Ekbis

Cerita Mantan Menteri BUMN, Garuda Indonesia Ternyata Pernah Hampir Bangkrut

2431
×

Cerita Mantan Menteri BUMN, Garuda Indonesia Ternyata Pernah Hampir Bangkrut

Sebarkan artikel ini
Pesawat Garuda Indonesia bercorak khusus dengan visual masker pada bagian moncong pesawat (ilustrasi). Garuda Indonesia membuka rute penerbangan ke Manokwari dari Makassar dan Sorong. (foto : antara)

posaceh,com, Jakarta – Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sugiharto menceritakan Garuda Indonesia  sudah pernah diambang kebangkrutan. Hal tersebut terjadi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Waktu itu, Presiden SBY meminta agar Garuda Indonesia tak sampai dipailitkan. Dia meminta seluruh pihak membantu maskapai pelat merah tersebut tetap terbang meski kondisi sulit.

“Saya pernah diperintahkan dalam rakortas, saat itu saya bawa ke sidang kabinet. Di sidang kabinet, saya bawa Garuda ini mau diselamatkan atau di let go (dipailitkan)?” katanya, dalam diskusi online, Jakarta, Selasa (8/6).

“Lantas Pak SBY mengatakan, Garuda Indonesia harus tetap terbang, Garuda harus diselamatkan,” sambung Sugiharto.

Usai pertemuan tersebut, Presiden SBY menunjuk Boediono sebagai Menteri Koordinator yang kemudian berkoordinasi mencari dan menjalankan solusi di rakortas. Pilihannya, biarkan kreditur masuk dan memberikan bantuan dana.

“Setelah itu ditunjuk Pak Boediono sebagai Menko untuk melakukan koordinasi, solusi di rakortas waktu itu let the creditors termasuk dari ECA (Export Credit Agency) yang terdiri dari Jerman, Prancis dan Inggris yang menyewakan menjual airbus A320 6 unit yang kemudian menimbulkan unsustainable debt sebanyak 200 juta dollar waktu itu. Saya diperintahkan untuk let them sharing the gain, but also sharing the pain,” jelasnya.

Kemudian, Sugiharto, pergi menemui ECA menawarkan sejumlah solusi. Salah satunya memberikan Garuda Indonesia kesempatan untuk bernafas mencari pinjaman membayar utang yang menumpuk. Kemudian dana diperoleh dari penjualan tiket dengan pembayaran didepan serta adanya Penyertaan Modal Negara (PMN).

“Garuda selamat dengan adanya PMN yang susah-susah, gampang Rp500 miliar karena harus menghadapi DPR, tahun pertama. Dan Rp500 miliar tahun kedua. Itu berhasil merestrukturisasi Garuda Indonesia sehingga utang jangka pendek semua diperpanjang,” tandasnya.

Ini Penyebab Keuangan Garuda Indonesia Memburuk hingga Terlilit Utang Rp 70 T

Pesawat Terbang Garuda Indonesia (Liputan6.com/Fahrizal Lubis)

Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Toto Pranoto membeberkan penyebab keuangan PT Garuda Indonesia terus memburuk dalam beberapa bulan belakangan. Bahkan, kini keuangan maskapai pelat merah tersebut mengalami tekanan yang luar biasa dengan adanya penumpukan utang hingga mencapai Rp 70 triliun.

Toto menjelaskan, keuangan Garuda Indonesia sebelum dan sesudah pandemi masuk ke Indonesia. Sebelum ada Covid-19, keuangan Garuda Indonesia masih bisa menghasilkan revenue. Sementara setelah ada Covid-19, revenue ada tapi terus merosot.

“Dari laporan keuangan Garuda yang ada di kuartal III-2019 dan kuartal III-2020, setelah dan sebelum Covid masuk. Revenue saja, 9 bulan 2019 mereka masih bisa menggenerate USD3,5 billion. Kemudian 9 bulan 2020 hanya bisa generate USD1,1 billion sehingga revenue mereka turun hampir 67 persen,” kata Toto dalam diskusi online, Jakarta, Selasa (8/6).

Pengeluaran dan biaya operasional mengalami penurunan selama pandemi. Di mana pada tahun lalu, Toto mencatat angka pengeluaran dan biaya operasional turun hampir mencapai 31 persen.

“Problemnya, cost structure mereka di 3 bulan pertama 2019 capai USD3,2 billion tahun lalu angkanya turun juga di 3 bulan pergama 2020 menjadi USD2,2 billion. Jadi cost structurenya turun 31 persen, sementara revenue turun anjlok 67 persen. Ini yang menyebabkan tekanan kepada keuangan Garuda Indonesia luar biasa besarnya,” paparnya.

Adapun cost structure paling besar untuk membiayai leasing pesawat sebesar 75 persen. Sisanya kemudian, terdiri dari utang jangka pendek dan jangka panjang. Dengan demikian, keputusan melakukan negosiasi dengan lessor dinilai menjadi pilihan tepat.

“Kalau kita ihat, sumbangan yang paling besar cost structure biaya Garuda Indonesia adalah short term debt, factoring liabilities. Itu adalah short term debt atau utang jangka pendek, utang jangka panjang dan leasing pesawat 75 persen,” jelasnya.

“Sehingga langkah Garuda Indonesia dan KemenBUMN melakukan negosisasi dengan lessor pesawat, saya kira memang yang utama karena bebannya ke keuangan garuda sangat besar,” tandasnya.

Sumber: Merdeka.com