posaceh.com, Bangkok – Banjir bandang menyapu bersih taman suaka alam yang populer di Thailand Utara, Kamis (3/10/2024) malam. Petugas terpaksa memindahkan sekitar 100 ekor gajah dan puluhan wisatawan asing masih terjebak.
Video dan gambar dramatis dari Elephant Nature Park dekat Kota Chiang Mai menunjukkan puluhan ekor gajah mengarungi perairan setinggi perut untuk mencari tempat lebih tinggi.
“Itu menjadi evakuasi terbesar yang pernah kami lakukan untuk menyelamatkan gajah, karena air naik dengan cepat,” kta Saengduean “Lek” Chailert, pendiri Elephant Nature Park kepada CNN, Jumat (4/10/2023).
Dia menyebut banjir tersebut menjadi yang terparah yang pernah dialami taman tersebut. Video menunjukkan staf taman yang bekerja dengan gajah, yang dikenal sebagai mahout, berteriak, “Ayo, terus berjalan” saat mendesak hewan-hewan berkulit tebal itu keluar dari kandang untuk melewati banjir yang tinggi.
Meski banyak hewan yang berlindung di gunung terdekat pada Kamis (3/10/2024) dinihari, Saengduean mengatakan bahaya masih mengancam. “Ada beberapa hewan yang tidak bisa kami evakuasi, karena 13 ekor gajah dewasa masih terjebak di tempat tinggalnya dan mereka panik,” kata Saengduean.
Thailand Utara dilanda banjir besar dan tanah longsor dalam beberapa pekan terakhir ini akibat hujan deras yang dibawa oleh Topan Yagi, badai paling kuat di Asia tahun ini. Sehingga, menyebabkan puluhan orang tewas saat melanda wilayah tersebut pada pertengahan September 2024.

Pihak berwenang di Chaing Mai, tujuan wisata populer di Thailand, telah mengeluarkan peringatan akan potensi banjir karena permukaan air di sepanjang Sungai Ping, yang mengalir melalui kota mencapai tingkat yang berbahaya.
Dengan adanya banjir besar di sekitar taman dan air yang masih meninggi, pendiri suaka tersebut mengatakan akan menghadapi kemungkinan yang tidak diinginkan karena harus mengevakuasi hewan-hewan tersebut untuk kedua kalinya.
“Situasinya jauh lebih buruk dibandingkan kemarin, seraya menambahkan dia telah meminta bantuan mendesak dari pihak berwenang Thailand. Prioritasnya, mendapatkan perahu sehingga mahout dapat tinggal bersama gajah-gajah yang tersisa di taman agar mereka tetap tenang,” katanya.
“Kami sangat membutuhkan sukarelawan dan kandang karena kami harus memindahkan hewan-hewan tersebut ke pegunungan karena jalan-jalan di kedua arah terputus,” kata pihak taman nasional dalam sebuah postingan di Facebook.
Elephant Nature Park merupakan pusat penyelamatan dan rehabilitasi gajah di pedesaan Chiang Mai yang telah menyelamatkan lebih dari 200 ekor gajah dari industri pariwisata dan penebangan kayu sejak didirikan pada tahun 1990an. Taman ini juga menjalankan program tur dan sukarelawan yang memungkinkan pengunjung mengamati hewan atau membantu pekerjaan konservasi.
Banyak gajah yang buta atau mengalami luka fisik, sehingga menghambat kemampuan mereka untuk melarikan diri dan mempersulit upaya evakuasi. “Di antara hewan-hewan yang dievakuasi, banyak gajah yang sakit, bahkan ada yang kesulitan berjalan dan kami harus membantu sampai ke kaki gunung,” kata Saengduean.
Selain gajah, taman ini adalah rumah bagi sekitar 5.000 hewan yang diselamatkan termasuk anjing, kucing, kuda, babi, dan kelinci. Beberapa di antaranya telah dievakuasi dalam beberapa hari terakhir ini setelah pihak berwenang mengeluarkan peringatan banjir.
Kepala Departemen Taman Nasional Thailand, Atthapol Charoenchansa mengatakan puluhan petugas telah dikerahkan. Namun, katanya, petugas tidak dapat mencapai taman karena jalan yang terendam banjir, menurut National Broadcasting Television yang dikelola pemerintah.
Dia mengatakan mereka sangat membutuhkan perahu beralas datar dan sukarelawan untuk membantu mengevakuasi hewan-hewan yang tersisa. Beberapa desa di distrik Mae Rim di Chiang Mai telah terendam air dari limpasan hulu, media lokal melaporkan.
Gajah, hewan nasional Thailand, mengalami penurunan populasi liar dalam beberapa dekade terakhir ini karena ancaman dari pariwisata, penebangan hutan, perburuan liar, dan perambahan manusia terhadap habitat gajah.
Para ahli memperkirakan populasi gajah liar di Thailand telah menyusut menjadi 3.000-4.000 ekor, menurun dari 100.000 ekor pada awal abad ke-20.(Muh)











