* Sejarahnya Belanda Datangkan Buruh darinLuar Aceh
posaceh.com, Banda Aceh – Harga getah karet di Provinsi Aceh masih berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogram, harga tersebut tergantung kualitas yang dihasilkan. Kualitas karet sangat tergantung dari cuaca yang saat ini sangat ekstrem akibat pengaruh La-Nina dan Elnino.
Aceh memiliki lahan pohon karet terbatas, seperti di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Aceh Barat, seiring pertumbuhan perkebunan kelapa sawit yang sangat luar biasa. Masyarakat di tiga kabupaten tersebut dan puluhan kabupaten lainnya diAceh terus mengembangkan kelapa sawit secara massif yang dinilai memiliki prospek lebih cerah dibandingkan pohon karet.
Untuk harga getah karet di Aceh Timur dalam tiga bulan terakhir ini sudah membaik, dari Rp 10.300 sampai Rp 11.000 per kg atau tergantung kualitas. Abdul Kadir, salah seorang perangkat desa di Ranto Peurelak, Aceh Timur, Senin (7/10/2024) malam mengatakan harga karet sudah baik, tetapi area lahan karet sudah terbatas.
Dia mengatakan para petani di wilayah ini lebih banyak menanam kelapa sawit dibandingkan pohon karet, karena hampir seluruh area perkebunan ditanami kelapa sawit, hanya sedikit untuk pohon karet. Dia mengakui menanam pohon sawit lebih menguntungkan dibandingkan pohon karet, apalagi, harganya tanda buah segar sudah mencapai Rp 2.000-an per kg.
Apalagi, katanya, tanaman sawit tidak terlalu dipusingkan dibandingkan pohon karet yang sangat tergantung dari kondisi cuaca. “Kalau musim hujan, mutu getah karet kurang baik, tetapi untuk sawit tidak ada pengaruhnya,” katanya.
Sejarah Perkebunan Karet
Dari era penjajahan Belanda sampai 1990-an, pohon karet memenuhi area ketiga kabupaten, khususnya Aceh Timur. Perkebunan karet di Aceh Timur pernah menggunakan buruh dari luar daerah, seperti Jawa hingga Tiongkok.
Masuknya bisnis kebun karet ini tak lepas dari penjajah Belanda yang melihat potensi besar, jika komoditas yang satu ini dikembangkan lebih lanjut. Seiring berjalannya waktu, perkebunan karet di Aceh Timur semakin meluas, seperti dikutip dari Merdeka.com.
Beberapa lahan secara mutlak dikuasai bangsa barat atau orang kulit putih. Mengutip buku “Mengadu Nasib di Kebun Karet: Kehidupan Buruh Onderneming Karet di Aceh Timur, 1907-1939” karya Mawardi Umar (2015), kebanyakan orang kulit putih di perkebunan Aceh Timur mayoritas menggeluti bidang pekerja administrasi di perkebunan atau di pabrik sebagai teknisi.
Hampir seluruh perkebunan yang ada di Sumatra Timur hingga Aceh, memiliki banyak kuli yang didatangkan dari luar pulau. Mayoritas hampir dari Pulau Jawa dan beberapa lagi ada yang dari Tiongkok bahkan India. Kelas pekerja di sektor pertanian pada awal abad ke-20 khususnya dari luar Jawa sebagian besar mengadu nasib di perkebunan karet.
Mereka ini sangatlah penting untuk pengembangan perkebunan karet dan tentunya bisa menghasilkan komoditi yang berkualitas. Ketika pembukaan perkebunan karet di Langsa, Gubernur Sipil dan Militer bernama van Daalen sudah berencana merekrut para pekerja dari masyarakat lokal. Tujuannya agar terbentuknya sikap anti terhadap pemerintah kolonial.
Wacana ini gagal lantaran masyarakat lokal sudah memiliki penghasilan sendiri dari perkebunan lada, jauh sebelum datangnya komoditas karet. Mereka pun enggan menjadi buruh karena pekerjaan di perkebunan sangatlah berat.
Tak hanya itu, mereka juga cenderung memilih menjadi petani atau nelayan karena lebih bebas dan dianggap lebih ringan. Secara politik, masyarakat Aceh masih terpengaruh dalam perang sabil melawan Belanda.
Sedikitnya tenaga kerja lokal untuk sektor perkebunan karet mengakibatkan perusahaan memilih mendatangkan pekerja dari luar daerah. Memang, saat itu kuli Jawa cukup dicari oleh perusahaan swasta sebagai pekerja perkebunan.
Perkembangan perkebunan karet ini juga bertepatan dengan penggunaan buruh-buruh di luar Jawa dari buruh Cina ke buruh Jawa. Ada beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya perubahan buruh, salah satunya larangan pemerintah Tiongkok untuk merekrut warganya menjadi buruh.
Pada tahun 1910, telah didatangkan buruh Jawa ke Aceh Timur sebanyak 858 orang. Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada Perang Dunia I, jumlah buruh meningkat menjadi 7.869 orang. Pada tahun 1917, jumlah imigran Aceh terus melonjak tajam.
Diperkirakan sudah mencapai angka 14.000 orang dan dalam satu dekade, menjadi 20.000 orang. Pada puncaknya, pekerja buruh di Aceh sudah mencapai 30.000 orang. Pada praktiknya, pekerja buruh di perkebunan karet tak jauh berbeda dengan pekerja yang ada di perkebunan lainnya terutama di Sumatera Timur.
Mereka bisa bekerja lebih dari 12 jam dan sangat memberatkan fisik para buruh. Mereka biasanya menyadap getah selama 5 jam, mengurus pohon karet muda selama 3 jam, dan mengolah lateks menjadi bahan karet yang memakan waktu 5 jam.(Muh)











