NewsPemerintah AcehWisata

Peusijuek dalam Upacara Pernikahan: Makna Kesejukan dan Doa Restu

352
×

Peusijuek dalam Upacara Pernikahan: Makna Kesejukan dan Doa Restu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi prosesi peusijuek

Dalam kebudayaan Aceh, pernikahan bukan semata penyatuan dua individu yang berkomitmen membangun rumah tangga. Lebih dari itu, ia merupakan perjalanan sakral yang mempertemukan dua keluarga, menyambungkan tali silaturahmi, dan memperluas ikatan sosial dalam bingkai barakah. Di antara rangkaian adat yang mengiringi prosesi pernikahan, peusijuek menjadi salah satu ritual yang paling penting dan nyaris tidak pernah ditinggalkan. Tradisi ini menjadi simbol awal dari kehidupan baru pengantin, yang diharapkan senantiasa dinaungi kedamaian, kasih sayang, serta keberkahan dari Allah SWT.

Peusijuek biasanya dilaksanakan setelah akad nikah atau saat pasangan pengantin tiba di rumah mempelai, tergantung pada adat di masing-masing daerah. Prosesi ini dipimpin oleh seorang teungku, ulama, atau tokoh adat yang dihormati. Kehadiran pemimpin prosesi memiliki makna mendalam, karena doa-doa yang dibacakan diyakini membawa perlindungan dan keberkahan bagi kehidupan rumah tangga yang baru dibangun. Dengan penuh hormat, pengantin duduk bersimpuh di hadapan keluarga besar sambil menerima taburan beras dan sentuhan ramuan peusijuek yang sebelumnya telah diberkahi doa.

Ilustrasi bahan peusijuek.

Rangkaian prosesi dimulai dengan pembacaan doa keselamatan. Ayat-ayat Al-Qur’an dan doa khusus untuk rumah tangga menjadi inti dari ritual ini. Saat doa dipanjatkan, bahan-bahan peusijuek seperti beras, air, dan daun pandan atau daun teurimong digunakan. Daun yang telah dicelupkan ke dalam air suci itu kemudian disapukan secara lembut pada kepala dan bahu pengantin. Gerakan ini melambangkan harapan agar pasangan selalu berada dalam penjagaan Allah, diberi ketabahan menghadapi suka dan duka, serta dijauhkan dari segala bentuk perselisihan.

Setiap bahan dalam peusijuek memiliki simbolisme yang sarat makna. Beras, sebagai makanan pokok masyarakat Aceh dan lambang kemakmuran, dihadirkan sebagai doa untuk kelimpahan rezeki dalam rumah tangga baru. Menaburkan beras ke pengantin mengandung pesan bahwa kehidupan mereka kelak diharapkan penuh keberkahan dan kecukupan. Air menjadi simbol kesejukan dan kebersihan hati, sebuah tanda agar pasangan senantiasa menjaga keharmonisan serta mampu meredam setiap masalah dengan kepala dingin. Sementara itu, daun pandan atau daun teurimong melambangkan wewangian dan kebaikan. Kehadirannya adalah doa agar rumah tangga baru harum namanya, dipenuhi kebaikan, dan selalu membawa kenyamanan bagi siapa pun yang berada di dalamnya.

Selain mengandung nilai spiritual, peusijuek memiliki fungsi sosial yang sangat kuat. Ritual ini mempertemukan dua keluarga besar dalam suasana sakral yang diwarnai rasa kebersamaan. Peusijuek menjadi simbol penerimaan dan restu dari keluarga serta masyarakat terhadap pasangan yang menikah. Mereka yang hadir tidak hanya menyaksikan prosesi, tetapi juga mendoakan, sehingga tercipta suasana haru, hangat, dan penuh kekeluargaan. Di sinilah peusijuek bekerja sebagai perekat sosial yang menguatkan hubungan antarkeluarga.

Menariknya, tradisi peusijuek dalam pernikahan tidak hanya dilakukan kepada pengantin. Dalam beberapa wilayah Aceh, peusijuek juga dilakukan terhadap benda-benda penting yang menjadi bagian dari kehidupan baru pasangan, seperti kamar pengantin, kendaraan, atau benda-benda rumah tangga lainnya. Praktik ini menunjukkan betapa luasnya nilai filosofis di balik peusijuek, yaitu memohon keberkahan bagi segala sesuatu yang menyertai perjalanan hidup baru.

Di tengah perkembangan modern, peusijuek tetap dilestarikan oleh generasi muda Aceh. Walaupun gaya hidup terus berubah, mereka memahami bahwa tradisi ini bukan sekadar warisan, melainkan cerminan kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya doa, restu, dan kebersamaan. Melalui peusijuek, masyarakat Aceh menunjukkan bahwa pernikahan tidak hanya dirayakan dengan pesta meriah, tetapi juga dimulai dengan permohonan perlindungan dan keberkahan yang bersumber dari adat dan syariat Islam.

Pada akhirnya, peusijuek dalam upacara pernikahan menghadirkan pesan mendalam: membangun rumah tangga tidak hanya membutuhkan cinta, tetapi juga memerlukan doa, kesucian niat, dan kekuatan spiritual. Dengan simbol kesejukan dan restu yang menyertai tradisi ini, masyarakat Aceh menjaga harmoni antara adat dan iman—dua unsur yang menjadi fondasi kehidupan mereka sejak dahulu hingga kini. (Adv)