posaceh.com, Banda Aceh – Pasangan calon (paslon) Muzakkir Manaf alias Mualem menegaskan akan menghancurkan mafia pertambangan yang beroperasi di seluruh wilayah Aceh.
Hal itu disampaikannya dalam kata penutup debat kedua paslon cagub dan cawagub Aceh dengan moderator, Romy Zuliansyah dan Ida Almaddany di The Pade Hotel, Lampeneurut, Darul Imarah, Aceh Besar Jumat (1/11/2024) malam.
Debat yang berlangsung seru dan berimbang itu berjalan hampir dua jam, dari pukul 20.00 WIB sampai 22.00 WIB dengan paslon no urut 1, Bustami Hamzah-Fadhil Rahmi. Persoalan pertambangan dan invsstasi, serta layanan kesehatan menjadi perdebatan utama yang sama-sama mengklaim gagasan masing-masing.
Namun, persoalan mafia pertambangan mendapat perhatian tinggi dari Ketua Partai Aceh, Mualem yang tidak menginginkan alam dikuras, tetapi tidak memberi manfaat kepada Negeri Serambi Mekkah ini. “Tambang itu harus dilihat, apakah penting atau tidak dan yang utama, berapa banyak untuk Aceh,” jelasnya.
Dia menegaskan jika hanya merambah hutan dan menimbulkan hal-hal negatif kepada rakyat, maka tidak ada gunanya. Dia mencontohkan, seperti tambang emas yang menggunakan merkuri, jelas-jelas merugikan rakyat Aceh di masa mendatang.
“Pengawasan terhadap pertambangan harus diperketat,” tegasnya. Ditambahkan, jika tidak sinergi dengan pemerintah daerah, tidak sesuai dengan peraturan atau mencemarkan udara dan alam, maka lebih baik ditutup saja.
“Kalau tidak juga, tutup saja semuanya,” tambahnya. Namun, wakilnya, Dek Fadh menambahkan pihaknya tetap komit untuk menjaga investor masuk ke Aceh dengan mempermudah perizinan, kepastian hukum, keamanan dan kenyamanan dalam berinvestasi di bumi Serambi Mekkah ini.
Dek Fadh menegaskan untuk mempermudah perizinan untuk investor, maka perizinan akan dibuat satu atap, karena semuanya hal akan dipermudah. “Tetapi, kami akan tetap menjaga hutan sesuai dengan tema kita keberlanjutan tentang menjaga hutan, demi anak cucu kita,” ujarnya.
Disebutkan, perizinan akan diberi dengan mudah untuk invesor tambang, tetapi pimpinan akan memastikan terlebih dahulu, seluruh proses sesuai ketentuan dan aturan yang berlaku atau tidak.
Sementara itu, Muzakkir Manaf hanya menyampaikan closing statement atau kata penutup melalui pantun singkat. “Cantik selendang putri Melayu, menata bunga di atas dandang, rakyat Aceh bersatu padu, kita hancurkan mafia tambang.”(Muh)











