NasionalPemerintah Aceh

Salman Yoga: Dari 1.018 Judul dan 552 Penulis, Hanya 300 Lolos di PPN XIV Aceh 2026

33
×

Salman Yoga: Dari 1.018 Judul dan 552 Penulis, Hanya 300 Lolos di PPN XIV Aceh 2026

Sebarkan artikel ini
Ketua Kuratorial, Salman Yoga S, FOTO/ ROJA

posaceh.com, Banda Aceh — Kurator Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh–Indonesia Tahun 2026 mengungkapkan ketatnya proses seleksi karya sastra dalam ajang internasional tersebut. Dari total 1.018 judul karya yang masuk dari 552 penulis, hanya 300 judul karya dari 300 penulis yang dinyatakan lolos kurasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Kuratorial, Salman Yoga S, saat membacakan pengantar pada pembukaan PPN XIV di Istana Wali Nanggroe, Darul Imarah, Aceh Besar, Senin (22/6/2026) malam.

Dalam kesempatan itu, Salman didampingi oleh tim kurator lainnya, yakni Rini Intama (Jakarta), Acep Zamzam Noor (Jawa Barat), Mohamad Saleeh Rahamad (Malaysia), dan Zefri Ariff (Brunei Darussalam).

“Lebih kurang 552 penulis mengirimkan karya, dan kami membaca 1.018 judul. Dari jumlah itu, hanya 300 karya yang kami nyatakan lolos,” ujar Salman.

Ia menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan tanpa melihat latar belakang penulis. Baik pelajar, akademisi, pejabat, hingga masyarakat umum memiliki kesempatan yang sama.

“Kami tidak peduli status sosial penulisnya. Yang kami nilai adalah kebenaran kata-kata dan kekuatan makna dalam puisi tersebut,” tegasnya.

Salman juga menjelaskan bahwa tema besar antologi puisi PPN XIV tahun ini adalah “Nurani Kemanusiaan”, yang dipilih berdasarkan fenomena global saat ini, di mana nilai-nilai kemanusiaan dinilai semakin terpinggirkan.

Ketua Kuratorial, Salman Yoga S, saat membacakan pengantar pada pembukaan PPN XIV 2026, di Istana Wali Nanggroe, Darul Imarah, Aceh Besar, Senin (22/6/2026) malam. FOTO/ ROJA

Menurutnya, kata-kata memiliki peran penting dalam membangun peradaban. Ia mengaitkan tradisi kepenyairan dengan sejarah Islam dan peradaban dunia, di mana penyair menjadi bagian penting dalam merekam perjalanan sejarah.

“Penyair mengabadikan kata-kata, dan dari kata-kata itulah makna kehidupan dibangun. Bahkan kemerdekaan bangsa ini lahir dari susunan kata-kata,” ujarnya.

Ia juga menyinggung bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia hingga Sumpah Pemuda merupakan bukti nyata bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah bangsa.

Dalam forum tersebut, Salman turut menyoroti pentingnya menjaga kejujuran dalam berkarya.

“Jangan pernah berbohong dan jangan pernah berkhianat. Karena pada akhirnya, manusia akan diukur dari kata-kata yang diucapkannya,” katanya.

PPN XIV Aceh tahun ini diikuti oleh penyair dari 24 negara. Selain menjadi ajang sastra, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antar komunitas literasi dari berbagai latar belakang.

Salman menyebut, Aceh sebagai tuan rumah ingin menghadirkan pesan kuat tentang kemanusiaan melalui sastra.

“Kami ingin menjadikan Aceh sebagai pertanda kemanusiaan. Konflik dengan sesama manusia, dengan alam, hingga dengan diri sendiri, semua kembali pada makna kata-kata,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, para peserta nantinya akan disambut dengan kekayaan budaya Aceh, mulai dari tarian tradisional hingga sajian kopi khas Gayo yang mendunia.

“Di negeri Iskandar Muda, kami menyambut para penyair dengan budaya dan kata-kata. Karena pada akhirnya, pertemuan ini bukan sekadar perayaan, tetapi upaya kembali kepada makna,” tutupnya.(Rinaldi)