Internasional

Badai Chido Hantam Pulau Mayotte Prancis, Pemukiman Penduduk Rata dengan Tanah

824
Sebuah kawasan perbukitan di Mayotte, wilayah teritorial Prancis hancur diterjang Badai Chido, Minggu (15/12/2024). FOTO/AP

posaceh.com, Cape Town – Siklon atau badai kuat Chido menghantam Pulau Mayotte, wilayah teritorial Prancis di Samudera Hindia, Sabtu (14/12/2024), diperkirakan ribuan orang tewas dan sebagian besar bangunan hancur. Pemerintah Prancis bergegas memberikan bantuan dengan kapal dan pesawat militer ke wilayah Mayotte yang miskin pada Senin (16/12/2024).

Pihak berwenang di Mayotte khawatir mungkin ribuan orang tewas akibat Badai Chido, meskipun jumlah korban tewas resmi pada Senin (16/12/2024) pagi sebanyak 14 orang. Tim penyelamat dan personel medis telah dikirim ke pulau di lepas pantai timur Afrika dari Prancis dan dekat wilayah Reunion Prancis dengan banyak perbekalan.

Stasiun televisi Prancis TF1 melaporkan Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau telah tiba di Mamoudzou, ibu kota Mayotte. “Diperlukan waktu berhari-hari untuk mengetahui jumlah korban jiwa,” katanya kepada media Prancis. Pihak berwenang Perancis mengatakan lebih dari 800 personel diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari mendatang.

Atap bangunan berhamburan di jalanan diterjang badai Chido di Mayotte, wilayah teritorial Prancis hancur diterjang Badai Chido, Minggu (15/12/2024). FOTO/AP

Dikatakan, tim penyelamat yang telah tiba masih menyisir kehancuran yang disebabkan oleh badai Chido ketika bencana tersebut melanda kepulauan padat penduduk yang berpenduduk sekitar 300.000 jiwa pada Sabtu (14/12/2024), seperti dilansir AP.

Prefek Mayotte,François-Xavier Bieuville, pejabat tinggi pemerintah Prancis di Mayotte, mengatakan kepada stasiun TV lokal Mayotte la 1ere, jumlah korban tewas mencapai beberapa ratus orang dan bahkan bisa mencapai ribuan orang. Dia mengatakan daerah kumuh yang terdiri dari gubuk-gubuk logam dan bangunan informal lainnya di Mayotte telah mengalami kerusakan parah,

Bahkan katanya, pihak berwenang berjuang untuk mengevakuasi korban tewas dan cedera setelah topan terburuk yang melanda Mayotte sejak tahun 1930-an. Dia menambahkan seluruh pemukiman telah rata dengan tanah, dan infrastruktur umum seperti bandara utama dan rumah sakit rusak parah dan pasokan listrik terputus.

Foto dari udara memperlihatkan kehancuran sebuah wilayah di Mayotte, wilayah teritorial Prancis hancur diterjang Badai Chido, Minggu (15/12/2024). FOTO/AP

Kerusakan pada menara kendali bandara berarti hanya pesawat militer yang dapat terbang ke Mayotte, sehingga mempersulit tindakan tanggap darurat. Mayotte merupakan wilayah termiskin di Perancis dan dianggap sebagai wilayah termiskin di Uni Eropa, namun menjadi target migrasi ekonomi bahkan dari negara-negara termiskin seperti Komoro dan Somalia karena standar hidup yang lebih baik dan sistem kesejahteraan Perancis.

Bieuville, prefek Mayotte, mengatakan akan sangat sulit untuk menghitung semua korban tewas dan banyak yang mungkin tidak akan pernah tercatat, sebagian karena tradisi Muslim yang menguburkan orang dalam waktu 24 jam setelah kematian dan juga karena banyaknya migran tidak berdokumen yang tinggal di pulau tersebut. .

Chido mengoyak Samudera Hindia baratdaya pada Jumat (13/12/2024) dan Sabtu (14/12/2024), juga mempengaruhi pulau-pulau terdekat, Komoro dan Madagaskar. Namun, Mayotte berada tepat di jalur topan dan terkena dampak terbesarnya. Chido membawa angin dengan kecepatan lebih dari 220 kilometer per jam , menurut dinas cuaca Prancis, menjadikannya topan kategori 4, yang terkuat kedua dalam skala tersebut.(Muh/*)

Exit mobile version