posaceh.com, Tapaktuan – Sejarah panjang perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan kembali mengemuka melalui kisah heroik Panglimo Rajo Lelo, sosok pejuang tangguh yang dikenal gigih mempertahankan tanah kelahirannya dari cengkeraman kolonial Belanda.
Panglimo Rajo Lelo IV, yang memiliki nama asli Ibnu Wantaser, lahir pada tahun 1864 di Pung Besei (Kampung Sapik), Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Ia merupakan putra dari Wannamid bin Wan Andun dan Sanniati binti Barlam. Sejak kecil, Wantaser telah ditempa dengan pendidikan agama dan disiplin tinggi oleh keluarganya, membentuk karakter yang berani, jujur, serta menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria.
Pada tahun 1913, Wantaser diangkat sebagai panglima oleh Raja Kluet, Kejeurun Mukmin. Sejak saat itu, ia menyandang gelar Panglimo Rajo Lelo IV, menggantikan sang abang, Abdul Malik, yang sebelumnya dikenal sebagai Panglimo Rajo Lelo III. Kepemimpinannya menandai babak penting dalam perjuangan rakyat Kluet melawan kolonialisme.
Dalam catatan sejarah lokal, Panglimo Rajo Lelo dikenal bukan hanya sebagai pemimpin perang, tetapi juga simbol perlawanan rakyat Aceh terhadap penindasan. Perjuangannya turut diperkuat oleh tokoh-tokoh Kluet lainnya, seperti Teuku Raja Angkasa dan Teuku Cut Ali, yang memiliki peran besar dalam menggalang kekuatan melawan Belanda.
FOTO/ SYAHRUL AMIN
Salah satu peristiwa penting dalam perjuangan tersebut terjadi ketika pasukan Belanda menyeberangi Sungai Kluet dari Gampong Pulo Kambing menuju Gampong Durian Kawan. Mereka bermalam di kawasan Mamplam Durian Kawan dengan tujuan memburu Teuku Cut Ali, tokoh yang dikenal keras menentang kehadiran kolonial di wilayah Kluet.
Kabar kedatangan pasukan Belanda itu segera menyebar. Menanggapi situasi tersebut, Panglimo Rajo Lelo bersama pasukannya menggelar musyawarah kilat untuk menyusun strategi perlawanan. Pada Rabu, 3 April 1926, bertepatan dengan 20 Ramadhan 1346 Hijriah, pecahlah pertempuran yang dikenal sebagai Perang Kelulum di Kampung Sapik, Kecamatan Kluet Timur.
Dalam pertempuran itu, Panglimo Rajo Lelo memimpin 24 orang pejuang rakyat Kluet menghadapi 23 pasukan kolonial Belanda yang dipimpin oleh Kapten J. Paris (Syafi’ie AS, 1988). Meski dengan jumlah yang terbatas, semangat juang dan keberanian para pejuang Kluet menjadi bukti kuat bahwa rakyat Aceh tidak pernah tunduk pada penjajahan.
Perjuangan Panglimo Rajo Lelo menjadi bagian dari mozaik besar sejarah Aceh yang sarat dengan semangat jihad dan kecintaan terhadap tanah air. Nilai-nilai tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai inspirasi dalam menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa.
Di era digital saat ini, kisah-kisah perjuangan seperti Panglimo Rajo Lelo kembali diangkat ke permukaan sebagai upaya mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Harapannya, semangat juang para pahlawan daerah tetap hidup dan menjadi fondasi dalam membangun Indonesia yang lebih kuat dan berdaulat.(Syahrul)
