Daerah

Dampak Ekonomi dan Kurban Tekan Pembelian Sapi saat Meugang Idul Adha 1447 H

31
×

Dampak Ekonomi dan Kurban Tekan Pembelian Sapi saat Meugang Idul Adha 1447 H

Sebarkan artikel ini
Penjual daging meugang di Jalan Soekarno-Hatta terpantau di jual dengan harga mencapai Rp170 ribu per kilogram, Senin (25/5/2026). FOTO/ RINALDI

posaceh.com, Kota Jantho — Tradisi meugang menjelang Idul Adha 1447 Hijriah di Kabupaten Aceh Besar tahun ini diwarnai dinamika harga serta penurunan daya beli masyarakat. Harga daging sapi kualitas nomor satu di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta terpantau mencapai Rp170 ribu per kilogram pada Senin (25/5/2026).

Seorang pedagang daging sapi, Zulfan, mengatakan harga tersebut masih berpotensi mengalami kenaikan hingga Rp180 ribu per kilogram, terutama jika permintaan meningkat pada puncak meugang.

“Harga daging kualitas nomor satu saat ini Rp170 ribu per kilogram. Bisa saja naik menjadi Rp180 ribu jika permintaan tinggi,” ujarnya.

Meski demikian, Zulfan memastikan ketersediaan stok daging sapi masih aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.

Selain daging, ia juga menjual tulang sapi dengan harga bervariasi. Tulang yang masih memiliki banyak daging dibanderol Rp100 ribu per kilogram dan cukup diminati sebagai bahan masakan seperti sop. Sementara itu, tulang dengan sedikit daging dijual seharga Rp80 ribu per kilogram.

Di tengah pasokan yang relatif stabil, Zulfan mengungkapkan adanya penurunan jumlah pembeli dibandingkan meugang tahun sebelumnya. Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih serta meningkatnya distribusi daging kurban menjadi faktor utama penyebab turunnya daya beli.

“Pembeli menurun karena kondisi ekonomi yang belum membaik. Selain itu, banyak masyarakat tidak membeli karena sudah mendapatkan daging kurban. Akibatnya, hingga sore hari masih banyak daging pedagang yang belum terjual,” jelasnya.

Ia memperkirakan pembelian kemungkinan terjadi pada meugang terakhir, meskipun belum tentu signifikan karena pengaruh distribusi daging kurban dinilai cukup besar, khususnya bagi masyarakat kelas bawah.

Menurutnya, kondisi serupa tidak hanya terjadi di lokasi ia berjualan, tetapi juga berpotensi terjadi di Pasar Lambaro dan Pasar Ketapang, di mana jumlah pembeli diperkirakan menurun dibandingkan meugang Idul Fitri.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tradisi meugang tetap berlangsung di tengah masyarakat, namun mengalami penyesuaian akibat tekanan ekonomi serta perubahan pola konsumsi menjelang Hari Raya Idul Adha.(Rnld)