News

Cabai Merah Bener Meriah Diterbangkan ke Jakarta, Petani Masih Jalan Kaki Bawa ke Bireuen

414
×

Cabai Merah Bener Meriah Diterbangkan ke Jakarta, Petani Masih Jalan Kaki Bawa ke Bireuen

Sebarkan artikel ini
Petani Bener Meriah mengangkut hasil pertanian ke Bireuen atau Lhokseumawe dengan berjalan kaki melewati Gunung Salak, Bener Meriah, Selasa (16/12/2025. FOTO/FB.SCREENSHOT

posaceh.com Jakarta – Pemerintah memastikan distribusi hasil pertanian warga terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah, tetap berjalan melalui jalur udara.

Hasil pertanian seperti cabai dan komoditas pertanian lainnya diterbangkan ke Posko Halim, Jakarta, menggunakan pesawat Hercules dan helikopter TNI maupun pesawat swasta dari Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah.

Bupati Bener Meriah Tagore Abubakar menyampaikan transportasi hasil panen melalui jalur udara dilakukan karena distribusi melalui jalur darat belum memungkinkan dampak bencana.

Sejak 8 Desember 2025, pesawat Hercules dan armada udara TNI telah digunakan secara rutin untuk mengangkut hasil bumi warga ke Jakarta, bersamaan dengan pengiriman bantuan kemanusiaan ke daerah terdampak.

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut amanat Presiden RI Prabowo Subianto agar setiap pesawat Hercules maupun helikopter yang membawa logistik bantuan bencana ke Bandara Rembele juga mengangkut hasil tani warga saat kembali ke Jakarta.

Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan para petani terdampak bencana tetap memperoleh pendapatan dari hasil panen mereka.

“Percayalah pemerintah akan bekerja sangat keras. Habis-habisan untuk membantu bapak-bapak ibu-ibu sekalian di sini. Kita akan bersama bapak-bapak ibu-ibu, jangan khawatir anda tidak sendiri,” ujar Prabowo saat mengunjungi titik-titik pengungsian di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah pada pekan lalu.

Pemerintah memastikan bahwa skema ini merupakan bentuk komitmen untuk memastikan bantuan kebencanaan dan roda perekonomian masyarakat berjalan beriringan.

Namun sampai Rabu (17/12/2025) masih ada petani di Bener Meriah membawa hasil pertanian ke Bireuen dan Lhokseumawe dengan berjalan kaki seratusan km selama dua hari untuk mendapatkan bantuan atau menukar cabai dengan kebutuhan pokok.

Bahkan ada porter yang menerima upah untuk membawa hasil pertanian ke Bireuen atau Lhokseumawe dengan berjalan kaki.

Tentunya, ini patut dipertanyakan, hasil pertanian tetap dipanggul ke pesisir, padahal sudah ada yang mengangkut ke Jakarta via udara.(Muh/*)