Internasional

Rusia Ambil Sikap Hati-Hati Atas Kesepakatan Gencatan Senjata Hamas-Israel

967
×

Rusia Ambil Sikap Hati-Hati Atas Kesepakatan Gencatan Senjata Hamas-Israel

Sebarkan artikel ini
Ribuan warga Jalur Gaza, Palestina turun ke jalan untuk menyambut dengan gembira atas kesepakatan gencatan senjata Hamas dengan Israel di Gaza, Rabu (15/1/2025) malam. FOTO/REUTERS

posaceh.com, Moskow – Pemerintah Rusia tetap berhati-hati atas kesepakatan gencatan senjata Hamas-Israel dengan harapan dapat mewujudkan perdamaian jangka panjang. Bahkan, harus dapat menciptakan kondisi untuk penyelesaian politik yang komprehensif antara Israel dan Palestina.

Pernyataan ini muncul setelah Qatar, sebagai mediator utama, mengumumkan bahwa Israel dan gerakan Islam Palestina Hamas telah menyetujui gencatan senjata di Gaza yang akan dimulai pada hari Minggu (129/1/2025), disertai dengan pertukaran sandera dan tahanan setelah lebih dari 15 bulan konflik.

Dilansir AFP, Kamis (16/1/2025), Kremlin mengatakan pihaknya menyambut baik kesepakatan tersebut, meskipun menunjukkan sikap hati-hati setelah tuduhan Israel bahwa Hamas mundur dari kesepakatan yang rapuh ini.

“Setiap penyelesaian yang mengarah pada gencatan senjata, mengakhiri penderitaan rakyat Gaza, dan meningkatkan keamanan Israel hanya bisa disambut,” kata juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov. “Tetapi mari kita tunggu finalisasi dari proses tersebut,” tambahnya.

Juru bicara kementerian luar negeri, Maria Zakharova, mengatakan kepada wartawan bahwa kesepakatan tersebut adalah “langkah praktis penting menuju stabilisasi jangka panjang di zona konfrontasi Palestina-Israel”.

Dia juga berharap bahwa ini dapat menjadi dasar bagi “pembentukan proses penyelesaian politik yang komprehensif atas masalah Palestina.” Sebelumnya, mediator utama, Qatar, pada Rabu (15/1/2025) mengatakan bahwa Israel dan Hamas telah menyetujui gencatan senjata di Gaza yang akan dimulai pada Minggu (19/1/2025), bersama dengan pertukaran sandera dan tahanan setelah lebih dari 15 bulan perang.

Amerika Serikat juga mengumumkan kesepakatan tersebut, yang sebagian besar mereproduksi kerangka kerja dari cetak biru yang dipresentasikan oleh Presiden Joe Biden pada Mei 2024.

Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, Perdana Menteri Qatar, mengatakan bahwa 33 sandera Israel akan dibebaskan pada fase pertama kesepakatan yang berlangsung selama 42 hari.(Muh/*)