posaceh.com, Banda Aceh — Suasana haru dan penuh makna menyelimuti Istana Wali Nanggroe Aceh saat para penyair nasional dan internasional membacakan karya dalam Parade Puisi untuk Kemanusiaan. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Anugerah Cakrawala Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh—Indonesia 2026, yang digelar di Istana Wali Nanggroe, Kecamatan Darul Imarah, Senin (22/06/2026) malam.
Sejumlah penyair dari dalam dan luar negeri tampil membacakan puisi bertema kemanusiaan, perdamaian, serta refleksi atas berbagai persoalan global. Lantunan puisi yang dibacakan dengan penuh penghayatan berhasil menyentuh emosi para hadirin yang memadati lokasi acara.
Parade ini menjadi salah satu momen penting dalam PPN XIV 2026 ini sebagai ruang ekspresi bagi penyair untuk menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan lintas budaya dan bangsa. Melalui puisi, para peserta menghadirkan perspektif tentang kehidupan, solidaritas, dan harapan akan dunia yang lebih damai.

Acara diawali oleh penyair senior LK Ara yang tampil penuh penghayatan, kemudian dilanjutkan oleh Ranie Kasmir Sekretaris Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, yang turut membacakan puisi bertema kemanusiaan. Sejumlah penyair lain seperti Bara Pattyradja (Flores), Tuyed Legam (Aceh), dan Djamal Syarief (Aceh) juga menampilkan karya yang menggugah rasa kemanusiaan.
Direktur Pelaksana kegiatan, Noviati MR, mengatakan bahwa puisi merupakan media suara nurani yang mampu melampaui batas negara dan budaya.
“Puisi adalah suara nurani. Melalui puisi, kita menyampaikan pesan kemanusiaan yang melampaui batas negara dan budaya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti karya salah satu penyair yang mengangkat isu lingkungan.
“Bencana bukan semata takdir, tetapi juga cermin dari perilaku manusia yang abai terhadap alam,” ungkapnya.
Menurutnya, Ranie Kasmir juga menegaskan bahwa sastra menjadi media refleksi sosial.

“Kemanusiaan adalah isu universal. Puisi menjadi jembatan untuk menyuarakan kepedulian dan empati kita terhadap sesama,” katanya.
Sejumlah penyair lain turut menyinggung bencana di Aceh dalam karya mereka, yang dipandang sebagai akibat ulah manusia. Tema ini disampaikan secara reflektif sebagai pengingat pentingnya menjaga lingkungan dan memperbaiki relasi manusia dengan alam.
Di sela kegiatan, salah satu penyair dari Lampung, Khairul Anwar, mengaku mendapatkan kesan mendalam selama berada di Aceh. Ia mengapresiasi pelayanan panitia dan sambutan masyarakat yang dinilainya hangat.
“Kami merasa seperti di rumah sendiri. Aceh tidak hanya menyuguhkan keindahan alam dan budayanya, tetapi juga ketulusan dalam menerima tamu,” ujarnya kepada awak media.
Ia menambahkan bahwa PPN XIV bukan hanya ruang berkesenian, tetapi juga ruang perjumpaan lintas budaya yang memperkaya pengalaman para penyair.
“Di sini kita belajar banyak hal, bukan hanya tentang puisi, tetapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan,” katanya.
Khairul juga menilai penyelenggaraan acara berjalan baik dan penuh perhatian terhadap peserta.

Penyair asal Lampung, Khairul Anwar, mengaku mendapat kesan mendalam selama berada di Aceh saat mengikuti kegiatan PPN XIV 2026, di Istana Wali Nanggroe Aceh, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Senin (22/06/2026) malam. FOTO/ BEDU SAINI
“Kami disambut dengan sangat hangat. Semua kebutuhan peserta difasilitasi dengan baik oleh panitia. Ini membuat kami merasa nyaman dan benar-benar dihargai,” tambahnya.
Kegiatan ini diikuti oleh penyair dari 14 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Laos, Filipina, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Timor Leste, Turki, Jepang, hingga Tasmania. Kehadiran mereka menjadikan Aceh panggung sastra internasional yang mempertemukan beragam suara dari berbagai belahan dunia.
Dari dalam negeri, ratusan penyair dari berbagai provinsi turut hadir menyaksikan pembacaan puisi tersebut. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat terhadap perkembangan sastra sekaligus memperkuat posisi PPN sebagai ajang prestisius di tingkat regional dan internasional.

Parade puisi ini juga dihadiri Asisten I Sekda Aceh Drs. Syakir, M.Si, Wali Syura Istana Wali Nanggroe Aceh Prof. Dr. H. Syahrizal Abbas, M.A., Kepala Perpustakaan Nasional, Sekretaris Menteri Pendidikan, pimpinan DPRA, para kepala daerah, rektor perguruan tinggi, pelaku seni dan budaya serta tamu undangan lainnya.
Melalui kegiatan ini, PPN XIV Aceh—Indonesia 2026 tidak hanya menjadi ajang pertemuan penyair, tetapi juga ruang bersama untuk menyuarakan nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap lingkungan di tengah dinamika dunia saat ini.(Rinaldi)











