Ia tidak lahir dari rahim Aceh. Darahnya datang dari Pahang, dari sebuah istana yang runtuh oleh gelombang perang. Ketika masih kanak-kanak, ia dibawa ke Kutaraja pada tahun 1617 sebagai tawanan kehormatan—sebuah istilah halus bagi anak yang kehilangan negeri. Di istana Darud Dunia, ia diberi nama baru: Iskandar Tsani. Sejak saat itu, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.
Nama aslinya bukan Iskandar. Ia lahir dengan nama Sultan Bungsu, juga dikenal sebagai Sultan Mogul, putra Sultan Ahmad Syah dari Pahang.
Sultan Iskandar Muda mengangkatnya sebagai anak dan mendidiknya dengan disiplin besi. Ia diajari bahasa, strategi, adat, dan—yang paling berat—cara menyembunyikan perasaan. Di hadapan sang Sultan, Tsani belajar satu hal paling penting: di Aceh, kekuasaan tidak pernah lunak pada keraguan.
Namun jauh sebelum Tsani dipersiapkan sebagai pewaris, Sultan Iskandar Muda sebenarnya telah memiliki seorang putra mahkota: Meurah Pupok. Ia adalah darah dagingnya sendiri, harapan yang sejak kecil ditempa untuk meneruskan kejayaan Aceh. Meurah Pupok tumbuh dalam kemewahan dan kekuasaan, dikelilingi pujian, namun juga terjebak dalam gelora muda yang sulit dikendalikan.
Sejarah mencatat sebuah tragedi istana. Meurah Pupok melakukan sebuah kesalahan fatal—dalam berbagai sumber disebut sebagai pelanggaran berat terhadap adat, moral, dan wibawa kerajaan.
Keputusan itu dijatuhkan tanpa air mata di depan umum: Meurah Pupok dieksekusi atas perintah ayahnya sendiri.
Sejak hari itu, istana Aceh kehilangan tawa. Sultan Iskandar Muda tetap berdiri tegak sebagai penguasa besar, tetapi luka itu tak pernah sembuh.
Di tengah kehampaan itulah Iskandar Tsani tumbuh. Ia melihat dari dekat bagaimana takhta bisa menuntut pengorbanan paling kejam. Barangkali sejak itu ia memahami: menjadi raja Aceh berarti bersedia kehilangan segalanya, bahkan keluarga sendiri. Kesadaran itulah yang membuat Tsani berbeda—lebih hati-hati, lebih sunyi.
Tak banyak yang tahu, di balik ketegasan sikapnya, Tsani tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan reflektif. Ia mencintai kitab dan perenungan. Ia mendengar dengan saksama para ulama yang datang dari Gujarat, Yaman, dan Mekkah. Saat Iskandar Muda mengasah pedang Aceh, Tsani mengasah batin.
Di Aceh pula hidupnya diikat secara resmi ke dalam dinasti. Sultan Bungsu dikawinkan dengan Putri Safiatuddin, putri kandung Sultan Iskandar Muda—perempuan istana yang cerdas, terdidik, dan matang dalam politik. Pernikahan itu bukan sekadar ikatan keluarga, melainkan pengesahan masa depan. Sejak saat itu, pangeran Pahang itu tak lagi berdiri sebagai orang luar.
Ketika Sultan Iskandar Muda wafat pada 1636, Aceh seperti kehilangan matahari. Para hulubalang dan uleebalang saling menimbang: siapa yang pantas menggantikan raja sebesar itu, setelah putra mahkota tiada? Jawabannya akhirnya jatuh pada anak angkat yang telah lama disiapkan dalam diam. Menantu sekaligus muridnya naik takhta dengan gelar Sultan Iskandar Thani.
Naik takhta, Iskandar Tsani tahu satu hal: ia tidak mungkin—dan mungkin tidak ingin—menjadi Iskandar Muda kedua. Ia memilih jalan lain.
Ia memperhalus hukum, menenangkan istana, dan memberi ruang lebih luas pada ulama. Di masanya, Nuruddin ar-Raniry tampil kuat, menandai perubahan arah spiritual Aceh. Kekuasaan tidak lagi semata diukur dari luas wilayah, tetapi dari ketertiban batin dan legitimasi agama.
Di balik singgasana, Tsani sering dilanda kesunyian. Ia memerintah negeri yang terlalu besar untuk ditenangkan hanya dengan kebijaksanaan, dan terlalu keras untuk dilembutkan sepenuhnya. Ia sadar, darahnya bukan darah Aceh. Setiap keputusan terasa seperti ujian kesetiaan.
Pemerintahannya singkat. Pada 15 Februari 1641, Sultan Iskandar Thani wafat dalam usia yang masih muda, tanpa meninggalkan keturunan.
Berbeda dengan para sultan Aceh lainnya, makam Iskandar Thani tidak berada di kompleks makam raja-raja, melainkan di areal Gunongan. Gunongan adalah bangunan penuh simbol, yang dahulu dibangun oleh Sultan Iskandar Muda sebagai ungkapan cinta kepada permaisuri kesayangannya, Putroe Phang.
Kepergiannya justru membuka babak baru. Safiatuddin, sang permaisuri, naik takhta dan menjadi ratu pertama dalam sejarah Kesultanan Aceh.
Maka Iskandar Thani, dalam diamnya, adalah jembatan sejarah: dari Aceh yang bergemuruh menuju Aceh yang merenung; dari kekuasaan maskulin penakluk menuju kepemimpinan perempuan yang bertahan. Ia bukan raja penakluk, melainkan raja peralihan—yang tugasnya bukan memperluas negeri, tetapi menjaga agar kerajaan tidak runtuh oleh luka-lukanya sendiri.
Dan barangkali, dalam sejarah Aceh, peran seperti itulah yang paling sunyi—namun paling menentukan. (Hasnanda Putra)











