Wisata

Tari Tarek Pukat, Membaca Ritme Hidup Nelayan Aceh

631
×

Tari Tarek Pukat, Membaca Ritme Hidup Nelayan Aceh

Sebarkan artikel ini
Tarek Pukat, tarian tradisional khas Aceh yang menggambarkan aktivitas nelayan saat menangkap ikan menggunakan jaring (pukat), melambangkan semangat gotong royong dan kerja sama, serta merupakan representasi budaya pesisir yang sering dipentaskan di acara adat, budaya, dan penyambutan. (Foto: Dok. Ist)

posaceh.com, Banda Aceh – Provinsi Aceh menyimpan banyak sejarah dan budaya, salah satunya adalah budaya seni tari. Tari Tarek Pukat adalah satu warisan budaya Aceh yang sangat kaya akan makna dan filosofi, tarian ini merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat pesisir Aceh, khususnya para nelayan.

Tarek yang berarti “Tarik”, dan Pukat berarti sejenis jaring yang digunakan untuk menangkap ikan. Di sadur dari dalam buku Ensiklopedia Musik dan Tari Daerah, Propinsi Daerah Istimewa Aceh (1986) oleh Firdaus Burhan, tari tarek Pukat adalah salah satu tarian tradisional asal Aceh.

Tarian ini biasanya dibawakan oleh sekelompok penari wanita yang beranggotakan 7 orang dengan menggunakan tali sebagai atribut menari, tari ini ditampilkan pada acara penyambutan, acara adat dan acara budaya.

Dalam sejarahnya tari Tarek Pukat terinspirasi dari tradisi menarik pukat atau menarik jala yang dilakukan masyarakat Aceh yang tinggal dipesisir. Pada saat menangkap ikan, mereka melepaskan jala atau pukat kelaut dan menariknya secara bergotong royong, dan hasil tangkapan akan dibagikan kepada warga yang ikut menarik pukat tadi.

Tarek Pukat berarti menarik jaring ikan, di mana penari wanita menggunakan tali sebagai properti untuk menirukan gerakan menarik jaring di laut, mencerminkan kehidupan dan semangat masyarakat Aceh pesisir. (Foto: Ant)

Nama dan gerakan dan makna dari tari Tarek Pukat antara lain:

–          Surak (berteriak). Gerakan ini memiliki simbol tentang semangat para nelayan saat mencari ikan di laut dan memberi tanda bahwa para nelayan ingin berlayar ke lautan yang luas untuk mencari ikan.

–          Meulinggang (lenggang Aceh), Meulinggang artinya berlenggang, menggambarkan suasana kemeriahan dan keceriaan masyarakat pesisir Aceh dalam aktivitas membuat pukat atau jaring.

–          Meukayoh (mendayung). Gerakan ini menggambarkan bahwa masyarakat Aceh selalu berusaha untuk tetap mencari dan pantang menyerah untuk melewati ombak lautan. Gerakan ini memberi pesan bahwa sifat dan karakter masyarakat Aceh tidak mudah menyerah.

–          Peugot pukat (buat jaring). Gerakan ini artinya membuat jaring ikan yang menggambarkan kerja sama serta menjadikan alat untuk mata pencarian masyarakat pesisir Aceh.

Tari Tarek Pukat Aceh bukan hanya sekadar tarian, tetapi juga merupakan cerminan jiwa dan semangat masyarakat Aceh. Tarian ini mengandung nilai-nilai luhur yang sangat relevan dengan kehidupan manusia, baik di masa lalu maupun masa kini, dengan memahami makna di balik tarian ini, kita dapat lebih menghargai kekayaan budaya Indonesia. (Adv)