Pulo Mesjid terletak di lembah Tangse hamparan padang di bawah kaki Gunung Singgah Mata. Menjadi desa tertua dimana nama Pulo Mesjid sendiri diambil sebagai pertanda asal mula Mesjid pertama di Tangse, Pidie.
Tangse berjarak sekitar 50 Km lebih dari Kota Sigli, sebuah kecamatan yang terdiri atas 28 gampong yang sebagian besar wilayahnya berada di dataran tinggi belantara hutan. Nah satu di antaranya adalah Gampong Pulo Masjid 1 dan Pulo Masjid 2.
Kawasan bersejarah bagi Aceh ini secara administrasi pemerintahan terbagi menjadi dua, yaitu Gampong Pulo Mesjid 1 (dikenal juga dengan sebutan Ulee Gampong) dan Gampong Pulo Mesjid 2 (dikenal juga dengan sebutan Ujong Baroh).
Bersejarah karena disini tempat dimakamkan jasad keturunan terakhir Tgk Chik Ditiro. Keduanya kemudian disebut-sebut pelanjut Wali Nanggroe ke-6 dan ke-7, yaitu Teungku Chik Mahyiddin Bin Muhammad Saman (syahid 1910), dan Teungku Mu’az Muda Bin Muhammad Amin (syahid 3 Desember 1911).
Hal yang unik kemudian adalah gambar satelit memperlihatkan kawasan Pulo Mesjid memiliki kemiripan dengan Peta Aceh. Bisa jadi kebetulan, tapi paling mungkin inilah tanda benang merah perjuangan masa lampau. Apakah pertanda gampong ini sebagai spirit of Atjeh?
Menariknya kemudian dari dokumentasi foto zaman Belanda terlihat tata letak Pulo Mesjid (arah Ulee Gampong) tidak jauh berubah sampai kini.
Menurut tutur orang-orang tua, Tangse telah ada dan berkembang sebagai permukiman jauh sebelum Belanda tiba di dataran dingin ini. Sebagian besar warga yang tersebar di 28 gampong di Tangse memiliki ikatan keluarga dengan gampong tua ini.
Kita generasi yang hidup di zaman now, tidak boleh melupakan jasa para pendahulu yang bersusah payah membuka lahan mendirikan gampong tempat kita kini mendiaminya dengan gratis. Disamping dengan kearifan para pendahulu yang dengan bijak menjaga keseimbangan lingkungan, tidak merusak hutan dan tidak memburu satwa langka.
Begitulah riwayat Gampong tua di Tangse. Anda sudah ke sana? Jak ta saweu Tangse. (Hasnanda Putra).
