posaceh.com, Jakarta – Penjualan mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) mengalami tekanan dalam dua tahun terakhir.
Menurut PT Toyota Astra Motor (TAM), kondisi tersebut bukan disebabkan oleh menurunnya daya tarik produk.
Toyota meyakini penurunannya berkaitan erat dengan melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung segmen tersebut.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Jap Ernando Demily mengatakan, sejak awal program LCGC dibentuk pemerintah memiliki sejumlah tujuan strategis, bukan sekadar menghadirkan mobil dengan harga terjangkau.
Ernando menjelaskan, kebijakan LCGC pada awalnya dirancang agar semakin banyak masyarakat Indonesia memiliki akses untuk membeli mobil.
“Lalu, tujuan yang kedua adalah LCGC dibuat karena waktu itu semua negara mulai fokus dengan yang namanya eco car, karena semua negara pasti memikirkan konsumsi bahan bakar dan tentunya emisi gas buang,” ujar Ernando, kepada wartawan, saat ditemui di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, di ICE BSD, belum lama ini.
Selain mendukung efisiensi bahan bakar dan pengurangan emisi, program LCGC juga diharapkan mampu memperkuat industri otomotif nasional melalui penggunaan komponen lokal yang tinggi.
“Lalu, LCGC itu dibuat waktu itu karena konteksnya bagaimana mobil untuk sebagian besar rakyat Indonesia itu diproduksi, bahkan didesain oleh orang Indonesia, dan menciptakan lapangan pekerjaan, dan menciptakan multiplier effect, maka itu konten lokalnya tinggi sekali,” kata Ernando.
Menurut Ernando, secara historis program LCGC dapat dikatakan berhasil. Kehadiran segmen tersebut mampu memperbesar pasar otomotif nasional sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap total penjualan kendaraan di Indonesia.
Namun, kondisi tersebut berubah dalam dua tahun terakhir ketika penjualan LCGC mulai mengalami perlambatan.
Ernando menambahkan, sejauh ini jika dilihat angka penjualannya, LCGC berhasil diterima dengan baik.
Saat pertama diluncurkan, pasar otomotif membesar dan komposisi LCGC terhadap total market di Indonesia juga membesar.
“Tapi, kalau dilihat dua tahun terakhir ini, kelihatannya LCGC itu rada tertekan. Tapi, ini sejalan dengan komposisi middle class di Indonesia yang tertekan,” ujar Ernando.
Ernando menilai, mayoritas pembeli LCGC merupakan konsumen yang baru pertama kali membeli mobil.
Karena itu, ketika kondisi ekonomi kelas menengah melemah, permintaan terhadap mobil di segmen tersebut ikut terdampak.
“Normal lah, orang yang mampu beli mobil adalah yang middle class. Jadi, pada saat middle class-nya tertekan, maka first time buyer juga akan tertekan,” kata Ernando.
Ia berharap kondisi tersebut dapat membaik apabila pertumbuhan ekonomi nasional kembali menguat dan didukung kebijakan yang mampu mendorong daya beli masyarakat.
“Kalau makronya bisa tumbuh, ada policy yang bisa mendorong makro, maka aspiration middle class Indonesia sih akan bertambah. Dengan aspiration middle class yang bertambah, akses ke mobil juga bertambah, karena motorization ratio di Indonesia masih sebenarnya rendah sekali,” ujarnya.
Ernando menjelaskan, secara umum terdapat tiga motif masyarakat membeli mobil, yakni sebagai pembeli pertama (first time buyer), mengganti kendaraan lama, atau menambah jumlah kendaraan yang dimiliki.
Menurutnya, menurunnya penjualan LCGC juga bukan dikarenakan kehadiran mobil listrik China yang dipasarkan dengan harga murah.
“Nah, kalau kita lihat, LCGC itu mayoritas first time buyer. Sedangkan di EV, itu profil konsumennya agak berbeda dengan LCGC. Nah, first time buyer ini yang aspiration middle class, yang hari ini, secara makro, jumlahnya berkurang terus,” ujar Ernando.
Berdasarkan kondisi tersebut, Toyota menilai penurunan penjualan LCGC saat ini lebih dipengaruhi oleh menyusutnya jumlah konsumen kelas menengah dibandingkan berkurangnya minat masyarakat terhadap kendaraan di segmen tersebut.
Ernando mengatakan, penjualan LCGC menurun dikarenakan jumlah konsumen di middle class juga menurun.(Muh/*)











