posaceh.com, Jakarta – BYD Malaysia resmi menunjuk Inokom Corporation, anak usaha Sime Motors, sebagai mitra perakitan kendaraan Completely Knock Down (CKD).
Pilihan ini berbeda dengan langkah BYD di Indonesia yang membangun dan mengoperasikan pabrik sendiri di Subang, Jawa Barat.
Kesepakatan itu dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang diteken di kantor pusat global BYD di Shenzhen, Tiongkok.
Inokom berbasis di Kulim, Kedah, dan sudah merakit kendaraan untuk sejumlah produsen global.
“Perakitan lokal adalah bagian penting dari komitmen jangka panjang BYD terhadap Malaysia. Bermitra dengan Sime untuk merakit di Inokom memungkinkan kami membangun di atas kapabilitas manufaktur otomotif yang sudah mapan seiring kami memajukan rencana perakitan lokal,” kata Jacob Ma, Managing Director BYD Malaysia, dikutip Just Auto , Kamis (15/10/2026).
Sejak 1 Juli, Malaysia mewajibkan mobil listrik impor utuh atau lengkap (CBU) senilai cost, Insurance, and Freight (CIF) minimal 200.000 ringgit atau setara Rp 883 juta (kurs Rp 4.415), dengan tenaga minimal 180 kW.
Menurut laporan Nikkei Asia, Jumat (16/10), sejumlah model terlaris BYD di Malaysia dijual di bawah ambang batas tersebut, sehingga perakitan lokal menjadi kebutuhan yang mendesak.
Pabrik sendiri batal
BYD sebelumnya mengumumkan rencana pembangunan pabrik sendiri di Tanjung Malim, Perak, pada Agustus 2025. Rencana itu kemudian dikesampingkan.
Laporan The Edge pada Maret, dikutip Nikkei Asia, rencana tersebut diragukan setelah BYD tidak menyepakati persyaratan dari Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) Malaysia.
Salah satu ganjalannya dilaporkan berupa kewajiban mengekspor hingga 80 persen kendaraan rakitan lokal.
BYD sendiri tidak menjelaskan alasan resmi pembatalan itu.
Nikkei Asia mencatat BYD menjadi penjual EV terbesar di Malaysia pada tahun 2025 dengan 14.407 unit, tetapi kini terjadi tergerus Proton.
Data Departemen Transportasi Jalan Malaysia yang dihimpun paultan.org mencatat 24.857 mobil listrik Proton terdaftar pada Januari hingga September 2026, sementara BYD 8.087 unit.
Pabrik BYD di Subang
Di Indonesia, BYD menempuh jalur yang berbeda. Pabrik BYD di Subang Smartpolitan Industrial Park diresmikan pada 3 September 2026, berdiri di lahan 126 hektare dengan investasi Rp11,6 triliun dan kapasitas maksimal 150 ribu unit per tahun.
Berdasarkan data Gaikindo, produksi BYD di Indonesia sudah berjalan sejak April dengan total 32.040 unit hingga September.
Sejalan dengan itu, impor utuh BYD sepanjang Januari hingga September 2026 tinggal 1.108 unit, dari 27.795 unit pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara di Malaysia, BYD belum mengumumkan model yang akan dirakit di Inokom maupun jadwal produksinya.
“Kami bertujuan mendekatkan keahlian BYD di bidang kendaraan energi baru dan teknologi baterai ke pasar Malaysia, sambil berkontribusi pada pengembangan industri otomotif lokal yang berkelanjutan,” ujar Ma.(Muh/*)











