Parlementaria

Kampung KB Upaya Pemko Banda Aceh Tingkatkan Pemberdayaan Warga

1897
×

Kampung KB Upaya Pemko Banda Aceh Tingkatkan Pemberdayaan Warga

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan keluarga Berencan (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Cut Azharida, SH FOTO/ ABDUL MUIZ

posaceh.com, Banda Aceh – Kampung Keluarga Berkualitas (KB) didesain sebagai upaya Pemerintah Kota Banda Aceh meningkatkan pemberdayaan keluarga di tingkat kampung atau yang setara melalui program kependudukan, KB, dan pembangunan keluarga (KKBPK), serta pembangunan di berbagai sektor, dalam rangka mewujudkan keluarga kecil berkualitas.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan keluarga Berencan (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Cut Azharida, SH, mengatakan, secara khusus, Kampung KB dibentuk untuk meningkatkan peran seluruh pihak dalam memfasilitasi, mendampingi, dan membina masyarakat untuk penyelenggaraan program KKBPK dan pembangunan sektor terkait.

“Selain itu, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pembangunan berwawasan kependudukan,” katanya, Selasa (22/3/2022).

DP3AP2KB Kota Banda Aceh melakukan penguatan kemitraan lintas sektoral Kampung Berkualitas (KB) sebagai upaya peningkatan kualitas Kampung KB yang ada di Kota Banda Aceh, di Aula DP3AP2KB kota Banda Aceh, Kamis (10/2/2022). 
FOTO/ DOK DP3AP2KB KOTA BANDA ACEH

Ia juga mengatakan, Kampung KB dapat dijadikan sebagai wahana pemberdayaan masyarakat melalui berbagai macam program yang mengarah pada upaya mengubah sikap, perilaku, dan cara berpikir masyarakat ke arah yang lebih baik.

“Diharapkan, kampung yang tadinya tertinggal dan terbelakang dapat sejajar dengan daerah lainnya yang sudah lebih baik. Masyarakat yang tadinya tidak memiliki kegiatan dapat bergabung dengan kelompok usaha yang produktif,” jelasnya.

Sesuai dengan keinginan Pemerintah, berdirinya Kampung KB ini diharapkan banyak bermanfaat bagi masyarakat khususnya warga Kota Banda Aceh. Pertama, Kampung KB bermanfaat mendekatkan pembangunan kepada masyarakat, karena program ini melibatkan semua sektor pembangunan.

“Dengan kata lain, Kampung KB tak hanya berbicara soal membatasi ledakan penduduk, tapi juga memberdayakan potensi warga Banda aceh agar berperan nyata dalam pembangunan,” terangnya.

 

Manfaat lainnya, adalah membangun masyarakat berbasis keluarga, mensejahterakan masyarakat, serta memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pelaksanaan integrasi program lintas sektor.

“Pembangunannya melibatkan peran berbagai pihak seperti swasta, instansi Pemerintah, organisasi kemasyarakatan dan pemangku kepentingan lainnya, jadi semuanya terintegrasi, untuk saat ini Kota Banda Aceh telah memiliki 15 Kampung KB di sembilan Kecamatan yang ada,” jelas Cut Azharida.

 

Menurutnya, geliat Kampung KB di Kota Banda Aceh, sungguh dirasakan warga di gampong itu, para kader KB dan PKB berjibaku menghayo-hayokan program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) kepada warga, melalui penyuluhan penyuluhan stunting kepada pasangan usia subur. Kemudian penyuluhan pendewasaan usia perkawinan, penyuluhan pil ASI bagi ibu melahirkan dan penyuluhan lainnya.

“Alhamdulillah, kini usia perkawinan bagi remaja sudah membaik, kesdaran warga tentang kontrasepsi juga sudah bagus, sehingga perencanaan keluarga yang matang dalam membina rumah tangga dan kelahiran anak sudah mulai teratur, mudah-mudahan terus meningkat lagi,” ungkap Cut Azharida.

 

Kehadiran Kampung KB sangat penting karena menjadi salah satu tumpuan pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan keluarga, khususnya di daerah-daerah permukiman yang padat penduduk. Masyarakat dengan segala kapasitas yang dimilikinya dikondisikan agar mampu mengatasi persoalan yang terkait dengan isu pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana sehingga keluarga-keluarga di Banda Aceh berdikari secara ekonomi.

“Warga juga mampu merencanakan kehidupan berkeluarga yang sehat serta keluarga yang turut berkontribusi dalam membangun lingkungan, bangsa dan negara. Kapasitas yang dimiliki masyarakat tersebut antara lain berupa modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk menggerakan masyarakat, artinya peningkatan kapasitas sesorang menjadi kampanye untuk mengajak warga lainnya,” terangnya.

 

Cut Azharida menuturkan, Kampung KB juga diarahkan untuk menerapkan delapan fungsi keluarga bagi masyarakatnya. Delapan fungsi keluarga merupakan fungsi-fungsi sebagai acuan, prasyarat dan pola hidup bagi setiap keluarga untuk mewujudkan keluarga sejahtera dan berkualitas.

“Delapan fungsi keluarga tersebut yaitu fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi lingkungan. Untuk menerapkan delapan fungsi keluarga tersebut diperlukan peranan berbagai lintas sektor untuk mewujudkannya,” ujarnya.

 

Pendekatan Sosial Senjata Ampuh Sukseskan Kampung KB, sebuah penelitian tentang pendayagunaan modal sosial dalam pendidikan kewirausahaan masyarakat menyimpulkan bahwa pendayagunaan modal sosial oleh kelompok sasaran mampu memberikan manfaat yang dapat mendukung keberhasilan usaha wirausaha para pelaku atau kelompok sasaran. Artinya, jika modal sosial difungsikan secara optimal maka segala sarana dan pra sarana Kampung KB tersebut bisa dipenuhi.

 

modal sosial yang dimiliki warga di setiap gampong sebuah kekuatan yang dapat digunakan untuk menstimulasi tindakan kolektif dalam penyelenggaraan Kampung KB. Modal sosial merupakan aspek yang sangat penting keberadaannya dalam penyelenggaraan Kampung KB sebagai suatu program pemberdayaan masyarakat. Program ini mengutamakan partisipasi aktif masyarakat sebagai wujud interaksi sosial antar warga lokal dan komunitas yang menguntungkan bagi pembangunan.

“Warga di Kampung KB terutama di perkotaan khusunya Banda Aceh, memiliki ragam etnis. Nilai sosial yang seringkali diidentikan dengan masyarakat heterogen adalah nilai kompetisi. Kompetisi dibutuhkan untuk meraih pengakuan baik dalam bentuk apresiasi maupun legitimasi. Dengan adanya pengakuan tersebut secara otomatis hal itu akan mewujudkan sistem kontrol sosial yang ampuh pada masyarakat,” urainya.

 

Untuk itulah, menurut Cut Azharida, para kader Kampung KB sangat aktif dan gemar mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat promotif sekaligus branding. Misalnya dengan mengikuti pelatihan bahkan perlombaan baik tingkat kecamatan hingga tingkat nasional. Partisipasi mereka dalam perlombaan tersebut dimotivasi untuk membawa nama Kampung KB semakin dikenal.

“Capaian prestasi atas perlombaan-perlombaan tersebut dipercaya akan dapat mengundang apresiasi positif dari seluruh warga maupun lembaga terkait yang pada akhirnya meraih tujuan akhir berupa pengakuan secara sosial,” sebutnya.

 

Hal ini akan menguntungkan bagi pengembangan masyarakat sekitar mengingat karakteristk mereka yang cenderung terbuka dengan dunia luar. Kondisi ini ditopang oleh adanya Kader KB sebagai agent of change (agen perubahan).

“Di Kampung KB yang senantiasa tanpa lelah dan penuh keikhlasan terus-menerus menggiatkan, memberikan arahan dan informasi terbaru terkait Kampung KB,” ungkapnya.

 

Modal sosial berikutnya adalah jejaring (networking). Jejaring di Kampung KB sudah berkembang cukup baik. Saluran komunikasi antar pengelola Kampung KB dihubungkan melalui aplikasi whatsapp grup.

“Jejaring juga dikembangkan para kader dengan partisipasi aktif mereka pada kegiatan-kegiatan tingkat kabupaten/kota maupun tingkat provinsi. Terlebih seringnya Kampung KB tersebut dikunjungi oleh dinas dan lembaga terkait baik instansi pemerintah maupun swasta,” ujar Cut Azharida.

 

Meski begitu jejaring tersebut masih dalam kondisi rapuh. Diperlukan intervensi serta pembinaan secara rutin sehingga jejaring tersebut semakin berkembang dan kuat. Hal ini penting dilakukan mengingat Kampung KB juga menghendaki peningkatan rata-rata lama sekolah penduduk usia sekolah, peningkatan derajat kesehatan masyarakat, meningkatkan sarana dan prasarana pembangunan, meningkatkan sanitasi dan lingkungan sehat dan bersih, meningkatkan keimanan dan ketakwaan penduduk serta rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

“Komunikasi dan kerjasama menjadi kunci sukses Kampung KB,” ujarnya singkat.

 

Untuk itu koordinasi dan kerjasama perlu dikembangkan dengan melibatkan pihak terkait baik sektor pemerintah maupun swasta seperti infrastruktur yang belum baik dikoordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum, kesehatan dengan Dinas Kesehatan, usia sekolah dengan Dinas Pendidikan dan seterusnya.

“Modal sosial bahkan dapat menjembatani jurang pemisah antara kelompok-kelompok yang beragam karakter dan memperkuat kesepakatan tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat. Perluasan jaringan yang dilakukan masyarakat akan lebih mampu memberikan tekanan untuk melakukan upaya bersama dengan bekerjasama kelompok di luar masyarakat tersebut,” pungkasnya.(Adv)