Bhoi Kuasai Pasar Kue Tradisional di Banda Aceh

  • Bagikan
Mardiah, saat melayani pembeli di Pasar Aceh, Kota Banda Aceh, Kamis (17/11/2022). FOTO/ WAHYU DESMI

posaceh.com, Banda Aceh – Penjualan kue tradisional Aceh kian meningkat pasca pandemi Covid-19. Satu kue khas Aceh yang menguasai penjualan di Banda Aceh adalah bhoi (bolu ikan). Demikian disampaikan seorang pedagang kue tradisional khas Aceh di satu pusat perbelanjaan di Banda Aceh, Kamis (17/11/2022).

Mardiah, seorang pedagang kue tradisional khas Aceh itu mengungkapkan, penjualan kue khas Aceh sampai saat ini, pasca pandemi mengalami peningkatan. Dalam peningkatan penjualan tersebut, yang menjadi incaran para pembeli merupakan kue bolu ikan, atau yang biasa disebut dengan kue bhoi.

“Setiap ada pembeli yang datang, rata-rata yang dibelinya kue bhoi. Jika kita tidak menyediakan stok kue bhoi tersebut, maka para pembeli akan mencari dari para pedagang lainnya. Bahkan, kita merasa gagal sebagai pedagang jika tidak menyediakannya,” katanya.

Berbagai macam Kue Khas Aceh yang di jajakan pedagang di Pasar Aceh, Kota Banda Aceh, Kamis (17/11/2022).
FOTO/ WAHYU DESMI

Ia menjelaskan, berbeda pada saat masa pandemi, proses jual beli sering kali harus dihentikan. Hal tersebut dikarenakan, pada masa pandemi tidak ada pengunjung yang datang. Namun pasca pandemi ini, para pengunjung dari berbagai daerah, baik dari dalam Provinsi Aceh tersendiri, maupun dari luar provinsi, dan bahkan dari luar negeri mulai berdatangan. Hal itu juga, merupakan jadi faktor utama dalam peningkatan penjualan saat ini.

“Kita sebagai pedagang kue khas, merasa sangat ketergantungan dengan para pengunjung atau wisatawan. Hal itu dikarenakan, kue khas tersebut sering kali dijadikan sebagai buah tangan, oleh para pengunjung atau wisatawan yang datang ke Kota Banda Aceh,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah senantiasa memberikan dukungan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, baik itu kepada para pedangan kue khas, maupun masyarakat lainnya. Hal itu dapat dilakukan dengan cara mempermudah proses kedatangan para pengunjung atau wisatawan, baik itu dalam hal proses melengkapi data, seperti harus dilengkapi surat vaksin maupun data lainnya.

“Jika proses melengkapi data dipermudah, dengan sendirinya dapat meningkatkan jumlah para pengunjung dan wisatawan tersebut. Hal itu juga, dengan sendirinya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Masyarakat yang makmur, merupakan lambang kesuksesan suatu pemerintahan,” tegasnya.

Mardiah juga menambahkan, ada bebagai macam Kue Khas Aceh, yang di jajakannya di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Banda Aceh tersebut, dan untuk harganya juga juga bervarian perbungkusan/kotak/bambu/gram/kilogram (kg), dan per piecesnya (pcs).

Berbagai kue khas dan varian harganya tersebut, seperti Bolu Ikan (bhoi) yang biasa dijual Rp 10 ribu/bungkus, Kekarah Rp 10 ribu/bungkus, Bugring Rp 10 ribu/bungkus, Dodol Rp 5 ribu/bungkus, Meuseukat Rp 5 ribu/bungkus, Wajek Rp 5 ribu/bungkus, Manisan Pala Rp 15 ribu/kotak, Bada Reuteuk Rp 15 ribu/250 gram, Umpieng Beras Rp 25 ribu/bambu, Pisang Sale Rp 35 ribu/kg, dan Empieng Melinjo Rp 70 ribu/kgnya.

“Kita juga menyediakan berbagai macam kue khas lainnya serta bubuk kopi Khas Aceh,” tutur Mardiah, saat mengakhiri keterangannya. (Wahyu Desmi)

  • Bagikan