ParlementariaPemko Banda Aceh

Gerak Cepat, Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah Bantu Warga Aceh Jaya Korban KDRT

23
Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST didampingi Kapolsek, Camat, babinsa, keuchik, dan kepala dusun, langsung bergegas menuju lokasi Rumah Wardiah, perempuan yang diberitakan kelaparan itu, berada di kawasan permukiman, melewati gang sempit, rumahnya terletak di bagian belakang rumah warga, di Aceh Besar, Sabtu (25/4/2026 FOTO/ HUMAS DPRK BANDA ACEH

posaceh.com, Banda Aceh – Pada Jumat 24 April 2026 malam, jagat dunia maya dihebohkan dengan beredarnya sebuah kabar yang bernarasi miris dan memilukan.

Seorang ibu disebut-sebut menelepon polisi karena kelaparan dirumahnya. Informasi itu dengan cepat menyebar dan sampai ke telinga Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST.

Dalam narasi awal, peristiwa itu disebut terjadi di Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Meskipun akhirya informasi itu keliru.

Sebagai salah satu unsur pimpinan di Banda Aceh, info seperti ini tentu membuat pikirannya gelisah, apalagi kondisi ini sangat menyedihkan. Sehingga harus segera dilacak dan direspons.

Tak menunggu lama, keesokannya, Sabtu (25/4/2026), Irwansyah didampingi Kapolsek, Camat, babinsa, keuchik, dan kepala dusun, langsung bergegas menuju lokasi yang dimaksud.

Rumah Wardiah, perempuan yang diberitakan kelaparan itu, berada di kawasan permukiman, melewati gang sempit, rumahnya terletak di bagian belakang rumah warga.

Ia tinggal bersama anaknya di sebuah shelter kayu peninggalan pascatsunami. Bangunan usang itu tampak sempit dan tanpa plafon, menjadi tempat mereka menjalani kehidupan akhir-akhir ini.

Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST membawa sejumlah bantuan Wardiah, perempuan yang diberitakan kelaparan itu, berada di kawasan permukiman, melewati gang sempit, rumahnya terletak di bagian belakang rumah warga, di Aceh Besar, Sabtu (25/4/2026 FOTO/ HUMAS DPRK BANDA ACEH

Namun, setibanya di lokasi, terungkap fakta berbeda. Ternyata secara administratif, wilayah tersebut ternyata tidak termasuk wilayah Kota Banda Aceh, melainkan masuk Kabupaten Aceh Besar, meski berada dekat kawasan perbatasan.

“Ternyata, ibu ini bukan warga Banda Aceh, dan juga sekarang tinggal bukan di wilayah Banda Aceh. Beliau trauma, trauma mengalami hal buruk berupa kekerasan dalam rumah tangga berulang lagi (bayangkan tingkat kekerasannya sampai setahun masih trauma), sehingga harus berpindah-pindah tempat tinggal,” ujar Politisi PKS ini.

Dalam kunjungan tersebut, Irwansyah berbincang langsung dengan Wardiah, aparat kepolisian, serta perangkat gampong. Ia mendegarkan cerita dan getirnya kisah perempuan tersebut.

Dari percakapan itu terungkap, bahwa pada hari Jumat itu, Wardiah memang menelepon call center polisi, tetapi bukan semata-mata karena kelaparan. Ia merasa ketakutan karena suaminya berencana datang ke rumahnya. Selama ini diketahui mereka terpisah.

Wardiah diketahui memiliki riwayat kekerasan dalam rumah tangga yang membuatnya trauma dan takut terhadap suaminya. Saat itu, suaminya mengabarkan akan datang, ia langsung menghubungi polisi untuk meminta perlindungan dan pendampingan.

Merespons laporan itu pihak Polresta Banda Aceh mengarahkan Polsek Jaya Baru untuk bergerak, sebagai lokasi terdekat.

Saat polisi tiba, kondisi Wardiah dan anaknya memang sedang lapar. Sejak pagi ia belum memasak apa pun, karena baru saja pulang dari perawatan medis di rumah sakit.

Ia didiagnosa mengidap gangguan saraf yang diduga berkaitan dengan kekerasan yang dialaminya.

“Sebenarnya saya menelpon polisi bukan karena lapar, tapi karena suami mau datang ke sini (ada ketakutan). Tapi memang kemarin saya sedang lapar juga, belum sempat-sempat masak, karena baru keluar dari rumah sakit,” ujar Wardiah bercerita kepada hadapan Irwansyah.

Ia mengaku saat itu kondisinya sedang gamang dan kalut, tidak tahu kemana harus mengadu, sehingga ia pun berpikir menelepon polisi.

Mengetahui kondisi tersebut, pihak kepolisian turut membawa makanan untuk membantu keluarga tersebut.

Irwansyah menegaskan, bahwa kondisi itu bukan kelaparan berkepanjangan, yang dalam arti tidak memiliki akses makanan, melainkan belum makan karena belum sempat masak pada hari tersebut, terutama setelah kembali dari rumah sakit dan dalam kondisi ketakutan.

“Ia menelpon call centre polisi untuk mendapatkan perlindungan, dan saat didatangi londisinya memang sedang lapar, tapi bukan kelaparan berkepanjangan,” tambahnya.

Menurut Irwansyah, secara sosial dan historis, kecil kemungkinan terjadi kelaparan di tengah permukiman warga di Aceh. Hal ini karena kuatnya nilai-nilai keislaman dan kepedulian sosial masyarakat yang masih terjaga. Namun, ia juga mengajak warga meningkatkan kepedulian sesama.

“Masyarakat kita ini kepeduliannya sangat tinggi, makanya saya syok juga saat dikabarkan ada yang kelaparan. Warga kita ini nila-nilai keislamannya kuat, rasa peduli tinggi, mereka juga bakal malu kalau ada tetangganya yang lapar,” beber Irwansyah.

Ia juga mengungkapkan, bahwa Wardiah tercatat memiliki KTP Aceh Jaya. Tapi ia kerap berpindah-pindah tempat tinggal tanpa melapor, sehingga keberadaannya tidak terdata dengan baik oleh aparat desa setempat.

Karena itu, ia meminta perangkat gampong untuk segera melakukan pendataan dan memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut.

Sebagai langkah selanjutnya, Irwansyah menekankan pentingnya solusi jangka panjang. Ia meminta dinas terkait dan perangkat gampong untuk mencarikan akses bantuan. Karena saat ini bantuan tersedia di dinas sosial maupun Baitul Mal, agar kebutuhan Wardiah dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Namun, kalam kunjungannya kemarin, ia juga membawa bantuan berupa beras, sembako hingga lauk untuk memenuhi kebutuhan Wardiah dan anaknya dalam waktu dekat.

“Nah selanjutnya kendala administrasi harus kita cari solusi, ini kan banyak peluang bantuan jangka panjang, ada dari Dinas Sosial maupun Baitul Mal. Tapi ini untuk satu bulan ini, insyaAllah yang saya bawa tadi sudah cukup, selanjutnya kita cari solusi ini,” ujarnya.

Selain itu, ia juga meminta aparatur desa dimanapun, untuk lebih peduli terhadap warga di lingkungannya, terutama mereka yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan memiliki keterbatasan ekonomi.

Ia juga mengingatkan masyarakat yang berpindah domisili agar selalu melapor kepada perangkat gampong, sehingga jika terjadi sesuatu, dapat segera diketahui dan ditangani.

Pemilik rumah sewa juga diharapkan lebih proaktif dalam melaporkan penghuni yang tinggal di properti mereka.

Menurutnya, penting bagi setiap warga untuk saling mengenal dengan tetangga di lingkungan tempat tinggal, karena merekalah yang paling dekat dan mengetahui kondisi sekitar.

Di akhir kunjungannya, Irwansyah juga mengapresiasi respon cepat pihak kepolisian, mulai dari Polresta hingga Polsek, dalam menindaklanjuti laporan masyarakat.

Ia mengimbau warga untuk tidak ragu melapor kepada aparat jika mengalami kondisi serupa, terutama ketika membutuhkan perlindungan dan bantuan.(Mar)

Exit mobile version