posaceh.com, YERUSALEM – Sejak agresinya pada 7 Oktober 2023, Israel telah mempertontonkan kebiadabannya kepada dunia di Jalur Gaza, Palestina. Dengan serangan udara, pasukan penjajah menghancurkan 31 masjid di wilayah yang diblokade tersebut.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama yang berbasis di Gaza mengatakan, serangan udara Israel terakhir di jalur Gaza telah menghancurkan lima masjid. Dalam pernyataannya pada Ahad (22/10/2023), kementerian menjelaskan, jumlah total masjid yang dihancurkan menjadi 31 bangunan sejak 7 Oktober.
Salah satu warga Gaza, Abeer Z Barakat menjelaskan, otoritas keagamaan setempat telah memberi fatwa jika umat Islam tidak disarankan untuk pergi ke masjid. Demi keamanan, mereka diimbau untuk shalat di rumah termasuk pada hari Jumat.
Dilansir dari Middle East Monitor, Ahad (22/10/2023), Israel juga melakukan pengeboman pada Sabtu (21/10/2023) terhadap beberapa situs sipil seperti markas kementerian, stasiun radio Quran kementerian dan sebuah gereja. Dikatakan bahwa 10 karyawan dari kementerian meninggal dunia dalam serangan itu, sedangkan beberapa orang lainnya telah terluka.
Anak-anak juga menjadi korban dari kekejian Zionis. Kementerian Kesehatan Palestina mencatat, lebih dari 1.750 anak telah terbunuh oleh serangan udara Israel.
Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), memperingatkan pada Ahad (22/10/2023) bahwa setidaknya ada 120 bayi yang baru lahir di inkubator di rumah sakit Gaza yang dilanda perang berisiko karena bahan bakar habis di jalur yang diblokade.
“Saat ini kami memiliki 120 neonatus di inkubator, di mana kami memiliki 70 neonatus dengan ventilasi mekanis, dan tentu saja, di sinilah kami sangat prihatin,” kata Juru Bicara Unicef Jonathan Crickx, dilansir dari Ahram Online, Ahad (22/10/2023).
Rumah sakit yang penuh dengan pasien dan orang-orang telantar kehabisan pasokan medis dan bahan bakar untuk generator, memaksa dokter untuk melakukan operasi dengan jarum jahit. Petugas medis juga menggunakan cuka dapur sebagai disinfektan, dan tanpa anestesi.
Tujuh bangsal spesialis di Gaza merawat bayi prematur untuk membantu pernapasan dan memberikan dukungan kritis, misalnya ketika organ mereka tidak cukup berkembang.
“Jika mereka (bayi) dimasukkan ke dalam inkubator ventilasi mekanis, dalam artian, jika Anda memotong listrik. Kami khawatir tentang kehidupan mereka,” kata juru bicara itu.
Banyak keluarga, termasuk wanita hamil, telah terbunuh akibat serangan Israel. Setiap hari, orang tua dapat dilihat di jalan-jalan yang hancur membawa mayat bayi dengan kain kafan putih.“Kami telah mencoba dengan sia-sia untuk menyelamatkan bayi yang belum lahir dari seorang wanita yang terbunuh dalam serangan udara di rumah keluarganya,” kata dokter Rumah Sakit Najjar di Rafah pada hari Kamis.
Beberapa jam sebelumnya, delapan anak tewas saat mereka tidur di sebuah rumah di Khan Yunis di Gaza selatan.“Kekurangan pasokan penting, termasuk ventilator, memaksa dokter untuk menjatah perawatan,” kata Dr Mohammed Qandeel dari Rumah Sakit Nasser Khan Yunis.
Puluhan pasien terus tiba dan dirawat di koridor yang ramai dan gelap karena rumah sakit mempertahankan listrik untuk unit perawatan intensif dan inkubator untuk bayi baru lahir. “Ini memilukan,” kata Qandeel. “Setiap hari, jika kami menerima 10 pasien yang terluka parah, kami harus mengelola dengan mungkin tiga atau lima tempat tidur ICU yang tersedia.”
Di tengah pemadaman listrik yang meluas, setidaknya 130 bayi prematur berada pada risiko besar karena kekurangan bahan bakar generator, kata WHO. “Tujuh rumah sakit di Gaza utara telah terpaksa ditutup karena kerusakan akibat serangan, kekurangan listrik dan persediaan, atau perintah evakuasi Israel,” tambah mereka.
WHO juga mengatakan bahwa sekitar 1.000 orang yang membutuhkan dialisis juga akan berisiko jika generator berhenti. “Situasi di Gaza sangat buruk,” kata direktur Operasi UNRWA di Gaza, memperingatkan bahwa pasokan kemanusiaan sangat terbatas dan makanan serta air minum menjadi langka. “Kami membutuhkan jalur bantuan pasokan yang berkelanjutan untuk menghindari bencana di jalur ini,” tambahnya.
Pada Sabtu, 20 truk bantuan diizinkan memasuki Gaza dari Mesir melalui penyeberangan Rafah. Namun, konvoi membawa sekitar 4 persen dari kebutuhan impor rata-rata per hari sebelum perang dan “sebagian kecil dari apa yang dibutuhkan setelah 13 hari pengepungan total”, kata badan kemanusiaan PBB OCHA.
Orang-orang Palestina yang berlindung di sekolah dan kamp tenda yang dikelola PBB kehabisan makanan dan air kotor. Pemadaman listrik telah melumpuhkan sistem air dan sanitasi. Kasus cacar air, kudis, dan diare terus meningkat karena kurangnya air bersih, kata OCHA.
