Pemko Banda Aceh

Cegah Peningkatan LGBTQ, DSI Banda Aceh dan Dinkes Kompak Berikan Edukasi untuk Generasi Muda

22
×

Cegah Peningkatan LGBTQ, DSI Banda Aceh dan Dinkes Kompak Berikan Edukasi untuk Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Kadis Syariat Islm Banda Aceh foto bersama Dinkes Banda Aceh Jumat (31/7/2026). FOTO DOK DSI BANDA ACEH

posaceh.com, Banda Aceh – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banda Aceh bersama Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh terus memperkuat sinergi dalam memberikan edukasi dan pembinaan kepada generasi muda sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan yang sehat, berkarakter, dan sesuai dengan nilai-nilai agama serta budaya masyarakat Aceh.

Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan edukatif dan preventif, khususnya dalam memberikan pemahaman kepada remaja mengenai kesehatan reproduksi, kesehatan mental, pergaulan yang sehat, serta pentingnya membangun karakter dan ketahanan diri dalam menghadapi berbagai pengaruh lingkungan. Kegiatan edukasi ini menjadi bagian dari kolaborasi lintas sektor antara Dinkes Banda Aceh bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, di antaranya Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh dan Dinas Pendidikan. Dua sekolah yang disambangi hari, yakni SMA Negeri1 Banda Aceh dan SMP Negeri 4 Banda Aceh.
Kolaborasi lintas sektor ini dinilai penting karena persoalan yang dihadapi generasi muda tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga menyangkut pendidikan, keluarga, lingkungan sosial, serta pembinaan keagamaan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, SSTP, MSi, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banda Aceh, drg. Supriady, MKes, mengatakan edukasi kepada generasi muda harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Menurutnya, remaja merupakan kelompok yang berada pada fase perkembangan sehingga membutuhkan informasi yang benar dan pendampingan dari orang tua, guru, tenaga kesehatan, serta lingkungan masyarakat.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita memberikan edukasi yang benar kepada generasi muda sejak dini. Mereka harus memahami kesehatan reproduksi, menjaga kesehatan mental, membangun pergaulan yang sehat, serta mampu mengambil keputusan yang baik bagi masa depannya,” ujar Supriady.

Ia menjelaskan, pendekatan kesehatan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan remaja tidak cukup hanya dilakukan ketika masalah sudah terjadi. Pencegahan harus dimulai melalui peningkatan pengetahuan, komunikasi yang terbuka, serta penguatan peran keluarga.

Menurutnya, keluarga memiliki posisi strategis dalam membentuk pola pikir, perilaku dan karakter anak. Karena itu, orang tua diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga menyediakan ruang komunikasi yang aman agar remaja dapat menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

“Remaja membutuhkan tempat untuk bertanya dan mendapatkan informasi yang tepat. Jangan sampai mereka mencari informasi dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah peran keluarga, sekolah dan tenaga kesehatan menjadi sangat penting,” katanya.

Supriady menambahkan, Dinkes Banda Aceh akan terus mendorong kegiatan promotif dan preventif yang menyasar kelompok remaja, termasuk melalui sekolah, komunitas pemuda dan berbagai wadah pembinaan generasi muda.

Pemerintah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman, sehat dan mendukung tumbuh kembang generasi muda. Edukasi yang tepat sejak usia remaja dinilai menjadi investasi penting dalam membentuk generasi yang sehat secara fisik dan mental, memiliki karakter kuat, serta mampu menjalankan kehidupan sesuai nilai agama dan norma sosial yang berlaku.

“Ini merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kita membutuhkan dukungan keluarga, sekolah, tokoh agama dan seluruh masyarakat agar generasi muda Banda Aceh tumbuh menjadi generasi yang sehat, berakhlak dan memiliki masa depan yang baik,” pungkas Supriady.
Sementara itu, Kepala Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh, Alimsyah, S.Pd., MS, menegaskan bahwa pembinaan generasi muda harus dilakukan secara terpadu dengan memperkuat nilai-nilai agama dan moral.

Menurutnya, generasi muda merupakan aset utama daerah yang perlu mendapatkan perhatian serius. Pembinaan tidak dapat hanya mengandalkan satu institusi, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah, keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi kepemudaan dan masyarakat.

“Generasi muda harus kita bekali dengan ilmu pengetahuan sekaligus nilai-nilai agama. Dengan pembinaan yang baik, mereka akan memiliki prinsip dalam menentukan pergaulan, mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak sesuai dengan tuntunan agama dan norma masyarakat,” ujar Alimsyah.

Ia mengatakan, Pemerintah Kota Banda Aceh memiliki komitmen untuk terus memperkuat pembinaan kehidupan masyarakat yang berlandaskan Syariat Islam. Edukasi kepada remaja menjadi salah satu bagian penting karena mereka merupakan generasi penerus yang akan menentukan masa depan Kota Banda Aceh.

Alimsyah menekankan bahwa pembinaan hendaknya dilakukan dengan pendekatan persuasif, edukatif dan humanis. Remaja perlu diberikan ruang untuk berdiskusi serta memperoleh pemahaman yang benar mengenai nilai agama, etika pergaulan dan tanggung jawab sosial.

“Jangan hanya menyampaikan larangan. Anak-anak muda juga harus diberikan pemahaman mengenai alasan, nilai dan konsekuensi dari setiap perilaku. Dengan begitu, mereka dapat membangun kesadaran dari dalam dirinya sendiri,” jelasnya.

Sinergi Dinkes dan DSI tersebut juga diarahkan untuk memperkuat literasi kesehatan dan keagamaan di kalangan remaja. Edukasi yang diberikan diharapkan mampu meningkatkan kemampuan generasi muda dalam menyaring informasi, memilih lingkungan pergaulan, serta menjaga diri dari berbagai perilaku yang berisiko terhadap kesehatan dan masa depan mereka.

Dalam konteks pencegahan, kedua instansi juga memandang penting keterlibatan orang tua. Pengawasan yang dilakukan keluarga perlu dibarengi dengan komunikasi yang baik sehingga tidak menimbulkan jarak antara orang tua dan anak.

Selain itu, lingkungan sekolah juga memiliki peranan besar dalam menciptakan ruang tumbuh yang positif. Guru dan tenaga pendidik diharapkan dapat menjadi mitra orang tua dalam mendeteksi berbagai persoalan yang dihadapi peserta didik sekaligus mengarahkan mereka kepada layanan yang tepat.

Dinkes Banda Aceh dan DSI berharap kolaborasi tersebut dapat terus diperkuat melalui berbagai program edukasi yang menyentuh langsung kehidupan generasi muda. Dengan pendekatan lintas sektor, upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh, tidak hanya melalui penyampaian informasi, tetapi juga melalui pembentukan karakter dan penguatan lingkungan sosial.

Melalui sinergi tersebut, Dinkes dan DSI Banda Aceh berkomitmen menjadikan edukasi sebagai instrumen utama dalam membangun kesadaran generasi muda. Langkah preventif yang dilakukan secara konsisten diharapkan mampu memperkuat ketahanan keluarga dan sosial sekaligus menciptakan generasi penerus yang berkualitas bagi pembangunan Kota Banda Aceh.(**)