Internasional

China Desak Iran Buka Selat Hormuz Pulihkan Kebebasan Navigasi

43
×

China Desak Iran Buka Selat Hormuz Pulihkan Kebebasan Navigasi

Sebarkan artikel ini
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025. FOTO/NASA EARTH OBSERVATORY

posaceh.com, Jakarta – Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi, mendesak Iran agar segera membuka Selat Hormuz. Kebebasan navigasi di sana mesti dipulihkan agar lalu lintas kapal kembali normal.

“Kebebasan dan keamanan navigasi melalui selat internasional ini harus dipastikan. Memulihkan lalu lintas normal melalui selat ini adalah seruan bersama dari komunitas internasional,” jelas Wang kepada Menlu Iran Abbas Araghchi melalui sambungan telepon, seperti dikutip Middle East Monitor, Rabu (15/4/2026).

Namun, Wang sekaligus menyerukan agar hak-hak Iran di celah perairan sempit itu tetap diakui.

Termasuk jaminan agar Amerika Serikat (AS) dan Israel tak lagi melancarkan agresinya kembali di masa mendatang. “Kedaulatan, keamanan, serta hak dan kepentingan sah Iran sebagai negara pesisir Selat Hormuz harus dihormati dan dijunjung tinggi,” jelasnya.

Alur kapal kargo global termasuk kapal tanker yang mengangkut minyak di Selat Hormuz terganggu sejak 28 Februari 2026 setelah AS-Israel melancarkan serangan ke Iran.

Tercatat pada Rabu (15/4/2026), ada sembilan kapal tanker melewati Selat Hormuz.

Kapal tanker besar bernama RHN memasuki selat dari Teluk Oman yang mengangkut minyak mentah sebanyak 2 juta barrel. Sebelumnya pada Selasa (14/4/2026) kapal tanker bernama Alicia berhasil keluar dari Selat Hormuz.

“Transit kapal tanker pada hari Selasa 90 persen lebih rendah dibandingkan lalu lintas pada tanggal 27 Februari, sehari sebelum AS dan Israel menyerang Iran. Lalu lintas telah anjlok selama perang karena ancaman serangan Iran,” lapor CNBC, Rabu (15/4/2026).

Selat ini merupakan jalur perdagangan vital yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah ke pasar global.

Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia melewati jalur air sempit ini sebelum meletusnya perang.

Runtuhnya lalu lintas kapal tanker melalui selat ini telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Badan Energi Internasional (IEA) menjelaskan, Selat Hormuz tak boleh ditutup terlalu lama karena merupakan variabel terpenting untuk mengurangi tekanan pada pasokan energi, harga, dan ekonomi global.(Muh/*)