posaceh.com – Kondisi ekonomi Amerika Serikat menjadi perhatian seluruh dunia akibat utang yang terlampau tinggi. Hingga Maret 2023, utang Amerika mencapai USD31,45 triliun, atau setara Rp462.000 triliun.
Hampir seluruh negara terbelit utang, termasuk Indonesia. Data terakhir pada Maret 2023, utang luar negeri Indonesia mencapai Rp7.897 triliun. Lalu apa saja peruntukan utang luar negeri yang diambil pemerintah?
Dalam laman resmi Bank Indonesia bahwa pemanfaatan utang luar negeri (ULN) terus diarahkan untuk fokus mendukung upaya pemerintah dalam pembiayaan sektor produktif dan belanja prioritas, khususnya dalam rangka menopang dan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian global.
Dukungan tersebut mencakup antara lain:
– Sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial 24,0 persen dari total ULN pemerintah,
– Administrasi pemerintah pertahanan dan jaminan sosial wajib 17,8 persen
– Jasa pendidikan 16,7 persen
– Konstruksi 14,2 persen
– Jasa keuangan dan asuransi 10,4 persen.
BI mengklaim bahwa sisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali, mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total ULN pemerintah.
ULN pemerintah juga mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Posisi ULN pemerintah pada Februari 2023 tercatat USD192,3 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi sebelumnya sebesar USD194,3 miliar secara tahunan.
ULN pemerintah mengalami kontraksi pertumbuhan yang lebih dalam dari 2,5 persen year on year pada Januari 2023 menjadi 4,4 persen year on year pada Februari 2023.
Sementara itu, berikut daftar 5 negara pemberi utang terbesar kepada Indonesia hingga Februari 2023,
1. Singapura USD57.455 miliar atau setara Rp847 triliun.
2. Amerika Serikat, USD32.757 atau setara Rp480 triliun.
3. Jepang USD23.764 miliar atau setara Rp350 triliun.
4. China USD20.011 miliar atau setara Rp295 triliun.
5. Hongkong USD17.741 miliar atau Rp261 triliun.
(Merdeka.com)











