Banghas

Bayang-Bayang di Jalan Terang

764
×

Bayang-Bayang di Jalan Terang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi intelijen di dunia kampus Aceh

posaceh.com, Banda Aceh – Kopi hitam diseruputnya dengan nikmat, gelas itu hampir tak bersisa. Pemuda itu duduk di sebuah warung kopi di Banda Aceh. Berkacamata, baju kemeja dengan celana hitam, pria muda itu santai duduk di pojokan, sambil mengetik di laptopnya. Namanya Arlan, mahasiswa semester akhir yang baru pindah dari Medan. Setidaknya, itu yang diketahui teman-temannya. Ia cepat berbaur, aktif dalam diskusi kampus, dan sering terlihat di acara senat mahasiswa.

Ada sesuatu yang tak diketahui siapa pun, Arlan sebenarnya adalah seorang intel yang ditugaskan untuk mengamati gerakan mahasiswa di Aceh.

Pejabat mulai resah dengan meningkatnya demonstrasi yang menyerukan reformasi dan tuntutan aspirasi daerah lainnya.

Mencari Celah

Arlan mendekati Agam, seorang mahasiswa vokal yang sering memimpin aksi. Dengan gaya santai dan pemikiran tajam, Agam menerima Arlan ke dalam lingkaran diskusinya.

“Aku cuma ingin Aceh maju tanpa ada yang menindas rakyat kecil,” kata Agam suatu malam di warung kopi tepi kali.

Arlan mengangguk. Dalam hati, ia mengakui bahwa Agam memang memiliki kepedulian tinggi. Tapi tugasnya bukan untuk menilai benar atau salah, melainkan mengamati dan melaporkan.

Seiring waktu, Arlan mulai menyadari bahwa gerakan ini tidak seperti yang diceritakan atasan di Jakarta. Mereka bukan sekadar pembuat onar, melainkan kelompok yang benar-benar peduli pada nasib rakyat Aceh.

Dilema Tugas

Saat Agam dan kawan-kawannya merencanakan aksi besar menentang kebijakan pemerintah, Arlan dihadapkan pada pilihan sulit. Jika ia melaporkan semuanya, kemungkinan besar Agam akan ditangkap. Tapi jika tidak, ia mengkhianati tugasnya.

Di malam sebelum aksi besar, Agam bercerita tentang keluarganya yang dulu menjadi korban konflik di Aceh. “Kami cuma ingin keadilan, Lan. Kau percaya kan, kalau rakyat punya hak untuk bersuara?”

Arlan terdiam. Ia ingat latihannya dulu: jangan terlibat emosi, tetap objektif. Tapi di dalam dirinya, ada perasaan yang tak bisa ia abaikan.

Keputusan Sulit

Pagi itu, saat ratusan mahasiswa bersiap turun ke jalan, Arlan memutuskan untuk tidak melapor sepenuhnya. Ia hanya memberikan informasi umum kepada atasannya, tanpa menyebut rencana detail aksi.

Di tengah aksi yang berlangsung damai, tiba-tiba muncul provokator yang mencoba membuat kerusuhan. Aparat mulai bergerak, menangkap mahasiswa, termasuk Agam.

Melihat itu, Arlan bergerak cepat. Dengan identitasnya sebagai intel, ia mendekati salah satu perwira dan membisikkan sesuatu. Tak lama, Agam dilepaskan. Agam kebingungan, tak tahu bahwa seseorang yang berjasa melepaskannya adalah Arlan.

Saat itu, Arlan sadar bahwa dalam dunia intelijen, tak semuanya hitam putih. Terkadang, ia harus memilih antara kepatuhan dan nurani.

Bayang-Bayang

Beberapa bulan kemudian, Arlan menghilang. Nomornya tak bisa dihubungi. Agam bertanya ke sana kemari, tapi tak ada yang tahu di mana dia.

Namun, dalam sebuah aksi mahasiswa berikutnya, Agam menemukan secarik kertas di bawah cangkir kopinya di warung langganan mereka.

“Jaga dirimu. Suara rakyat harus tetap hidup.”

Agam tersenyum. Di dunia yang penuh bayang-bayang, kadang ada orang yang memilih menjadi cahaya, meski tak pernah terlihat.(Hasnanda Putra)