Bahasa menunjukkan bangsa, suatu percakapan yang menunjukkan ciri khas sebuah peradaban. Lantas sebagai sebuah bangsa besar pada masa nya, apa bahasa resmi Aceh saat itu?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita bisa melihat terlebih dahulu bagaimana bahasa-bahasa lokal berkembang di Aceh di 23 kabupaten kota.
Bahasa di Aceh sebagaimana ditulis oleh Dr. Mohd Harun, M.Pd, Kepala Pusat Studi Bahasa Daerah Aceh, Universitas Syiah Kuala dalam artikelnya Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh, aceh.tribunnews (19/12/2017), menyebutkan bahwa Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki bahasa terbanyak di Pulau Sumatra.
Menurutnya, tercatat ada sepuluh bahasa yang masih digunakan oleh masing-masing etnis pemiliknya di Aceh, yaitu (1) bahasa Aceh, (2) bahasa Tamiang, (3) bahasa Gayo, (4) bahasa Alas, (5) bahasa Singkil, (6) bahasa Kluet, (7) bahasa Jamee, (8) bahasa Sigulai, (9) bahasa Devayan, (10) bahasa Haloban.
Dari sepuluh bahasa tersebut, ada bahasa yang dituturkan oleh mayoritas, yaitu bahasa Aceh dan ada pula bahasa yang dituturkan oleh minoritas, yaitu bahasa Haloban dan bahasa Kluet.
Bahasa Aceh, dikutip dari wikipedia, adalah sebuah bahasa yang dituturkan oleh suku Aceh yang terdapat di wilayah pesisir, sebagian pedalaman dan sebagian kepulauan di Aceh. Bahasa Aceh termasuk dalam rumpun bahasa Chamic, cabang dari rumpun bahasa Melayu – Polinesia, cabang dari rumpun bahasa Austronesia.
Bahasa Aceh tersebar terutama di wilayah pesisir Aceh. Bahasa ini dituturkan mulai dari Manyak Payed, Aceh Tamiang di pesisir timur sampai ke Trumon, Aceh Selatan di pesisir barat.
Lantas sejak kapan bahasa Aceh yang banyak digunakan daerah pesisir dan Ibukota ini menjadi bahasa utama di Provinsi Aceh. Benarkah Cristiaan Snouck Hurgronje berperan besar memajukan bahasa Aceh?
Bahasa Aceh dan Champa Kamboja
Aceh memiliki hubungan histori dengan bangsa Champa. Beberapa catatan penulis Aceh menyebut beberapa perkataan bahasa Champa mirip sekali dengan bahasa Aceh. Perbendaharan kata yang digunakan dalam dua bahasa ini sangat serupa menunjukan ada hubungan kedua bangsa ini di masa lalu.
Seorang penulis Mahrizal Paru dalam catatannya di media lokal, menulis tentang bahasa Aceh setelah berkunjung Ke Desa PraiThnung, Teqcho, dan Kampong Keh, Provinsi Kampot, dan Provinsi Koh Kong, Kamboja.
Dalam percakapannya dengan penduduk setempat menemukan sejumlah perkataan tersebut sama bunyinya seperti dalam bahasa Aceh, misalnya ‘boh itek’ (telur itik) disebut ‘boh tek’, ‘boh manok’ (telur ayam) disebut ‘boh manok’, ‘aneuk lumo’ (anak sapi) disebut ‘neuk lumo’, ‘cicem” disebut ‘cem’, ‘ceng’ (timbangan) di sebut ‘cing’, ‘u’ (kelapa) disebut ‘u’.
Bahasa Aceh dan Tagalog Filipina
Dalam percakapan visual VOA, antara Bahasa Indonesia dan Tagalog Filipina terdapat beberapa kesamaan kata antar negara ASEAN ini. Uniknya beberapa yang disebut mirip persis dengan Bahasa Aceh.
Bahasa Tagalog Filipina yang persis dengan Bahasa Aceh antara lain : Payong (Payung), Pinto (Pintu), Takot (Takut), Apoy (Api), Pulo (Pulau), Bansa (Bangsa) dan yang mendekati mirip ketika menyebut Baboy untuk Babi. Mungkin masih banyak perbendaharaan kata lain di Tagalog yang memiliki kesamaan dengan Bahasa Aceh.
Bahasa Resmi Melayu Aceh
Dennys Lombard dalam Buku Kerajaan Aceh Darussalam, menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan masa kerajaan Aceh dipimpin Sultan Iskandar Muda adalah bahasa Melayu. Penggunaan bahasa Melayu baik lisan dan tulisan ditemukan dari banyak sumber-sumber tersedia.
Berbagai teks yang digunakan penulis asing tentang Aceh hampir sebagian besar dari sumber berbahasa Melayu. Malah Dennys menyebutkan semua teks yang dipakai untuk meneliti sejarah pemerintahan Iskandar Muda ditulis dalam bahasa itu dan analisis linguistik menunjukkan bahwa pengaruh bahasa Aceh sangat sedikit, bahkan kadang kadang pantas dipertanyakan.
Salah satu maha karya tulisan dari Aceh adalah Kitab Bustanussalatin. Kitab yang bernama lengkap Bustanussalatin Fi Zikr Al-Awwalin Wal Akhirin, dikarang oleh Nuruddin Ar-Raniry pada abad ke 17 dalam bahasa Melayu (beraksara Arab Jawi).
Bustanus salatin menjadi buku terbesar dalam literatur klasik Melayu. Kitab ini ditulis pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dan disempurnakan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani.
Bahasa Melayu telah dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan di Aceh seperti Pasai dan Aceh Darussalam karena bahasa Melayu mempunyai pengaruh yang besar dalam penyebaran agama dan pembentukan kebudayaan Islam, tulis Istiqamatunnisak dalam Pengaruh Bahasa Melayu terhadap Kesusastraan Aceh Ditinjau dari Naskah Akhbār al-Karīm.
Bahasa Melayu juga dijadikan sebagai bahasa resmi atau bahasa ilmu pengetahuan di Aceh. Sejak adanya kerajaan Islam Pasai hingga kerajaan Aceh Darussalam, agama Islam telah sangat berkembang pesat sehingga pada saat itu bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa tulisan.
Naskah-naskah banyak yang ditulis dalam bahasa Melayu (Jawi), dan merupakan cakrawala baru baik dalam penyampaian agama maupun transformasi ilmu pengetahuan, karena naskah-naskah itu mengandung informasi yang sangat berharga. Oleh karena itu kebanyakan peninggalan-peninggalan tulisan pada masa dulu ditulis dalam bahasa Melayu, kecuali hikayat. Hikayat banyak yang ditulis dalam bahasa Aceh seperti “Akhbār alKarīm ”. Akhabarul Karim artinya Khabar Yang Mulia: orang Aceh melafadzkannya dengan “Akeubarôn Karim”.
Bahasa Melayu di Aceh dulu nya disebut bahasa Jawi atau Jawo. Perkembangan bahasa Melayu di Aceh disebut-sebut bermula dari bahasa Melayu-Pasai (Jawi-Pasai/ Jawoe) ke bahasa Melayu Aceh Darussalam setelah negeri tua itu ditaklukan Sultan Ali Mughayat Syah tahun 1524.
Perlu dicatat pula bahwa tak ada satu teks Eropa pun yang menyebutkan adanya dua bahasa ataupun bahasa yang bukan Melayu.
Setidak-tidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa Aceh pada waktu itu hanya mempunyai tempat yang kecil, tulis Lombard, dan bahwa di pelabuhan yang tingkatnya internasional dan gayanya kosmopolit itu bahasa Melayu menduduki tempat yang pasti lebih besar artinya. (Hasnanda Putra).











