News

Jual Daging Meugang Sepi Pembeli, Ketika Physical Distancing dan Social Distancing Menjadi Keniscayaan

1833
×

Jual Daging Meugang Sepi Pembeli, Ketika Physical Distancing dan Social Distancing Menjadi Keniscayaan

Sebarkan artikel ini
FOTO/ TEUKU AZHARI Penjual daging di pasar Ulee Kareng sedang melayani pembeli daging untuk kebutuhan meugang, Kamis (23/4/2020)

POSACEH.COM, BANDA ACEH Penjualan daging untuk perayaan meugang menyambut puasa Ramadhan 1441 Hijriah kali ini terasa sekali suasananya sepi, dibandingkan meugang tahun tahun sebelumnya. Harga daging pun bervariasi dan lebih murah dari prediksi awal yakni Rp.180 ribu/ Kg, namun hari ini dimana merupakan hari puncaknya makmeugang harga daging berkisar Rp 140 ribu hingga Rp 150
ribu/kg.

 

Pantauan Pos Aceh, di sejumlah tempat penjualan daging meugang, Misalnya Pasar Ulee Kareng, Peunayong, Keutapang, Pasar Kp Ateuk, Pasar Setui, Darussalam, Beurawe hingga pasar Lambaro nampak sekali para pembeli sepi dan para pedagang ramai yang menawarkan daging yang mereka jual.

 

Tampak agak lebih ramai yaitu di pasar Beurawe, nampak beberapa tempat jual daging yang dipadati pembeli, disana kelihatan pembeli nya tidak mengindahkan protokol kesehatan terutama Physical distancing dan sosial distancing, kedua hal itu menjadi keniscayaan.

Pos Aceh juga tidak melihat adanya petugas baik polisi maupun Satpol PP, mestinya pihak keamanan sudah harus ada lebih awal, namun pukul 7.00 wib pagi tidak ada petugas keamanan di sekitar kedua pasar tersebut.

 

Ketua Aspeda (Asosiasi Penjual Daging) Sapi dan Kerbau Kabupaten Aceh Besar, Safwan ditemui Pos Aceh di Pasar Induk Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar juga menyampaikan hal sama, bahwa pembeli daging meugang puasa tahun ini tidak ramai. “Harga tidak terlalu mahal, dibanding tahun lalu. Mungkin masih dalam suasa Covid-19,” katanya.

Sementara itu, Kadis Perindag Aceh melalui Kabid Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Disperindag Aceh, Ir Muhammad Yusuf kepada Pos Aceh membenarkan bahwa penjualan meugang sepi pembeli, harga dagingpun lebih murah dari hari sebelumnya. Hal itu menurut mantan sekretaris Disperindag Aceh karena masyarakat Aceh tidak membeli daging dalam jumlah besar.

“Memang harga daging lebih murah karena pembeli kurang, sudah menjadi hukum ekonomi, bila permintaan banyak harga tinggi dan permintaan berkurang harga rendah, ini karena masyarakat tidak membeli dalam porsi besar dengan kata lain,orang orang beli daging secukupnya saja,” terangnya.(T Azhari/MarDG)