Banghas

Menyusuri Jejak Senyap di Anoi Itam: Sebuah Perjalanan ke Benteng Jepang Sabang

813
×

Menyusuri Jejak Senyap di Anoi Itam: Sebuah Perjalanan ke Benteng Jepang Sabang

Sebarkan artikel ini
Jalan lorong menuju Benteng Jepang Anoi Itam, Kota Sabang, beberapa waktu lalu.FOTO/ DOK BANGHAS

Langit Sabang pagi itu seperti kanvas biru yang baru dicuci hujan malam. Dari Pelabuhan Balohan, angin membawa bau garam dan petualangan. Kami melaju perlahan, menyusuri tikungan yang dibatasi tebing hijau dan riak laut yang mencuri pandang di sela-sela pepohonan. Setelah semalam bermalam di Hotel Mata Ie Resort. Tujuan kami pagi itu: Benteng Jepang Anoi Itam, saksi bisu sejarah yang berdiri di ujung barat Indonesia.

Kendaraan kami menderu pelan menapaki jalan kecil menuju benteng. Di sepanjang jalan, aroma pinus dan tanah basah berkelindan, membawa kami ke masa yang seolah membeku. Ketika akhirnya sampai, tidak ada suara—hanya desir angin yang menggesek dinding-dinding tua benteng, seperti ingin membisikkan cerita yang nyaris dilupakan.

Benteng itu sunyi, berdiri seperti luka yang tak pernah sembuh sepenuhnya. Pilar-pilar beton kokoh menyembul dari tanah, menghadap langsung ke laut Andaman yang tak pernah tidur. Lorong-lorong sempitnya seperti perut bumi yang menyimpan rahasia. Di dalamnya, hawa dingin menggigit, dan cahaya matahari hanya mampu menyelinap dari celah kecil. Setiap langkah di lorong itu seperti menyusuri waktu—tahun 1942 terasa tak sejauh yang dibayangkan.

Benteng Jepang Anoi Itam, Kota Sabang, beberapa waktu lalu.FOTO/ DOK BANGHAS

Benteng Jepang Anoi Itam dibangun sekitar tahun 1942 saat Jepang menduduki Sabang pada masa Perang Dunia II. Letaknya yang strategis di tebing menghadap Samudra Hindia menjadikannya titik penting pertahanan angkatan laut Kekaisaran Jepang. Benteng ini merupakan bagian dari sistem pertahanan yang lebih luas dilengkapi dengan lorong bawah tanah, ruang tembak meriam, dan pos pengintai.

Dalam gelapnya lorong-lorong itu, para tentara Jepang dulunya berjaga siaga, mengawasi kemungkinan serangan dari Sekutu yang bisa datang dari arah laut. Beton tebal dan arsitektur yang fungsional menunjukkan betapa tempat ini dirancang untuk bertahan, bukan untuk dikenang.

Namun, justru dalam diamnya kini, benteng ini menyimpan kisah tentang ketakutan, keberanian, dan absurditas perang yang kini bisa kami rasakan bukan sebagai bayangan, tapi sebagai ruang nyata yang masih berdiri tak bicara, tapi juga tak pernah lupa.

Kami duduk di atas batu besar menghadap laut. Ombak menggulung, memecah karang seperti dentuman waktu. Di antara canda dan diam kami, ada rasa takjub: bahwa tempat ini dulu bukan hanya panorama indah, tapi juga medan bertahan hidup, tempat tentara Jepang menanti musuh dari ujung samudra.

Lalu, seseorang di antara kami merekam momen itu—bukan sekadar gambar, tapi perasaan. Kamera menangkap gelak, tatap penuh arti, dan benteng yang berdiri setia dalam keheningan. Seolah berkata: sejarah bukan hanya catatan, tapi pengalaman yang bisa diraba, dirasa, dan disimpan dalam dada.

Saat matahari turun perlahan ke cakrawala, kami meninggalkan benteng itu dengan langkah pelan. Tak ada yang bicara banyak. Mungkin karena kami tahu, tak semua perjalanan harus diakhiri dengan kata-kata. Ada perjalanan yang cukup disimpan sebagai nyala kecil dalam ingatan, seperti benteng tua itu—hening, kokoh, dan tak tergantikan. (Hasnanda Putra)