Ekbis

Rumoh Kak Dar Lamlhom, Menjaga Warisan Kue Tradisional Aceh di Tengah Keterbatasan

25
×

Rumoh Kak Dar Lamlhom, Menjaga Warisan Kue Tradisional Aceh di Tengah Keterbatasan

Sebarkan artikel ini
Rosni (46) sedang membuat kue tradisional di rumahnya, saat didatangi awak media, Jumat (8/5/2026). FOTO/ MC ACEH BESAR

posaceh.com, Kota Jantho – Di tengah menjamurnya kue modern dan makanan instan, aroma khas dodol dan meuseukat masih mengepul dari dapur-dapur rumahan di Gampong Lamlhom, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Dari desa ini, para pelaku usaha rumahan terus berjuang mempertahankan cita rasa kuliner tradisional Aceh yang diwariskan turun-temurun.

Salah satunya adalah usaha rumahan milik Yunidar (61), yang dikenal warga dengan Star Dodol Rumoh Kak Dar. Dari rumah sederhananya, Yunidar rutin memproduksi berbagai kue khas Aceh seperti dodol, meuseukat, wajik, hingga keukarah untuk memenuhi pesanan masyarakat.

Usaha yang telah dijalankan bertahun-tahun itu tetap bertahan meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, mulai dari peralatan produksi hingga kenaikan harga bahan baku.
“Alhamdulillah masih ada yang pesan, apalagi kalau menjelang meugang atau hari raya,” ujar Yunidar saat ditemui awak media di kediamannya, Jumat (8/5/2026).

Menurut Yunidar, dodol menjadi salah satu produk paling diminati. Dalam sekali pesanan, dodol dijual seharga Rp320 ribu hingga Rp330 ribu per talam dan biasanya dipesan untuk hajatan keluarga, kenduri, hingga perayaan hari besar keagamaan.
Tak jauh dari rumah Yunidar, Rosni (46) juga menjalankan usaha produksi kue tradisional miliknya sendiri. Meski berbeda rumah produksi, keduanya sama-sama berupaya mempertahankan eksistensi kuliner khas Aceh di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Yunidar (61), pembuat kue tradisional Aceh dan pemilik usaha kue tradisional Star Dodol, di Gampong Lamlhom, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. FOTO/ MC ACEH BESAR

Rosni mengaku proses produksi kini semakin menantang akibat naiknya harga bahan baku, terutama gula dan tepung ketan yang menjadi komponen utama pembuatan kue khas Aceh tersebut.

Menurutnya, kualitas dodol juga ikut terpengaruh karena tingginya biaya produksi, terutama untuk penggunaan santan kelapa yang menjadi kunci cita rasa khas dodol Aceh.

“Sampai sekarang kami belum pernah dapat bantuan usaha. Padahal kami butuh sekali perhatian untuk kembangkan home industry ini. Alat masih seadanya,” keluh Rosni.
Ia berharap ada dukungan pemerintah berupa bantuan modal usaha, pelatihan, maupun pendampingan agar usaha rumahan seperti yang mereka jalankan dapat berkembang lebih baik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Selain dodol, Yunidar dan Rosni juga memproduksi meuseukat serta keukarah, dua jenis kue tradisional Aceh yang masih banyak diburu masyarakat, terutama saat momen Lebaran dan kenduri adat.
Bagi mereka, usaha kecil tersebut bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan kuliner Aceh agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Di balik dapur sederhana dan peralatan seadanya, semangat mempertahankan cita rasa tradisional tetap menyala. Usaha mikro seperti Rumoh Kak Dar menjadi bukti bahwa warisan kuliner Aceh masih hidup di tangan masyarakat yang setia menjaga resep dan tradisi turun-temurun.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kabupaten Aceh Besar, Drs. Sulaimi, M.Si., mengatakan pihaknya selama ini terus melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap pelaku usaha home industri di Gampong Lamlhom sebagai upaya memperkuat kapasitas usaha masyarakat.
Menurutnya, pembinaan tersebut tidak hanya menyasar peningkatan kualitas produk, tetapi juga penguatan kemampuan manajemen usaha, termasuk pengelolaan keuangan bagi pelaku UMKM.

“Selama ini kami telah melakukan berbagai bentuk pembinaan dan pendampingan kepada pelaku home industri di Lamlhom, termasuk pelatihan manajemen keuangan yang dilaksanakan bekerja sama dengan PT SBA Lhoknga,” ujar Sulaimi.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelaku usaha yang tetap konsisten mempertahankan produksi kue tradisional Aceh di tengah berbagai tantangan usaha saat ini.

Menurutnya, keberadaan usaha rumahan tersebut tidak hanya menjaga warisan kuliner daerah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di Aceh Besar.

“Kami sangat mengapresiasi para pelaku usaha yang terus menjaga tradisi dan cita rasa kue khas Aceh. Ini bukan hanya soal usaha ekonomi, tetapi juga bagian dari menjaga identitas budaya daerah yang memiliki nilai historis dan ekonomi bagi masyarakat Aceh Besar,” pungkasnya.(Why)”