NewsOlahraga

Dibentuk Wadah Penyelesaian Sengketa Pemain Liga

1015
Peserta seminar. Foto : pssi.org

posaceh.com, Jakarta – PSSI menggelar seminar mengenai contractual dispute atau perselisihan kontrak pemain dan NDRC (National Dispute Resolution Chamber atau badan penyelesaian sengketa nasional) pada 28-29 Maret 2024 di Jakarta.

Acara dibuka oleh Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha Destria bersama dua orang anggota Komite Eksekutif PSSI, Khairul Anwar dan Muhammad.

“Hari ini PSSI kali pertama mengadakan seminar yang berbasis untuk better football governance. Atas arahan Ketua Umum PSSI Erick Thohir, PSSI mulai mengedepankan good corporate governance di area football. Kita harus mengerti ekosistem dan regulasi sepak bola dari mulai Internasional FIFA sampai dengan level lokal. NDRC akan kita hidupkan kembali,” buka Tisha.

Pembentukan NDRC Indonesia diawali dengan acara seminar yang diselenggarakan PSSI dengan melibatkan FIFA, FIFPRO, APPI serta perwakilan klub Liga 1 dan Liga pada 2019.
PSSI ditunjuk FIFA sebagai federasi pilot project dalam pengembangan NDRC di mana nantinya akan menjadi tempat pengaduan, khususnya pemain di liga setempat. NDRC diharapkan juga dapat menjadi wadah penyelesaian masalah dan sengketa yang berhubungan dengan sepak bola.

Peserta dari kegiatan ini adalah perwakilan dari semua klub-klub Liga 1 dan 2.
“Hari ini kami PSSI bersama dengan klub-klub memberikan pemahaman dari sumber yang ahli, yakni konsultan independen dari Inggris, untuk bisa membagikan pengalamannya bagaimana caranya menyusun sebuah kontrak yang keseimbangan antara klub dan pemain,” jelas Tisha.

“Bagaimana caranya memecahkan masalah-masalah arbitrase, bagaimana pemahaman mengenai football tribunal, lalu hukum olah raga, keilmuan di hukum olah raga menjadi satu hal pondasi yang sangat penting untuk menjadi federasi kelas dunia. Bahwa kita saat ini tengah berbenah di area football governance and administration. Harapannya adalah ke depan klub-klub akan lebih stabil memiliki dan mematuhi terhadap club licensing dan memiliki legal administration yang kuat. Apabila itu kuat, maka sepak bola Indonesia pasti akan lebih hebat,” tuturnya.

Pengisi materi dalam kegiatan ini adalah Dev Kumar Parmar (Pengacara olahraga Internasional yang juga Direktur Utama Parmar Sports) serta Rizky Fatmala (perwakilan dari NDRC PSSI).

Kegiatan hari pertama adalah pembahasan mengenai perselisihan kontrak (contractual disputes) pemain, pengadilan (trials) dan kontrak pra-negosiasi (pre-negotiation contract) yang dibawakan oleh Dev Kumar.

Materi ini lebih menitikberatkan suatu tempat penyedia layanan hukum dan pengacara, di mana mereka mengurusi masalah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa atlet.

Mereka ini juga rekanan dari FIFA, TAS/CAS, beberapa klub dan federasi seperti Inggris, Spanyol, Tiongkok, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Brasil, Bolivia, Slovakia dan Hungaria. Selain itu, mereka juga mengurusi manajemen atlet dan pemain, lalu pengembangan bisnis dalam olah raga.

Kemudian di hari kedua, pembahasannya mengenai biaya maksimal yang diterima oleh agen (maximum agent fee) yang juga dibawakan oleh Dev Kumar Parmar.
Dilanjutkan mengenai apa itu NDRC yang dibawakan oleh Rizky Fatmala.

Hari kedua, pemberi materi dan peserta lebih aktif dalam berinteraksi. Masukan, saran dan berbagai pertanyaan terlontar dari para peserta.

“Acara ini buat kita sebagai perwakilan dari klub, sangat bagus dan bermanfaat. Karena di acara ini PSSI memanggil lawyer yang certified by FIFA, untuk menjelaskan mengenai aturan-aturan kasus pemain termasuk mekanismenya dan lainnya.

Jadi ini suatu penyegaran bagi kita semua dengan adanya aturan baru, sehingga mudah-mudahan dengan adanya aturan baru ini bisa meregulasikan semua hal yang berkaitan dengan mekanisme transfer pemain.

Mudah-mudahan kedepannya PSSI bisa banyak melakukan acara-acara workshop seperti ini, untuk menambah serta memperkaya ilmu kita sebagai klub, untuk bisa terus memperbaiki industri sepak bola di Indonesia,” kata salah satu peserta, Teddy Tjahjono. (pssi.org)

Exit mobile version