Banghas

Tangse: Lembah Beras dari Sejarah yang Bergetar

823
×

Tangse: Lembah Beras dari Sejarah yang Bergetar

Sebarkan artikel ini
Pemandangan pengunungan Tangse dengan sawah yang terhampar luas, Sabtu (1/11/2025). FOTO/ HASNANDA PUTRA

Di antara pegunungan Bukit Barisan yang berhimpitan seperti lipatan kain zamrud, terdapat sebuah lembah yang hijau dan tenang — Tangse. Dari kejauhan, hamparan sawahnya memantulkan cahaya mentari pagi seperti cermin-cermin kecil di pelukan bumi.

Tangse bukan hanya nama sebuah daerah di pedalaman Pidie; ia adalah nadi beras Aceh sejak masa kesultanan. Dalam catatan Snouck Hurgronje (De Atjehers, 1893), Tangse disebut sebagai salah satu lembah subur yang menjadi penyangga logistik kerajaan Aceh Darussalam.

Tanah yang Subur, Air yang Setia

Para petani Tangse turun ke sawah ketika kabut pagi masih menutupi lembah. Dengan kaki telanjang di lumpur, mereka menanam padi seolah sedang menulis doa di tanah. Dulu, menurut catatan Van Langen (1905), orang Tangse dikenal sebagai “kaum pekerja sawah yang makmur namun waspada,” karena daerah mereka sering menjadi jalur strategis dalam perang Belanda-Aceh. Banyak prajurit kolonial Belanda yang mencatat dalam laporan militernya betapa sulitnya menembus kawasan Tangse yang dikelilingi hutan lebat dan sungai deras.

Dalam Het Nederlandsche Gezag over Atjeh (1903) disebutkan, pasukan Belanda harus melewati jalur Tangse untuk mencapai Geumpang — sebuah misi berat yang sering gagal karena serangan mendadak dari pejuang Aceh yang menguasai medan. Mereka tidak hanya menghadapi senjata, tetapi juga daya tahan luar biasa para petani-prajurit yang berganti cangkul dengan rencong.

Ketika perang Aceh berkecamuk pada akhir abad ke-19, Tangse menjadi tempat persembunyian sekaligus dapur logistik bagi pasukan gerilya. Dalam beberapa laporan Belanda, disebutkan nama-nama ulama dan panglima yang berlindung di sekitar lembah ini, membawa semangat jihad yang membakar.

Jejak dalam Catatan Belanda

Dalam laporan De Atjehers karya Snouck Hurgronje (1893), Tangse disebut sebagai salah satu daerah yang “hidup dari sawah dan sungai, diapit gunung-gunung yang melindunginya dari dunia luar.” Snouck menulis bahwa daerah pedalaman seperti Tangse adalah contoh nyata kekuatan masyarakat Aceh dalam mengatur kehidupan agraris secara mandiri, tanpa banyak campur tangan kerajaan. Ia menulis:

> “Di antara pegunungan Pidië, terdapat lembah yang sejuk bernama Tangse, tempat orang-orang menanam padi dengan kesabaran dan keheningan yang mengagumkan. Setiap musim panen di sana, terdengar lantunan doa lebih nyaring dari bunyi cangkul.”
(Snouck Hurgronje, De Atjehers, 1893).

Sementara itu, dalam laporan militer Belanda tahun 1903 berjudul Het Nederlandsche Gezag over Atjeh, disebutkan bahwa daerah Tangse menjadi “rintangan alam dan manusia yang tangguh bagi ekspedisi militer Belanda menuju Geumpang dan Beutong.” Komandan Belanda, Mayor Van Daalen, bahkan menulis bahwa pasukannya kehilangan banyak prajurit akibat medan sulit, sungai deras, serta serangan dari arah sawah dan hutan.

> “Kami tidak melihat musuh, hanya mendengar letusan dari balik kabut padi. Tangse bukan hanya tanah, ia seperti makhluk hidup yang menolak dijajah.”
(Van Daalen Report, 1903, Arsip Kolonial Den Haag)

Tangse: Alam yang Menyembunyikan Perlawanan

Orang Aceh di Tangse memahami alam bukan sekadar tempat tinggal — tapi sekutu. Hutan mereka menjadi benteng, sungai menjadi jalur komunikasi rahasia, dan sawah menjadi tempat penyamaran. Menurut peneliti Belanda Van Langen (1905), banyak pejuang Aceh yang menggunakan ulee blang (pematang sawah) sebagai pos pengintai. Ia mencatat bahwa di Tangse, perang sering dimulai dari kabut — tanpa aba-aba, tanpa bendera.

Di masa itu, Tangse menjadi simbol perlawanan diam. Para petani kembali mencangkul di siang hari, tetapi pada malamnya bergabung dengan pasukan gerilya yang bergerak ke arah Mane dan Geumpang. Mereka dikenal bukan karena senjata modern, tetapi karena ketekunan dan keberanian menjaga tanah yang mereka cintai.

Warna Tangse Hari Ini

Kini, setelah lebih dari seabad, Tangse tetap menjaga napas lamanya: sejuk, hijau, dan tenang. Namun jika berjalan di pematang sawah saat senja, di antara kabut tipis yang turun dari gunung, seolah masih terdengar gema masa lalu — gema doa, gema perlawanan, dan gema kehidupan yang tak pernah padam.

Beras dari Tangse hari ini tetap menjadi kebanggaan. Teksturnya lembut, aromanya harum, hasil dari air yang jernih dan tanah yang kaya. Di pasar Pidie dan Banda Aceh, nama beras Tangse masih disebut dengan nada kagum — bukan hanya karena rasanya, tetapi karena sejarah yang dikandung setiap butirnya.

Dari masa kesultanan hingga kini, Tangse tetap berdiri sebagai simbol ketahanan dan keseimbangan — antara manusia, alam, dan sejarah. (Hasnanda Putra)