InternasionalOlahraga

Cape Verde Kisah Cinderella Piala Dunia, Air Mata Tahan Juara Eropa

21
×

Cape Verde Kisah Cinderella Piala Dunia, Air Mata Tahan Juara Eropa

Sebarkan artikel ini
Kiper Cape Verde Vozinha (tengah) tampil luar biasa selama pertandingan Grup H Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Tanjung Verde di Stadion Atlanta, Senin (15 Juni 2026) malam. (Roberto SCHMIDT/AFP)

posaceh.com, Banda Aceh — Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan kisah indah. Tim debutan Cape Verde membuat keajaiban dengan menahan juara Eropa, Spanyol. Melihat apa yang terjadi kepada tim debutan lain di Piala Dunia 2026, Curacao, tak ada ekspektasi tinggi yang mengiringi aksi pertama Cape Verde di ajang Piala Dunia 2026.

Curacao mengawali kiprah di Piala Dunia 2026 dengan kekalahan telak 1-7 dari Jerman. Tetapi, Cape Verde nyatanya tak berakhir seperti Curacao. Alih-alih jadi bulan-bulanan, negara yang terdiri dari kumpulan pulau kecil di lepas pantai barat Afrika itu membuat keajaiban.

Cape Verde mampu menahan imbang juara Piala Eropa 2024, Spanyol, dalam laga pertama Grup H di Stadion Atlanta, Amerika Serikat, Senin (15/6/2026) atau Selasa dini hari WIB.

Laga Spanyol vs Cape Verde berujung dengan skor kacamata meski sang juara Eropa melepas total 27 tembakan.

Dominasi total Spanyol tak berujung apa-apa. Sebanyak 734 operan pasukan La Furia Roja saat menghadapi Cape Verde hanya jadi pemanis catatan statistik, tanpa punya pengaruh ke skor akhir. Sejak 1966, satu-satunya tim yang mencatat lebih banyak operan dalam pertandingan Piala Dunia tanpa mencetak gol adalah tim Spanyol sendiri, persisnya saat mereka saat melawan Maroko pada tahun 2022 sebanyak 926 operan.

“Bagi saya, merupakan sebuah kehormatan untuk mewakili negara yang saya cintai,” tutur kiper Cape Verde, Vozinha, yang berumur 40 tahun.

Vozinha jadi salah satu bintang Cape Verde. Sepanjang 90 menit tampil, Vozinha sibuk membuat tujuh penyelamatan. “Kami berasal dari tempat yang sangat kecil, dan jalan kami menuju kelolosan juga sangat sulit,” tutur Vozinha saat wawancara.

“Hari ini mimpi kami menjadi kenyataan dengan bisa bertanding melawan tim seperti Spanyol. Saya sangat bangga kepada semua orang yang terlibat dalam proses tersebut,” katanya menambahkan, dilansir dari The Athletic.

Hasil imbang melawan Spanyol sudah menjadi dongeng cinderella Cape Verde di Piala Dunia.

Mereka datang sebagai negara ketiga dengan populasi terkecil yang pernah bermain di Piala Dunia. Jumlah penduduk Cape Verde sekitar 525.000 jiwa. Dalam konteks ini, Cape Verde hanya berada di belakang Islandia dan Curacao. Negara kecil yang jumlah penduduknya hanya seperempat Kota Depok ini mampu membuat frustrasi Spanyol, juara Piala Dunia 2010.

“Saya menangis setelah pertandingan karena ketika kecil saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya, dan mereka tidak bisa berada di sini,” ujar Vozinha soal momen haru dirinya setelah pertandingan.

“Mereka meninggal beberapa tahun lalu. Ibu saya juga tidak bisa berada di sini karena masalah visa dan biaya yang harus kami keluarkan untuk itu. Kami tidak berhasil menyelesaikannya tepat waktu.”

“Kami bekerja dalam hidup untuk mendapatkan momen-momen seperti ini. Sekarang saya berusia 40 tahun, tetapi saya belum menjadi pemain profesional hingga usia 25 tahun. Ini adalah hadiah atas seluruh perjalanan ini,” tutur Vozinha, pemain Chaves yang pernah membela AS Trencin itu.(Rnld)