posaceh.com, Jakarta – Menteri luar negeri dari negara Arab dan Muslim ramai-ramai menyoroti situasi kemanusiaan di Jalur Gaza , Palestina, yang di belakangan dilanda cuaca buruk, termasuk hujan lebat dan badai.
Para menteri dari Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir menyampaikan kekhawatiran mendalam atas kondisi tersebut dan seluruh komunitas internasional bahu-membahu membantu warga Gaza.
Melansir CNN, Sabtu (3/1/2026), dalam pernyataan bersama yang dirilis Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), para menteri menyatakan cuaca buruk di Gaza telah diperparah oleh kurangnya akses kemanusiaan yang mampu hingga lambatnya materi penting memasuki Gaza.
Mereka menyoroti banjir di kamp-kamp pengungsian serta bangunan-bangunan rusak dan roboh yang tak lagi bisa memberi perlindungan bagi rakyat Gaza.
“Kamp-kamp terendam banjir, tenda-tenda rusak, runtuhnya bangunan-bangunan dan paparan suhu dingin disertai kekurangan gizi telah secara signifikan meningkatkan risiko bagi kehidupan warga sipil, termasuk akibat wabah penyakit, terutama di kalangan anak-anak, perempuan, lansia, dan individu dengan kerentanan medis,” demikian pernyataan para menteri.
Para menteri luar negeri pun mendesak agar Israel memastikan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga nirlaba internasional beroperasi di Gaza dan Tepi Barat secara berkelanjutan dan tanpa batasan, mengingat upaya total mereka selama ini dalam memberikan bantuan untuk warga Palestina.
“Setiap upaya untuk menghambat kemampuan mereka dalam beroperasi tidak bisa diterima,” demikian pernyataan para menteri.
Para menteri luar negeri juga menegaskan kembali dukungan penuh mereka terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 2903 serta Rencana Komprehensif Presiden AS Donald Trump mengenai perdamaian di Gaza.
Mereka menyatakan niatnya untuk berkontribusi dengan tujuan memastikan hilangnya senjata, mengakhiri perang di Gaza, menjamin kehidupan rahmat bagi rakyat Palestina, serta mewujudkan cita-cita pendirian negara Palestina.
“Dalam konteks ini, para menteri luar negeri menekankan perlunya segera memulai dan meningkatkan upaya pemulihan awal, termasuk menyediakan tempat tinggal yang tahan lama dan layak untuk melindungi penduduk dari kondisi musim dingin,” demikian pernyataan para menteri.
“Para menteri mengumumkan kepada komunitas internasional untuk menegakkan tanggung jawab hukum dan moralnya sekaligus menekan Israel, sebagai kekuatan pendudukan, untuk segera mencabut otoritas masuk dan distribusi pasokan penting termasuk tenda, bahan tempat tinggal, bantuan medis, air bersih, bahan bakar, dan dukungan sanksi,” lanjut pernyataan bersama tersebut.
Para menteri luar negeri kembali agar bantuan kemanusiaan dapat segera masuk sepenuhnya dan tanpa hambatan ke Jalur Gaza. Mereka mendesak agar infrastruktur dan rumah sakit di Gaza segera dilakukan perbaikan, serta jalur perbatasan Rafah dibuka sesuai rencana yang didorong oleh Presiden Trump
Sejak beberapa waktu terakhir, Gaza diterjang musim dingin dan hujan lebat yang membanjiri wilayah pengungsian warga Palestina.
Hujan deras itu memberikan situasi kemanusiaan di Gaza yang sejak awal sudah ditolak karena bangunan-bangunan yang rusak akibat perang ikut roboh. Kini, tidak ada lagi tempat berlindung bagi warga Gaza untuk menghadapi cuaca buruk.
Para dokter telah mewanti-wanti bahwa kondisi ini akan diikuti dengan munculnya wabah penyakit mengingat buruknya sanitasi di Gaza. Warga juga berpotensi mengalami kekurangan gizi karena sulitnya mengakses air bersih dan makanan.
Berbagai media telah memberitakan bahwa anak-anak bayi dan kelompok rentan banyak yang meninggal dunia akibat situasi ini.(Muh/*)
