News

Dinkes Aceh Besar Tingkatkan Kapasitas Tenaga Medis dan Bidan Desa untuk Deteksi Dini Risiko Kehamilan

267
×

Dinkes Aceh Besar Tingkatkan Kapasitas Tenaga Medis dan Bidan Desa untuk Deteksi Dini Risiko Kehamilan

Sebarkan artikel ini
Dinkes Aceh Besar menggelar pelatihan tenaga medis dan bidan desa, di Aceh Besar, beberapa waktu lalu. FOTO/ DOK DINKES ACEH BESAR

posace.com, Kota Jantho – Dinas Kesehatan Aceh Besar terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak melalui peningkatan kapasitas tenaga medis, khususnya bidan desa yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan kehamilan. Langkah ini dinilai penting untuk mendeteksi lebih dini berbagai faktor risiko yang bisa membahayakan ibu hamil maupun bayi.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, Neli Ulfiati SKM MPH, menjelaskan bahwa keberadaan tenaga kesehatan di lapangan, terutama bidan desa, memiliki peran strategis dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi.

“Bidan desa adalah ujung tombak pelayanan kehamilan. Mereka yang pertama kali bertemu ibu hamil, melakukan pemeriksaan, memberi edukasi, bahkan memutuskan rujukan jika ada tanda bahaya. Karena itu, peningkatan kapasitas mereka menjadi prioritas kami,” ungkapnya, Senin (22/9/2025).

*Pelatihan Kegawatdaruratan

Untuk memperkuat kompetensi, Dinas Kesehatan Aceh Besar secara rutin menggelar pelatihan kegawatdaruratan ibu dan anak (GADAR). Materi yang diberikan mencakup penanganan perdarahan, eklampsia, partus macet, hingga resusitasi bayi baru lahir.

“Kami ingin setiap bidan dan tenaga medis di puskesmas maupun desa tidak hanya bisa memberikan pelayanan rutin, tetapi juga tanggap dalam kondisi darurat. Kesiapan mereka sangat menentukan keselamatan ibu dan bayi,” jelas Neli.

Pelatihan ini diikuti oleh bidan, perawat, dan dokter umum di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Foto bersama pada pelatihan tenaga medis dan bidan desa yang digelar oleh Dinkes Aceh Besar, di Aceh Besar, beberapa waktu lalu. FOTO/ DOK DINKES ACEH BESAR

*Orientasi Program KIA

Selain pelatihan kegawatdaruratan, Dinas Kesehatan juga menyelenggarakan orientasi program kesehatan ibu dan anak (KIA). Program ini bertujuan memperbarui pengetahuan tenaga kesehatan terkait pedoman terbaru pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, hingga pemantauan tumbuh kembang balita.

“Setiap tahun ada pembaruan kebijakan atau panduan pelayanan. Maka tenaga kesehatan perlu terus di-upgrade agar tidak tertinggal,” tambah Neli.

Orientasi juga membekali bidan desa dengan keterampilan komunikasi efektif, sehingga mereka lebih mampu memberikan edukasi yang meyakinkan kepada ibu hamil maupun keluarganya.

*Peran Bidan Desa dalam Deteksi Dini

Bidan desa memiliki tanggung jawab besar dalam mendeteksi faktor risiko sejak awal. Mereka menggunakan instrumen skrining komplikasi untuk mengidentifikasi ibu hamil dengan risiko tinggi, seperti usia terlalu muda atau terlalu tua, anemia, gizi kurang, maupun penyakit penyerta.

“Dengan deteksi dini, bidan bisa segera memberikan intervensi. Misalnya, jika ibu hamil anemia, langsung diarahkan minum tablet tambah darah dan dipantau setiap kunjungan. Jika ada tanda bahaya seperti tekanan darah tinggi, segera dirujuk ke rumah sakit,” papar Neli.

Kendati itu, Neli mengakui masih ada tantangan yang dihadapi para bidan. Salah satunya adalah keterbatasan akses di daerah pedalaman dan pegunungan, di mana jarak ke puskesmas atau rumah sakit cukup jauh.

“Kadang bidan desa harus berjalan kaki atau menyeberang sungai untuk sampai ke rumah ibu hamil. Kondisi ini tentu membutuhkan dedikasi tinggi. Karena itu, kami terus mendukung mereka dengan pelatihan, insentif, dan peralatan yang memadai,” jelasnya.

Selain itu, tantangan lain adalah rendahnya kepatuhan sebagian masyarakat dalam mengikuti saran bidan, seperti rutin memeriksakan diri atau mengonsumsi tablet tambah darah.

Plt Kadis Kesehatan Aceh Besar Neli Ulfiati SKM MPH.

*Dukungan Lintas Sektor

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Dinas Kesehatan berkolaborasi dengan lintas sektor. Pemerintah gampong didorong untuk mendukung bidan desa, baik melalui penyediaan transportasi, fasilitas rumah dinas, maupun dukungan operasional lainnya.

“Kami juga melibatkan kader Posyandu dan PKK untuk mendampingi bidan desa. Jadi, edukasi kepada masyarakat tidak hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga oleh tokoh lokal yang lebih dekat dengan warga,” tambah Neli.

Dengan penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan dukungan lintas sektor, Neli berharap angka risiko kehamilan di Aceh Besar dapat terus ditekan.

“Kami ingin tidak ada lagi kasus ibu hamil terlambat dirujuk karena tenaga kesehatan tidak siap atau kurang informasi. Semua bidan dan tenaga medis harus percaya diri, terampil, dan sigap dalam memberikan pelayanan,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi dedikasi para bidan desa yang sering bekerja dalam kondisi penuh keterbatasan.

“Dedikasi mereka luar biasa. Kami ingin memastikan mereka selalu mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat,” pungkasnya.(Why)