posaceh.com, Banda Aceh – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menyatakan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk Aceh pada 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, tingginya disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi diduga menjadi salah satu penyebab meningkatnya konsumsi Biosolar dan Pertalite di lapangan sampai hari ini.
Kepala Bidang Minyak dan Gas Bumi (Migas) Dinas ESDM Aceh, Dian Budi Dharma, ST, MT, mengatakan pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terus menambah alokasi kuota BBM subsidi untuk Aceh dari tahun ke tahun.
“Kuota Biosolar dan Pertalite tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu. Untuk Biosolar, alokasi tahun 2026 mencapai sekitar 430 ribu kiloliter dan mengalami penambahan dibandingkan tahun sebelumnya. Jadi tidak ada pengurangan kuota, justru pemerintah menambah alokasi untuk Aceh,” kata Dian Budi Dharma dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Selasa 26 Mei 2026.
Menurutnya, meningkatnya antrean di sejumlah SPBU bukan disebabkan berkurangnya kuota BBM subsidi, melainkan adanya peningkatan permintaan akibat pergeseran konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.
Ia menjelaskan, selisih harga yang semakin lebar antara Biosolar dengan Dexlite maupun Pertamina Dex membuat sebagian pengguna kendaraan yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi beralih ke Biosolar.
Kondisi serupa juga berpotensi terjadi pada sektor industri yang menghadapi tingginya biaya operasional akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi.
“Disparitas harga saat ini cukup besar. Ada kemungkinan pengguna Dexlite atau Pertamina Dex beralih ke Biosolar. Hal ini menyebabkan permintaan meningkat di lapangan sehingga terjadi pergeseran konsumsi,” ujarnya.
Dian menambahkan, faktor geopolitik global, termasuk situasi di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada harga energi dunia, turut memengaruhi harga BBM nonsubsidi. Akibatnya, masyarakat dan pelaku usaha cenderung mencari alternatif bahan bakar yang lebih terjangkau.
Ia mencontohkan peristiwa serupa pernah terjadi saat pemerintah menghentikan penyaluran Premium. Pada saat itu, konsumsi Pertalite meningkat tajam karena pengguna Premium beralih ke jenis BBM tersebut.
Berdasarkan data ESDM Aceh, konsumsi Pertalite pada 2022 mencapai sekitar 545 ribu kiloliter, meningkat signifikan dibandingkan 141 ribu kiloliter pada 2021.
Melihat tren konsumsi yang terus meningkat, Pemerintah Aceh berencana mengusulkan penambahan kuota BBM subsidi kepada pemerintah pusat.
Usulan tersebut bertujuan mengantisipasi lonjakan permintaan akibat pergeseran pengguna dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi agar kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi.
“Kami akan meminta penambahan kuota karena kondisi konsumsi saat ini sudah berada di luar pola normal. Ini perlu diantisipasi agar pasokan BBM subsidi tetap mencukupi kebutuhan masyarakat Aceh,” kata Dian.(Muh/*)
