Daerah

Bincang Sastra PPN XIV Aceh di Takengon Angkat Transformasi dan Inovasi Karya

28
×

Bincang Sastra PPN XIV Aceh di Takengon Angkat Transformasi dan Inovasi Karya

Sebarkan artikel ini
Sekban Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum foto bersama dengan para peserta PPN XIV 2026 penerima buku puisi ciptaannya di Galeri Kopi Indonesia, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026). FOTO/ M HERIZAL

posaceh.com, Takengon — Para peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 mengikuti kegiatan Bincang Inovasi Sastra Masa Depan yang berlangsung di Galeri Kopi Indonesia, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus eksplorasi gagasan tentang arah perkembangan sastra di masa mendatang. Suasana semakin hidup saat Fathiya Rahmah dari Komunitas Teater Reje Linge menampilkan Puisi Naratif “Pawang Uten” yang berhasil menarik perhatian para peserta.

Dalam sesi diskusi, Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa inovasi dalam sastra sejatinya telah berlangsung sejak lama melalui berbagai bentuk pembaruan.

Sekban Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum memberi sambutan pada Bincang Inovasi Sastra Masa Depan yang berlangsung di Galeri Kopi Indonesia, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026). FOTO/ M HERIZAL

Ia mencontohkan bagaimana tokoh-tokoh besar seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, hingga Afrizal Malna telah membawa perubahan melalui pendekatan teks, paradigma, hingga konsep sastra itu sendiri.

Menurutnya, inovasi sastra masa depan tidak hanya terletak pada penciptaan hal baru, tetapi juga pada modifikasi dan alih wahana. “Dari novel ke film, dari puisi ke seni visual, hingga ke pertunjukan—semua itu bagian dari inovasi yang terus berkembang,” ujarnya.

Ganjar juga menyoroti bahwa karya-karya sastra klasik seperti cerita Panji maupun cerita rakyat seperti Lutung Kasarung telah mengalami transformasi lintas medium, mulai dari teks hingga seni pertunjukan modern.

Pada kesempatan yang sama, salah satu penyair turut memperkenalkan karya terbarunya berjudul Catatan Agar Tak Mati Rasa, yang menjadi refleksi perjalanan batin sekaligus upaya menjaga kepekaan manusia melalui puisi.

Sekban Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum menyerahkan buku puisi ciptaannya kepada peserta PPN XIV 2026 di Galeri Kopi Indonesia, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026). FOTO/ M HERIZAL

Ia juga membacakan puisi khusus berjudul Di Serambi Kata Menjadi Rencong, yang terinspirasi dari sejarah dan kehidupan masyarakat Aceh. Puisi tersebut menggambarkan kekuatan kata sebagai representasi luka, sejarah, dan keteguhan identitas.

“Puisi bukan sekadar hiasan, tetapi suara kemanusiaan yang menjaga agar manusia tetap menjadi manusia,” ungkapnya.

Acara kemudian ditutup dengan pembacaan puisi oleh peserta PPN XIV dari 14 negara yang berkolaborasi dengan Sanggar Seni Lisik, menambah nuansa lintas budaya dalam perhelatan tersebut.

Melalui forum ini, para peserta PPN XIV Aceh 2026 diajak untuk tidak hanya melihat masa depan sastra sebagai sesuatu yang jauh, tetapi sebagai proses yang sudah berlangsung hari ini—melalui eksplorasi, kolaborasi, dan keberanian berinovasi.(Rnld)