posaceh.com, Teheran – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh protes yang memanas dengan sengaja diubah menjadi kekerasan agar Presiden Amerika Serikat Donald Trump punya alasan untuk campur tangan militer.
Araghchi mengatakan kepada diplomat asing di Teheran pada Senin (12/1/2026) bahwa kekerasan meningkat selama akhir pekan, tetapi “situasi kini sepenuhnya terkendali”.
Ia menambahkan peringatan Trump tentang kemungkinan tindakan militer terhadap Teheran jika protes berubah menjadi kekerasan sangat mempengaruhi situasi.
Hal ini mendorong “teroris” untuk menargetkan pengunjuk rasa dan aparat keamanan dengan tujuan memancing intervensi asing.
“Kami siap untuk perang, tapi juga siap untuk berdialog,” ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera .
Protes yang terus meningkat di Iran telah memasuki pekan ketiga, di tengah pemadaman internet nasional dan ancaman intervensi militer yang berulang dari Trump.
Menurut Araghchi, tekanan itu “didorong dan disulut” oleh pihak asing, dan aparat keamanan akan “menindak tegas” pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Dia juga menyebut Iran memiliki rekaman yang mendistribusikan senjata kepada pengunjuk rasa, dan mengklaim pihak yang berwenang akan segera merilis pengakuan kepada para tahanan.
Badan berita Fars melaporkan protes terbatas terjadi di beberapa kawasan ibu kota pada Minggu malam.
Terdapat “kerusuhan” terbatas di kawasan Navvab dan Saadat Abad di Teheran, Junqan dan Hafshejan di provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, serta Taybad di Mashhad, yang berhasil dibubarkan aparat keamanan.
Badan berita itu juga melaporkan kota dan wilayah lain di negara itu umumnya tenang tanpa adanya “kerusuhan” sepanjang malam.
Pada Senin (12/1/2026) pagi, media Iran menyiarkan rekaman aksi pro-pemerintah di berbagai kota melalui saluran Telegram mereka.
Pemerintah Iran telah menetapkan tiga hari berkabung nasional bagi “syuhada” yang tewas selama protes, termasuk anggota aparat keamanan.
Pihak yang berkuasa belum menegaskan jumlah pengunjuk rasa yang meninggal, namun aktivis yang berbasis di luar negeri menyebut angka kematian lebih tinggi, termasuk puluhan pengunjuk rasa
Demonstrasi yang bermula dari kemarahan atas kenaikan biaya hidup itu kini berkembang menjadi tantangan besar terhadap sistem teokrasi yang berkuasa sejak revolusi 1979.(Muh/*)











