posaceh.com, Banda Aceh – Pendidikan anak usia dini harus dilakukan secara holistik (menyeluruh), dimana stimulasi dini yang diberikan keluarga terhadap anak dapat mempercepat perkembangannya. Keluarga berpotensi untuk mengembangkan karakter anak melalui ikatan emosi yang kuat antara orang tua dan anak. Pola didik dan prinsip-prinsip pendidikan orang tua terhadap anak, seperti prinsip pendidikan keteladanan diri, kebersamaan merealisasikan nilai-nilai moral, sikap demokratis dan terbuka, serta kemampuan menghayati kehidupan, menentukan apresiasi anak terhadap nilai-nilai disiplin diri yang ditanamkan.
FOTO/ DOK DP3AP2KB KOTA BANDA ACEH
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Cut Azharida, SH, di Banda Aceh, Selasa (19/4/2022) mengatakan Pemko Banda Aceh melalui DP3AP2KB Kota Banda Aceh terus melakukan berbagai upaya upaya pembentukan karakter dan pencegahan kekerasan terhadap anak. “Disini Pentingnya Peran Keluarga Terhadap Pembentukan Perilaku Anak,” ujarnya
Menurutnya, diawal anak selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orangtua. Anak menyerap berbagai informasi yang dihadapinya baik perkataaan, sikap dan apa saja yang tertangkap panca indra yang anak miliki, hal tersebut tanpa di sadari oleh orang tua. Semua itu dilakukan melalui proses, tidak dengan tiba-tiba terjadi langsung melalui tahapan. “Keluarga merupakan tempat tumbuh dan berkembang pertama kalinya bagi seorang anak. Lingkungan keluarga, terutama orang tua, memiliki pengaruh yang besar bagi pembentukan karakter anak,” kata Cut Azharida.
Jadi terang Kepala DP3AP2KB Kota Banda Aceh, peran dan tangggungjawab orang tua tidak hanya sebatas pemenuhan pada kebutuhan materi, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan termasuk pembentukan karakter anak. Karakter anak biasanya mulai terbentuk dari kebiasaan atau pola asuh yang dilakukan orang tua selama masa kanak-kanak hingga remaja. “Pada masa kanak-kanak hingga remaja inilah yang kemungkinan akan menentukan atau memengaruhi karakter anak saat dewasa nanti,” tuturnya.
Lebih lanjut, Cut Azharida menyampaikan bahwa lingkungan keluarga sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Jika seorang anak tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang periang, ceria dan mampu mengendalikan emosi dengan baik. Namun, akan sangat berbeda dengan anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh dengan amarah dan kekerasan, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi personal yang seperti itu juga. “Maka itu orang tua atau lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak,” ucapnya.
Kita tentunya tahu, bahwa penanaman karakter yang baik pada anak pasti memiliki banyak kendala. Kendala orang tua dalam menanamkan karakter yang baik pada anak, diantaranya perubahaan zaman dan gaya hidup, perubahan televisi dan media lainnya pada gaya komunikasi anak, perbedaan tipe kecerdasan anak dan kondisi sosial ekonomi yang kurang baik.
FOTO/ DOK DP3AP2KB KOTA BANDA ACEH
Meskipun mengalami kendala-kendala tersebut, kata Cut Azharida, orang tua tidak boleh melepas tanggung jawabnya untuk menanamkan Pendidikan karakter pada anak. Dari berbagai kendala tersebut, orang tua harus berusaha meningkatkan pengetahuan dan harus lebih mengenal anak-anak agar penanaman karakter pada anak dapat berhasil. “Selain itu, orang tua harus bisa menciptakan lingkungan keluarga yang positif agar anak dapat terhindar dari perilaku negatif,” imbuhnya.
Dari itu jelas, bahwa orang tua atau keluarga bertanggung jawab dan sangat berperan dalam pembentukan karakter anak. Orang tua harus bisa meluangkan waktunya untuk berkomunikasi dengan anak, karena dengan adanya perkembangan zaman yang menyebabkan terjadinya pergeseran nilai kebudayaan dalam masyarakat, dikhawatirkan hal ini dapat melunturkan moral dan etika anak. Dengan adanya orang tua dalam pertumbuhan anak diharapkan anak dapat tumbuh dengan moral dan etika yang baik.
Pembentukan karakter anak ini tidak akan berhasil dengan baik dan tidak akan berarti apa-apa, apabila keluarga melepaskan tanggung jawab pembentukan karakter hanya kepada sekolah. “Peran keluarga dalam pendidikan anak sangat besar. Keluarga merupakan unsur terkecil dalam masyarakat, dari keluarga pula anak belajar berperilaku dan bersikap sebagai anggota masyarakat yang bermartabat,” tegas Cut Azharida.
Langkah lain untuk sosialisasi peran keluarga terhadap perilaku anak, DP3AP2KB Kota Banda Aceh melalui Unit Layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) terus mempromosikam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan Anak.
Diharapkan melalui program ini, masyarakat Kota Banda Aceh dan sekitarnya mendapat pemahaman lebih baik dalam memaksimalkan peran keluarga dalam pembentukan perilaku anak, sehingga ke depan anak-anak di Kota Banda Aceh menjadi generasi Gemilang yang berakhlak mulia. “Kami sosialisasi baik di media cetak, media elektronik ataupun media luar ruang serta lakukan dialog dengan berbagai kalangan di radio,” pungkas Cut Azharida, SH, Kepala DP3AP2KB Kota Banda Aceh.(Adv)
