ujar Mahdinur, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/5/2024).

Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan air tanah di Kecamatan Lhoknga sangat bergantung pada curah hujan dan tutupan lahan di zona resapan. Aliran air di media rekahan bawah tanah bergantung pada curah hujan yang mengisi zona resapan tersebut. Selain itu, perubahan tutupan lahan di zona resapan juga berpotensi memperparah kondisi kekeringan, sehingga diperlukan investigasi lebih lanjut oleh instansi terkait.

Dalam kajian hidrogeologi yang dilakukan oleh Badan Geologi Jerman (BGR) pada 2007 dan Universitas Gadjah Mada pada 2021, ditemukan bahwa sumber air di Pucok Krueng yang berdekatan dengan Desa Naga Umbang merupakan sistem hidrologi karst yang airnya terkoneksi dengan Gua Uleu.

“Gua Uleu adalah bagian dari zona resapan di lembah Lunto dengan aliran air tanah menuju ke utara, sedangkan zona resapan di PT Solusi Bangun Andalas (SBA) mengarah ke barat menuju laut. Hal ini dibuktikan melalui tracer test yang menunjukkan bahwa aktivitas penambangan tidak berkaitan dengan kekeringan di beberapa sumber air di wilayah tersebut,” jelasnya.

Mahdinur juga menyebutkan bahwa sistem aliran air tanah di Gampong Lambaro Seubun, yang berjarak hampir 10 km dari Pucok Krueng dan PT Solusi Bangun Andalas, adalah berbeda dan tidak terhubung dengan zona resapan di lokasi tersebut. “PT Solusi Bangun Andalas telah memberikan penjelasan terkait penggunaan air yang saat ini mengutamakan sumber air dari pengumpulan air hujan berupa embung,” tambahnya.

Untuk mengatasi kekeringan ini, Mahdinur menyarankan solusi jangka pendek dan jangka panjang. “Pemerintah dapat memberikan bantuan air secara reguler kepada masyarakat melalui PDAM, dan kami menghargai upaya cepat dari Pemerintah Kabupaten/Kota serta PT Solusi Bangun Andalas dalam memberikan bantuan air bersih,” katanya.
Sedangkan untuk solusi jangka panjang, Mahdinur mengusulkan pembuatan embung penangkap air hujan atau pengambilan air dari sumber air yang mengalir sepanjang tahun seperti di Gua Ilup, Gua Uleu, dan Sungai Sarah.

Pandangan serupa disampaikan oleh Mochamad Anwar Bakti, S.Si., MBA., General Manager SBA. “Dari studi hidrologi dan hidrogeologi yang kami lakukan bersama tim Universitas Gadjah Mada, ditemukan bahwa sistem aliran air bawah tanah di Daerah Tangkapan Air (DTA) Tambang SBA berbeda dengan DTA Lembah Luntho dan Gua Uleu yang terkoneksi dengan Sungai Bawah Tanah Pucok Krueng. Saat ini, sumber air baku untuk pabrik hanya menggunakan air limpasan hujan yang tertampung di kolam settling pond, namun kondisinya hampir kering karena kemarau berkepanjangan,” ujarnya.

Anwar juga menyebutkan upaya SBA dalam efisiensi penggunaan air di pabrik, termasuk membuat Waste Water Treatment Plant (WWTP) untuk menggunakan kembali air sisa proses pendinginan. “Kami berkomitmen untuk terus hadir dan berkontribusi bagi masyarakat yang terdampak oleh kekeringan ini bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Besar serta seluruh stakeholder terkait,” tutupnya.

Penjelasan ini diharapkan dapat memberikan informasi yang valid kepada masyarakat mengenai penyebab kekeringan di wilayah Kecamatan Lhok Nga serta upaya yang dilakukan untuk mengatasinya.(Wahyu Desmi/*)