posaceh.com, Washington – Amerika Serikat menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai upaya penghambat utama perdamaian di Jalur Gaza, Palestina, bukan Hamas.
Presiden AS Joe Biden telah berusaha menengahi kesepakatan yang mencakup gencatan senjata sementara di Jalur Gaza sebagai bagian dari persetujuan pertukaran sandera. Namun, Netanyahu bersikap skeptis terhadap persyaratan ini.
Dia menegaskan Israel harus mempertahankan kehadirannya di perbatasan Jalur Gaza dan Mesir, yang tak bisa diterima oleh Hamas. Seorang pejabat AS bahkan menyatakan mereka melihat Netanyahu sebagai hambatan perdamaian yang lebih besar daripada Hamas.
Netanyahu bahkan tidak mau melakukan penukaran tahanan dengan Hamas, sehingga memicu gelombang protes dari keluarga sandera, seperti dilansir CNN, Jumat (8/11/2024).
Di Jalur Gaza, konflik yang berkepanjangan telah menelan lebih dari 43.000 korban jiwa warga Palestina dalam 13 bulan terakhir menurut otoritas kesehatan Hamas, yang didukung oleh data dari lembaga bantuan PBB.
IDF masih menginstruksikan warga sipil untuk mengungsi dari wilayah utara, dengan puluhan warga Palestina dilaporkan tewas pada Kamis (7/11/2024).
Sementara itu, Lebanon juga terdampak dengan 3.000 orang tewas dalam serangan udara Israel dalam enam minggu terakhir. Di Lebanon, Hizbullah yang merupakan kelompok militan Syiah terus melancarkan serangan terhadap Israel sebagai reaksi atas pengeboman di Gaza.
Pada Rabu, serangan udara Israel di lembah Bekaa menewaskan 30 orang di Lebanon, sementara IDF menyatakan telah membunuh 60 pejuang Hizbullah dalam 24 jam terakhir.(Muh/*)
