NasionalNews

BMKG Minta Daerah Terdampak Banjir Sumatera Waspadai Cuaca Ekstrem

406
×

BMKG Minta Daerah Terdampak Banjir Sumatera Waspadai Cuaca Ekstrem

Sebarkan artikel ini
Kondisi jalan nasional dihantam banjir di Pidie Jaya pada 17 Desember 2025. FOTO/FB.SCREENSHOT

posaceh.com, Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan potensi cuaca ekstrem di wilayah Sumatera masih berpeluang terjadi ke depan.

Hal ini seiring dinamika atmosfer yang belum sepenuhnya stabil. Terkait kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap risiko bahaya listrik, terutama di wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Sebab, masyarakat masih dalam kondisi lingkungan basah.

Koordinator Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh Nasrol Adil, Minggu (21/12/2025) menjelaskan sejumlah faktor atmosfer masih aktif di kawasan Sumatera dan sekitarnya.

Salah satunya bibit siklon tropis yang masih dalam pemantauan, yang dapat berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan dan mempertahankan genangan air serta lumpur di berbagai wilayah terdampak.

Beberapa faktor atmosfer, termasuk bibit siklon tropis yang masih kami pantau, dapat memengaruhi pola cuaca di Sumatera. Dampaknya berupa potensi hujan lebat yang membuat kondisi lingkungan tetap basah di sejumlah wilayah,” ujarnya.

Nasrol menegaskan kondisi basah tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari pascabencana.

Genangan air dan lumpur tidak hanya berdampak pada lingkungan permukiman dan fasilitas umum, tetapi juga di lokasi-lokasi pengungsian yang masih digunakan oleh masyarakat terdampak.

Menurut Nasrol, dari sisi keselamatan, kondisi lingkungan pascabencana yang masih basah perlu diwaspadai karena air dan lumpur memiliki sifat konduktif, terutama ketika bercampur dengan material tanah, mineral, dan sisa material bangunan.

Dalam kondisi tersebut, lingkungan menjadi lebih mudah mengantarkan arus listrik dibandingkan kondisi kering, sehingga potensi bahaya bagi warga dapat meningkat apabila terjadi genangan kembali.

Kondisi ini dapat terjadi di berbagai lokasi, mulai dari permukiman, fasilitas umum, hingga area pengungsian, terutama ketika cuaca kembali memburuk dan hujan lebat menyebabkan genangan air atau lumpur meluas.

Nasrol menambahkan, potensi hujan susulan masih perlu diantisipasi karena dapat kembali memperluas genangan, terutama di wilayah dataran rendah dan daerah aliran sungai di Sumatera bagian barat dan utara.

Kondisi tersebut membuat situasi lapangan dapat berubah dengan cepat dan memerlukan kesiapsiagaan berkelanjutan. Nasrol memberikan peringatan tegas terkait risiko keselamatan warga apabila kondisi cuaca kembali memburuk. “Dalam kondisi lingkungan yang masih basah, terutama ketika terdapat genangan air dan lumpur, risiko keselamatan bisa meningkat.

Secara fisik, air dan material lumpur dapat menjadi media penghantar, sehingga apabila terjadi hujan lebat atau banjir susulan di wilayah yang sudah kembali dialiri listrik, situasinya menjadi berbahaya bagi masyarakat, termasuk di permukiman, fasilitas umum, maupun lokasi pengungsian,” tegasnya.

Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak bencana di Sumatera untuk terus memantau informasi cuaca resmi dan meningkatkan kewaspadaan, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dan kondisi lapangan dapat berubah sewaktu-waktu.(Muh/*)